Kezia Story

Kezia Story
BAB 66



Jun Ho dan Mey Yui menikmati kebersamaan mereka. Di sepanjang jalan mereka bercanda, tak ada satu orang pun yang mengetahui jika pria penyayang itu adalah jenderal perang Jun Ho yang terkenal kejam dan berdarah dingin.


Hanya dengan putrinya saja, ia bisa bersikap layaknya ayah yang sangat menyayangi putrinya dengan mengajak jalan-jalan bersama, bercanda. Jun Ho membelikan pakaian yang sangat banyak kepada Mey Yui. Meski awalnya Mey Yui menolak, namun Jun Ho tetap kekeh memborong pakaian wanita, perhiasan peralatan kecantikan.


Semua barang yang di beli akan di kirim langsung ke kediaman. Jun Ho ingin putrinya tampil layaknya seorang putri pejabat. Sebenarnya Jun Ho ingin membelikan pakaian untuk acara pesta penyambutannya di istana, namun Mey Yui tidak mau. Dengan alasan ia sudah memiliki pakaian yang bagus yang tidak akan mengecewakan ayahnya.


Jun Ho hanya pasrah dengan keinginan anaknya. Setelah mereka menikmati jalan-jalan dan berbelanja mereka pun kembali ke kediaman.


*********


Hari telah berganti, Phu-phu dan kelima gadis sangat heboh mempersiapkan penampilan Mey Yui untuk acara pesta penyambutan ayahnya di istana.


Hal itu membuat Mey Yui sakit kepala, dan merasa gemas dengan mereka. Phu-phu berdebat dengan Li Li mengenai riasan wajah dan tatanan rambut Mey Yui, membuatnya stres.


“Kalian ini kenapa berdebat? Kalian mau merias wajahku seperti apa? Mau meriasku seperti ondel-ondel? Apakah kalian lupa percuma saja kalian merias wajahku, nantinya juga tidak akan di lihat orang. Aku menggunakan cadar, ucap Mey Yui dengan santai.


Phu-phu dan Li Li sadar jika percuma saja mereka berdebat dan akhirnya mereka tertawa menyadari kebodohan mereka.


“Sekarang baru sadar? Sudah biar aku yang merias wajahku, tolong kalian tata rambutku. Aku tak mau menggunakan perhiasan di rambut yang bisa membuat leherku patah gara-gara terlalu berat menahan beban di kepala. Tata rambutku dengan sederhana,” ucap Mey Yui.


Phu-phu dan Li Li saling pandang dan kemudian mereka menganggukkan kepala. Phu-phu yang ahli dalam menata rambut, menghampiri Mey Yui dan menata rambutnya dengan di bantu oleh Li Li.


Setelah tatanan rambut selesai Mey Yui merias wajahnya dengan peralatan kosmetik dari jaman modern yang ia ambil dari ruang dimensinya dan tak lupa pakaian hanfu di padu dengan design jaman modern yang sangat indah. Tampilan sederhana namun sangat memukau.


Para gadis sangat terpesona melihat tampilan nona mudanya yang sangat cantik dan memesona. Sangat disayangkan jika keindahan tersebut harus di tutup dengan cadar.


“Hallooo....! Kenapa kalian pada bengong? Apakah penampilanku seperti ondel-ondel? Atau mungkin seperti wayang golek?” tanya Mey Yui sambil bercermin. Sebenarnya dia malas merias diri, hanya karena terpaksa saja ia melakukannya.


Para gadis menggelengkan kepalanya, kemudian Phu-phu dan Li Lan berkata,” nona sangat cantik sekali tapi sayang jika kecantikan nona harus di tutupi dengan cadar.”


“Aku sudah nyaman dan terbiasa menggunakan cadar, dan kau Li Lan! Jika kak Yuan mengetahui kalian menyayangkan aku menggunakan cadar bagaimana reaksinya,” goda Mey Yui.


“Ampun nona jangan memberitahu tuan, jika sampai tuan mengetahuinya maka hamba pasti akan mati!” ucap Li Lan yang spontan bersujud dan menangis


Mey Yui sangat terkejut dengan reaksi Li Lan yang di luar dugaan.


“Hai... hentikan! Aku hanya bercanda, dengarkan aku! Kalian sekarang sudah di berikan padaku, kak Yuan tidak akan bisa membunuhmu hanya dengan hal sepele asakkan kalian setia. Tapi jika salah satu di antara kalian berkhianat maka aku sendiri yang akan menghabisi nyawa kalian,” ucap Mey Yui dengan tegas.


Mereka berlima serempak membungkuk memberi hormat.


“Hamba mengerti nona,” jawab mereka serentak


Mey Yui menggunakan cadarnya dan keluar dari kediamannya. Di luar sudah ada A Wen yang sedang menunggu nona mudanya.


“Paman A Wen sudah lama menungguku?” tanya Mey Yui.


“Ayo paman, kita segera berangkat! Kasihan ayah menunggu lama,” jawab Mey Yui sambil berjalan mendahului A Wen dan para gadis mengikutinya dari belakang.


“Berasa seperti mau ikut karnaval saja, jalan dengan iringan banyak orang,” batin Mey Yui sambil senyum-senyum sendiri.


Dari kejauhan nampak selir Chu Min yang telah di bebaskan dari hukumannya dan Mey Fang yang berdiri di samping selir Chu Min. Ekspresi mereka sedang kesal karena harus menunggu Mey Yui.


“Maafkan Yui’er datang terlambat, ayah!” ucap Mey Yui kepada ayahnya sambil membungkuk memberi hormat.


“Tidak masalah, ayah juga baru datang!” ucap Jun Ho.


Mey Fang sangat iri dengan pakaian yang di gunakan Mey Yui, ia pikir pakaian yang telah di kenakan oleh Mey Yui adalah pemberian dari ayahnya. Kemarin ia mendengar kabar dari pelayannya jika ayahnya pergi dengan Mey Yui dan membeli banyak barang yang di kirim ke kediaman.


Jun Ho mengajak Mey Yui menggunakan keretanya. Ia ingin menikmati kebersamaan dengan putrinya selama ia pulang ke rumah dan jika ia bisa menemani putrinya.


Saat mereka akan berangkat dan menuju kereta kuda yang sudah siap di gerbang kediaman. Selir Chu Min menyelonong masuk ke kereta kuda Jun Ho. Melihat tingkah selirnya yang tidak sopan, Jun Ho mengepalkan tangannya menahan marah.


“Apa yang kau lakukan Chu Min!” bentak Jun Ho.


“Hamba juga ingin bersama tuan, hamba adalah istri tuan,” jawab selir Chu Min dengan percaya diri. Dia merasa jika dirinya berhak bersama suaminya. Karena hanya dia yang mendampingi suaminya.


“Dasar tak tau malu dan tak tahu diri! Siapa yang bilang kamu adalah istriku? Kamu hanyalah selir, ingatlah statusmu! Keluar dari kereta ini! Gunakanlah keretamu sendiri,” bentak Jun Ho marah kepada selir Chu Min.


“Sungguh tega sekali, tuan kepada hamba. Kenapa anak j*l*ng ini boleh bersama di kereta tuan! Harusnya dia tidak duduk di sini,” teriak selir Chu Min kalap. Dia merasa malu di usir oleh Jun Ho.


“Kau membandingkan dengan putri sahku! Dasar wanita tua gila! Keluar dari sini dan gunakan kereta kudamu sendiri atau jangan ikut masuk ke istana! Aku membebaskanmu dari hukuman karena putriku yang menyuruhku! Jangan besar kepala dan tak tahu berterima kasih!” bentak Jun Ho yang sudah emosi.


Mau tak mau selir Chu Min turun dari kereta kuda Jun Ho. Ia menyadari kesalahannya dan menyadari posisinya. Jika dia hanyalah seorang selir yang tidak memiliki hak untuk duduk bersama suaminya bahkan putrinya tidak boleh memanggilnya dengan sebutan ibu.


Setelah selir Chu Min turun dari kereta, Mey Yui mengelus-elus pundak ayahnya untuk menenangkannya.


“Sudahlah ayah! Jangan terbawa emosi, nanti ayah rugi sendiri! Jangan biarkan selir Chu Min mempengaruhi emosi ayah. Nanti ayah jadi tambah tua dan mengurangi ketampanan kekasih pertamaku ini,” bujuk Mey Yui kepada ayahnya.


Serasa air dingin yang menyirami pikirannya, Jun Ho tersenyum dan mengelus kepala Mey Yui.


“Putri ayah sangat pandai menenangkan emosi ayah. Ayah tidak ingin ketampanan kekasih pertama putri ayah hilang gara-gara wanita tua itu! Ayah akan menjaga emosi,” ucap Jun Ho dengan lembut.


“Na... itu baru kekasih pertama Yui’er,” balas Mey Yui dengan manja.


Kereta kuda mulai melaju beriringan menuju ke istana kerajaan Tang.


"Terima kasih telah mampir membaca dan jangan lupa like dan komen.🙏🙏🙏