
Tak terasa mereka bertiga hampir memasuki pinggiran hutan dekat kota tempat kediaman Jenderal Lie Jun Ho. Mereka berencana berpisah setelah masuk ke kota dan menuju ke kediaman.
“Kak, kita sudah hampir memasuki kota, setelah masuk kota lebih baik kita pergi mencari penginapan dan berpisah,” ucap Mey Yui.
“Terserah kamu saja!” jawab Ming Se
“Ya, lebih baik cari penginapan untuk beristirahat sejenak. Kamu pasti sudah capek, dek,” sahut A Sen.
“Baiklah kita cari penginapan dulu, tapi wajah kalian harus ditutupi dulu. gunakan ini,” ucap Mey Yui sambil memberikan Topi caping yang dikeluarkan dari cincin ruang penyimpanan.
Begitu melihat caping itu, A Sen tertawa terbahak-bahak.
“hahaha…!“
“Aku harus pakai caping ini, dek? Kamu mau nyuruh aku membajak di sawah dengan memakai caping ini biar tidak kepanasan! Hahaha… tawa A Sen tak berhenti sambil membolak balik caping tersebut.
“Kak A Sen…! Udah deh mulai…! Jangan banyak komen…! Kalian harus menyembunyikan wajah dulu untuk menghindari kewaspadaan musuh!” ucap Mey Yui dengan ketus.
“Nasib… nasib.. ganteng-ganteng harus pakai caping pak tani yang mau membajak sawah,” ucapnya
“Caping ini ada kain penutupnya dan tidak akan memperlihatkan wajah kakak yang ganteng. Lagian di jaman ini cowok pakai caping dengan kain penutup itu keren, tau! Pasti banyak gadis tergila-gila sama kakak. Nanti kita buktikan saat kita masuk kota.. pasti banyak gadis tergila-gila sama kakak… Saking tergila-gilanya sama kakak… Mereka akan teriakin kakak… GILA… GILA… Hahahaha,” Mey Yui tidak bisa menahan tawa..
Sementara A Sen yang awalnya merasa melambung tinggi dengan ucapan Mey Yui yang mengatakan banyak gadis tergila-gila padanya. Jatuh juga dia dari ketinggian.
“Dasar anak nakal! Puas.. Puas kamu…!” ucap A Sen kesal.
Ming Se hanya tertawa tidak banyak bicara, ia sudah paham dengan mereka berdua. Seperti tom and jerry jika bertemu. Ia langsung memakai caping dan berjalan meninggalkan mereka berdua yang masih saling meledek.
“Kalian jalan apa masih mau bertengkar di situ?” tanya Ming Se menghentikan perdebatan mereka.
“Tunggu, kak! Aku ikut kakak, biarin saja cowok gila bercaping!” ucap Mey Yui sambil lari meninggalkan A Se.
“Jangan lari kamu anak nakal, ganteng-ganteng gini dibilang gila! Untung adek kesayangan kalau tidak aku karungi terus aku lempar ke laut biar dimakan ikan hui,” omel Asen.
Akhirnya A sen ikut menyusul juga, dalam perjalanan memasuki gerbang kota A Sen mengomel terus.
“Kamu bisa diam apa gak sih, kak? Ini sudah melewati gerbang dan kita akan memasuki kota. Kamu mau mengetes dan membuktikan apa yang aku katakan tadi?” ucap Mey Yui
“Diam kamu anak nakal! Aku mau lihat gadis-gadis jaman kuno ini bagaimana wajah dan penampilannya. Apakah wajah mereka putih bersih dan natural tanpa menggunakan kosmetik seperti ondel-ondel yang ada di rumah kalian?” kata A sen.
“Aku juga penasaran, kak! Selama aku di sini hanya bertemu dengan pelayan setiaku yang bernama Phu-phu dan beberapa pelayan di kediaman. Phu-phu cantik alami, kalo di permak sedikit seperti Zhao Liying teman-teman mu kuliah dulu lewat, kak” ucap Mey Yui promosi kecantikan pelayan setianya.
“Masa..? Pelayan setiamu sangat cantik?” tanya A Sen sambil melirik Ming Se
“Kenapa kamu melirik ku? Takut kalah saingan?” ucap Ming Se kepedean
“Siapa takut? Sori saja ya.. Penerima gelar cowok paling ganteng di jaman kuno ini pasti jatuh di tangan A Sen,” jawabnya sambil menepuk dadanya.
“Kak A Sen, Pede jangan di gas pol…! Ntar kalo ada lubang terjungkal, nyosor lalu jontor tu bibirnya. Hilang sudah ketampananmu!” sela Mey Yui.
“Kalian benar-benar kakak beradik yang sangat kompak kalo membully orang!” balas A Sen.
“Bukannya kakak sendiri yang kepedean? emang yang ganteng di jaman kuno ini hanya kakak? Coba lihat kak Ming Se? Ganteng, kan? Aku juga pernah mendengar kalau para pangeran dari kerajaan Tang dan kerajaan Li ganteng-ganteng. Hanya saja aku belum pernah melihat wajah para pangeran,” ucap Mey Yui.
“Bukannya kamu sudah dijodohkan dengan pangeran ke 3 dari kerajaan Tang?” ucap A Sen
“Iya juga.. ya.. Aku sampai lupa sudah punya tunangan? Hahaha.. Mey yui tertawa.
“Tapi aku belum pernah melihat wajahnya dan aku gak mau di jodohkan, kak,” rengek Mey Yui
“Kamu jangan kuatir sepertinya perjodohan nggak akan berlangsung lama. Bukannya ondel-ondel yang di rumah jauh cinta dengan tunanganmu?” ucap A Sen
“Benar juga! kita tidak perlu mencari cara untuk membatalkan pernikahan kamu, dek. Aku yakin pasti ondel-ondel dan emaknya pasti mencari cari untuk membatalkan pertunangan. Lebih baik kita menunggu hasilnya saja,” jelas Ming Se.
“Ya, benar! Aku akan menunggu mereka beraksi,” jawab Mey Yui.
“Kak, aku nggak mau dijodoh-jodohkan. Jaman ini anak gadis usia 15-16 sudah di nikahkan, aku nggak mau, kak,” rengek Mey Yui
“Lha terus gimana? Kalo yang dijodohkan kamu seperti Xu Zhibin pilot kesayanganmu, apakah kamu mau menolaknya?” goda A Sen.
A Sen langsung tersadar jika wajah Xu Zhibin mirip dengan Ardi, ia pun diam tak melanjutkan pembicaraan. Melihat mata Mey Yui berkaca-kaca, ia merasa bersalah.
“Sudah.. jangan membahas mengenai perjodohan ataupun pernikahan, kita lanjutkan mencari penginapan,” ucap Ming Se mengalihkan suasana yang nggak nyaman.
Akhirnya mereka mencari penginapan yang akan mereka gunakan sementara waktu.
Mereka menemukan penginapan yang lumayan bagus dan bersih, setelah mereka memesan kamar dan Ming Se dan a Sen mengantar Mey Yui ke kamarnya terlebih dulu karena kamar Mey Yui berbeda lantai dengan mereka berdua.
“Dek, kamu istirahat dulu. kalau kamu sudah santai datanglah ke kamar kakak kita makan bersama” ucap Ming se
Setelah Mey Yui masuk dan menutup pintu kamarnya, mereka berdua menuju ke kamar masing-masing.
Mey Yui yang sudah masuk di dalam kamar, ia merebahkan badannya ke tempat tidur.
“Kenapa jadi kangen sama kak Ar?” tak terasa air matanya menetes.
“Apa yang harus aku lakukan di sini? Apakah aku harus menjalani kehidupan di sini dan menikah dengan orang jaman kuno ini?” gumamnya tak terasa ia terlelap dalam mimpi.
Sementara Ming Se dan A Sen yang sedang menuju ke kamar masing-masing, dengan kompak mereka menoleh bersamaan seperti ada sesuatu yang akan mereka bicarakan.
Karena mereka bersahabat cukup lama sehingga seperti ada ikatan batin dan menyambung dengan apa yang mereka pikirkan bersama.
Mereka saling menganggukkan kepala mengkode jika apa yang mereka pikirkan sama dan ingin membahas.
“Kita bahas di kamarku saja,”ucap Ming Se.
A sen tidak menjawab hanya mengangguk dan mengikuti Ming Se menuju ke kamarnya.
Mereka berdua masuk ke kamar dan duduk di meja, dengan wajah serius seperti akan ada pembahasan yang sangat penting.
“Apa yang kamu pikirkan? apakah mengenai perasaan Mey Yui?” Ming Se langsung menebak dan tak mau buang-buang waktu.
“Benar..! Aku tak tega dengannya..! Dia selalu menutupi perasaannya dengan keceriaan. Selama ini aku mengetahuinya, dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Bahkan kamu sebagai kakak kandungnya saja tak mengetahuinya,” jelas A Sen
“Aku sebagai kakak merasa bersalah karena tidak mengetahui dan tidak mampu menjaga adikku sendiri. Aku tidak mengetahui kesedihannya, aku pikir dia baik-baik saja,” jawab Ming Se.
“Asal kamu tahu sejak aku mengetahui dia pandai menyembunyikan perasaannya, aku selalu menggoda dan berdebat dengannya. Karena aku pikir dengan seperti itu bisa mengalihkan kesedihannya. Saat kita berkumpul aku tau dia sangat sedih, dari kejauhan dia melihat Ardi kemudian dia pergi dan tak berani mendekat,” ungkap A Sen
“Aku menyayanginya seperti adikku sendiri, kamu mengetahui adikku telah meninggal karena kecelakaan saat study tour. Saat itu aku sangat terpukul karena kehilangan satu-satunya adikku perempuan. Kesedihanku terobati saat kita berteman dan aku bermain ke rumahmu,” cerita A Sen.
“Apa yang harus aku lakukan agar Mey Yui tidak sedih dan sedikit demi sedikit bisa melupakan Ardi?” tanya Ming Se pasrah.
“Ku pikir kita jangan pernah menyinggung sesuatu yang berkaitan dengan Ardi dan kita coba mencarikan cinta baru untuknya,” saran A Sen pada Ming Se.
“Apakah dia mau dengan ide kamu, mencarikan cinta baru?” tanya Ming Se.
“Wes…Angel..… di mana kecerdasanmu? Kalo kamu bilang ke Mey Yui jika kita akan mencarikan cinta baru jelas dia menolak!” ucap A Sen gemas dengan sahabatnya.
Ming Se tersenyum dan tidak marah saat mendengar ucapan A Sen.
“ Baiklah..! pertama kita harus menemukan cowok yang baik dan tepat buat Mey Yui baru nanti perlahan kita dekatkan padanya,” ucap A Sen.
“Menurutmu bagaimana dengan pangeran Tang Yi Bo? Dalam ingatan pemilik tubuh asli ini, dia pernah mencari informasi mengenai tunangan adiknya. Di dalam ingatanya, pangeran itu tidak menyukai Mey Yui karena saat itu wajahnya jelek dan tidak memiliki kultivasi. Dia menolak perjodohan itu dan didukung ibunya namun kaisar tidak setuju,” kata Ming Se.
“Kita tidak perlu kuatir dengan pangeran kodok itu, dia nggak pantas mendapatkan adik kita, aku yakin pasti ibu dan kakek ondel-ondel pasti sudah merencanakan untuk memisahkan Mey Yui dengan pangeran kodok itu. Ingat cerita Mey Yui mengenai pengawal rahasia yang mendatangi ibu ondel-ondel memberi informasi bahwa kakeknya akan menjebak pangeran kodok. Kita tunggu saja,” jelas A Sen.
“ Sepakat, kita tunggu action dari keluarga ondel-ondel itu. Setelah itu baru kita menyusun rencana,” jawab Ming Se.
“Sapa takut..! Oh ya.. Bantal, guling sudah memanggilku mereka tak sabar ingin aku keloni,” ucap A Sen sambil nyengir dan meninggalkan Ming Se.
Ming Se sejak tadi serius mendengarkan A Sen jadi kesal.
“Sialan.. !!!” gerutunya.
A Sen meninggalkan kamar Ming Se dan Ming Se pun merebahkan badannya untuk istirahat.