
Setelah Mereka menyelesaikan makan siang, Jun Ho merebahkan tubuhnya di kursi malas yang ada di ruang tamu ruang dimensi Mey Yui. Putrinya menyiapkan kursi malas untuknya agar ia merasa nyaman dan lukanya tidak tertekan saat ia duduk terlalu lama.
Jun Ho sangat takjub dengan bangunan yang ia tinggali di ruang dimensi putrinya. Perabotan dan desain serta penataannya sangat bagus. Seumur hidupnya belum pernah melihat perabotan tersebut.
“Ruang dimensimu ini sangat indah dan bagus. Ayah ingin mengajak Wen An ke sini agar dia merasakan empuknya duduk di kursimu. Wen An pasti akan senang,” ucap Jun Ho sambil membayangkan keterkejutan sahabatnya.
“Nanti Yui’er akan mengajak ayah kedua ke sini. Saat Ayah terluka parah dan kondisi ayah sangat kritis, Yui’er minta ijin kepada ayah kedua untuk membawa ayah ke ruang dimensi. Ayah kedua juga sangat terkejut,” jawab Mey Yui.
Jun Ho tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia bisa menebak sahabatnya pasti sangat terkejut dan terbengong-bengong.
“Sekarang ceritakan kondisi ayah, selama ini ayah tidak merasakan efek dari racun ganas yang Yui’er ucapkan,” ucap Jun Ho.
“Tentu saja ayah tidak akan merasakan efek yang mencurigakan pada tubuh ayah. Karena efek itu seperti normal, padahal itu efek dari racun ganas yang sedang menggerogoti organ dalam ayah.”
“Selama ini ayah pasti mengira jika itu hal yang wajar karena sudah berumur pasti merasakan sering lelah jika terlalu capek ayah pasti sesak napas, sakit batuk, pilek. Bahkan seluruh tulang ayah ngilu dan sakit saat suhu udara dingin, emosi ayah sangat tinggi.”
“Jika sudah emosi dada ayah akan merasakan sakit dan sesak,” jelas Mey Yui kepada Jun Ho.
“Ternyata seperti itu, pantas jika ayah tidak merasakannya!” jawab Jun Ho.
“Tidak hanya itu, ayah...! Ayah mengalami kemacetan dalam berkultivasi. Kultivasi ayah hanya di ranah dewa tingkat 9 dan tidak bisa naik ke Immortal. Hal itu di sebabkan oleh racun yang bersarang di dalam tubuh ayah,” jelas Mey Yui.
“Putriku sangat hebat bisa mengetahui semuanya, apakah putri kecil ayah sudah bisa berkultivasi?” tanya Jun Ho sangat bangga kepada Mey Yui
“Yui’er sudah bisa berkultivasi, ayah! Saat tidak bisa berkultivasi dan wajah Yui’er jelek itu di sebabkan racun, ayah!” ucap Mey Yui.
“Jadi putri ayah juga di racuni! B*deb*h! Siapa yang berani meracuni kita semua! Aku tidak akan mengampuninya!” jawab Jun Ho geram.
“Ayah ingat.... jangan emosi, ayah harus jaga emosi ayah dulu. Masih ada sisa racun yang belum bisa keluar. Setelah luka ayah sembuh, ayah harus membersihkan sisa racun dengan berendam di kolam air surgawi. Kemudian ayah berkultivasi agar bisa naik ke ranah Immortal,” ucap Mey Yui.
“Baiklah! Ayah akan menuruti nasihat putri kecil ayah,” jawab Jun Ho.
“Nanti jika Yui’er membawa ayah ke dua ke sini, Yui’er juga akan mendetok racun yang bersarang pada tubuh ayah kedua. Dan Yui’er akan menceritakan siapa dalang yang telah meracuni kedua ayah Yui’er,” ucap Mey Yui.
“Wen An juga kena racun yang sama seperti ayah?” tanya Jun Ho terkejut.
Mey Yui menganggukkan kepalanya dan berkata,” iya, ayah.”
“Lebih baik kamu jemput ayah keduamu agar segera kamu obati. Ayah yakin dia pasti sangat mengawatirkan dengan kita. Ayah akan menunggumu di sini,” ucap Jun Ho yang sangat kuatir dengan kondisi sahabatnya yang sudah seperti adiknya kandungnya.
“Ayah tunggu di sini biar di temani oleh Mio-mio dan Yuyu. Xio-xio harus berlatih jangan bermalas-malasan. Nanti ibu tidak akan mengajak Xio-xio keluar jika belum kuat,” balas Mey Yui dan ia menyuruh Xio-xio untuk berlatih.
Xio-xio yang takut tidak diajak keluar dimensi, dia langsung melompat ke arah Mey Yui minta di gendong.
“Ibu.. ibu.. Xio-xio akan lebih rajin berlatih bersama kak Mio-mio. Jangan tinggalkan Xio-xio sendirian di ruang dimensi,” rayu Xio-xio.
“Jika kamu berlatih dengan giat dan kamu sudah kuat kamu dan Mio-mio bisa keluar dari ruang dimensi ini,” ucap Mey Yui.
“Xio-xio akan patuh, ibu!” jawab Xio-xio.
Mio-mio hanya menganggukkan kepalanya dan mengesekkan badannya ke kaki Mey Yui.
Mey Yui pamit kepada ayahnya untuk menjeput ayah angkatnya. Ia pun meninggalkan ruang dimensi dan kembali ke dunia nyata. Mey Yui kembali di gerbong kereta kudanya, ternyata rombongan masih belum sampai di perbatasan.
Kereta kuda melaju dengan kencang, seluruh badan Mey Yui terguncang dan membuat kepalanya terbentur dinding kereta.
“Sialan... jika ke jedot terus lama-lama kepalaku benjol semua. Seperti di sengat lebah, kuda gak ada sopan-sopannya. Lari kencang sekali, sudah tahu membawa gerbong masih saja kencang larinya,” ucap Mey Yui sambil mengelus-ngelus kepalanya yang ke jedot.
Laju kuda seperti di paksa lari dengan kencang agar cepat sampai ke perbatasan. Perut Mey Yui sangat mual dan ingin muntah dan kepalanya pusing, tubuhnya goyang-goyang terus.
“Aku tidak pernah mabuk naik kendaraan saat di jaman modern. Baru kali ini aku merasakan mabuk naik kereta kuda. Sungguh memalukan jika ada yang mengetahui aku mabuk dan muntah-muntah. Ini gak bisa di biarkan, alu harus mencari ayah Wen An,” gumam Mey Yui.
Kemudian ia membuka tirai jendela gerbong kereta kuda dan pandangannya mencari-cari sosok ayah angkatnya.
Saat kepalanya mengintip keluar jendela, ada prajurit yang berada di belakang keretanya, datang menghampirinya mendekatkan kuda yang di tungganginya untuk bertanya.
“Salam hormat, nona! Apakah nona memerlukan sesuatu?” tanya prajurit dengan sopan.
Mey Yui tersenyum melihat prajurit yang menghampirinya. Ia merasa sang penyelamat datang menghampirinya. Ia menganggukkan kepalanya.
“Aku ingin mencari ayah Wen An, apakah kamu bisa memanggilkan ayah Wen An? Aku minta tolong, bantu aku memanggilkan ayah Wen An,” jawab Mey Yui kepada prajurit tersebut.
Prajurit tersebut tersenyum dan memberi hormat. Ia sangat senang karena Mey Yui sangat menghargai dirinya. Cara menyuruhnya sangat sopan, baru kali ini dirinya di perlakukan seperti ini.
“Hamba akan memanggilkan tuan Wen An, nona!” ucap Prajurit tersebut.
Namun sebelum prajurit melajukan kudanya, Mey Yui bertanya lagi.
“Paman...! Apakah perjalanan ke perbatasan masih membutuhkan waktu lebih lama lagi?” tanya Mey Yui dengan sedikit cemas. Karena ia sudah tak tahan lagi duduk di gerbong keretanya.
“Jarak tidak jauh lagi, nona. Tuan Wen An mempercepat perjalanan kita agar segera sampai ke perbatasan. Banyak prajurit yang terluka dan memerlukan perawatan dengan cepat,” jawab prajurit tersebut.
“Pantas saja tubuhku rasanya seperti di lempar ke sana kemari,” ucapnya dalam hati.
“Paman berapa banyak prajurit yang terluka? Apakah luka mereka akibat dari senjata musuh?” tanya Mey Yui.
“Benar nona, ada 20 orang prajurit yang terluka sayat yang sangat dalam. Untuk racun yang mengenai mereka sudah di netralkan oleh pil yang nona berikan,” jawab prajurit tersebut.
“Baiklah! Tolong bantu aku! Panggilkan ayah Wen An, paman!” ucap Mey Yui.
Prajurit memberi hormat dan mengentakkan kakinya ke perut kuda. Kuda pun melesat meninggalkan kereta yang di tumpangi oleh Mey Yui.
*****
Terima kasih sudah mampir dan setia membaca novel perdanaku.
Jangan Lupa Like dan komentarnya🙏🙏🙏