Kezia Story

Kezia Story
BAB 50



Di kolam air emas, nampak A Sen mulai sadar dan membuka matanya perlahan. Kemudian ia melihat sekeliling kolam, hanya dia dan Mey Yui yang masih berada di dalam kolam.


“Gila..! Tadi saat aku mendapatkan terobosan yang ketiga, rasa sakitnya hampir tak mampu aku tahan. Antara sadar dan tidak aku merasakan tubuhku ada yang menahan agar tidak roboh ke dalam air.”


“Aku merasakan tubuhku melayang pindah ke tepi kolam. “Apakah Ming Se atau Yuan yang membantuku? Lebih baik aku keluar kolam!” Batin A Sen.


Ming Se dan Yuan melihat A Sen sudah sadar dan berjalan menghampiri mereka berdua. A Sen bergabung duduk dengan mereka.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Yuan kepada A Sen.


“Aku lebih segar dan tentunya kekuatanku bertambah besar. Apakah kamu yang menolongku?,” tanya A Sen keada Yuan.


“Ya, kamu tadi pingsan dan akan roboh ke dalam air,” ucap Yuan.


“Makasih, ya.. ! Saat terobosan yang ketiga aku sudah berusaha mempertahankan kesadaranku, tapi aku tak kuat menahan rasa sakitnya. Seperti di gebukin orang sekampung,” balas A Sen dengan santai.


“Hahaha... di gebukin orang sekampung karena ketahuan mengintip janda yang sedang mandi,” ledek Ming Se


“Maunya mengintip janda yang sedang mandi, ternyata salah sasaran. Yang aku intip Neli alias nenek Lincah,” balas A Sen dengan santai.


“Hahaha....!”


Ming Se dan Yuan tertawa mendengar kekonyolan A Sen. Menurut mereka A Sen tidak ada perubahan sama sekali. Ia sangat kocak namun tak pernah punya rasa sakit hati terhadap sahabatnya.


“Gadis kita belum ada tanda-tanda berkultivasi,” ucap A Sen.


“Belum ada, mungkin kali ini dia akan mendapat terobosan kenaikan beberapa level. Aku kuatir dia tak bisa menahannya,” ucap Yuan.


“Kita tunggu saja dan kita bantu jika terjadi sesuatu,” ucap A Sen.


Ming Se dan Yuan menganggukkan kepalanya tanda setuju .


“Ngomong-ngomong apakah A Sen sudah mengetahui jati diri pemilik tubuh aslinya?” tanya Yuan melanjutkan rasa penasarannya.


“Jati diri apa?” tanya A Sen.


“Ternyata kau belum mengetahuinya,” ucap Yuan.


“A Sen belum banyak mengetahui jati diri dan latar belakang pemilik tubuh asli,” ucap Ming Se kepada Yuan


“Pemilik tubuh asli A Sen sebenarnya pangeran kerajaan Tang yang terlahir dari seorang pelayan,” Ming Se menjelaskan kepada A Sen


A Sen mengerutkan kepalanya dan mencari ingatan dari pemilik tubuh asli. Tiba-tiba ia memegang kepalanya dan wajahnya memucat, potongan-potongan ingatan pemilik tubuh asli mulai bermunculan.


“Aduh...! Kepalaku rasanya mau pecah,” ucap A Sen sambil memegangi kepalanya.


Yuan dan Ming Se berdiri menghampiri A Sen dan membantu, menopang tubuh A Sen dan menuntunnya agar bisa duduk.


“Jangan kau paksa mengingat,” ucap Yuan.


“Jika kau paksa bisa berakibat fatal, itu seperti amnesia kalau di jaman modern,” jelas Ming Se.


A Sen hanya mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata. Selang berapa menit wajah wajahnya kembali normal dan kepalanya tidak sakit lagi.


“Sialan...! Sakit sekali kepalaku, dalam ingatanku A Sen pernah bertemu dengan kaisar Tang. Saat kalian di istana, kaisar Tang melihat A Sen sangat mirip dengannya dan matanya mirip ibunya,” ucap A Sen.


“Kaisar penasaran dan menyuruh mata-matanya mencari tahu jati diri A Sen. Ayahmu sudah mengatakan kepada kaisar Tang. Dan pemilik tubuh asli di minta bertemu dengan kaisar secara rahasia.”


“Kaisar ingin mengangkat A Sen memberi gelar pangeran ke lima namun di tolak oleh A Sen. Bahkan A Sen mengatakan bahwa dia tetap menjadi anak angkat jenderal Lie Jun Ho. Dia tak mau berhubungan dengan kerajaan,” jelas A Sen.


“Pemilik tubuh asli A sen tidak pernah bercerita mengenai pertemuannya dengan kaisar Tang. Kepribadian A Sen sangat tertutup, hanya dengan Mey Yui dia bisa bercerita. A Sen sering pulang ke kediaman hanya untuk melihat Mey Yui,” ucap A Sen.


“Jangan-jangan pemilik tubuh asli A Sen mencintai pemilik tubuh asli Mey Yui?” tebak Yuan.


“Mengenai hal itu aku tidak tahu, tapi dia sangat tidak setuju saat pemilik tubuh asli Mey Yui di jodohkan oleh putra mahkota,” ucap Ming Se.


“Di dalam ingatan milik dari pemilik tubuh asli, putra mahkota tidak menyukai Mey Yui dikarenakan wajahnya buruk dan dia suka bermain wanita, kejam dan licik. Namun putra mahkota pandai menyembunyikan tabiat buruknya. Itulah yang membuat pemilik tubuh asliku tidak setuju,” jelas A Sen lagi.


“Aku pikir rasa sayang A Sen lebih besar daripada Ming Se yang sebagai kakak kandungnya, menurutmu bagaimana?” ucap Yuan.


“Kamu salah! Dalam ingatan pemilik tubuh asliku, sebelum ibunya meninggal dia sudah di racuni. Selir ayahnya selain meracuni ibunya, dia juga di racuni. Kakeknya yang peka dan membawa Ming Se ke tabib kemudian Ming Se memutuskan untuk menjadi kuat agar bisa melindungi adiknya,” ucap Ming Se.


“Dia memaksakan diri untuk berlatih dan bersama pemilik tubuh asli A Sen membentuk pasukan bayangan yang banyak tersebar di kerajaan Tang. Dia ingin membalaskan dendam ibunya dan melindungi adiknya. Markas pasukannya ada di gunung tengkorak,” ucap Ming Se lagi


“Benar! Mereka mempunyai rencana, setelah melaporkan markas pemberontak. Mereka akan membawa dan menyembunyikan adiknya di markas mereka,” ucap A Sen.


“Intinya mereka tidak setuju perjodohan antara putra mahkota dan adiknya,” ucap Yuan


“Markas pemberontak yang Ming Se hancurkan adalah markas milik ayah selir jenderal Jun Ho. Dia berniat memberontak pada kaisar dan menjadikan putra mahkota sebagai bonekanya,” jelas A Sen


“kita harus melibas Si tua bangka dan keluarganya, supaya ke depannya hidup kita tenang,” ucap Ming Se.


“Benar, kita potong sayapnya satu per satu. Kita hancurkan pengikutnya dan sumber dana yang memberi bantuan rencana pemberontakan. Para bangsawan, pejabat dan pedagang besar yang membantunya kita lumpuhkan.”


“Aku sudah menyuruh mata-mata Dragon Pearl mencari tahu semua orang yang terlibat dengannya. Jika pedagang kita lumpuhkan kekayaannya, pejabat dan bangsawan cari kejahatannya kita serahkan pada kaisar. Agar di hukum mati, jika sayapnya patah akan mudah kita menyingkirkannya,” ucap Yuan.


“Ya, pasukanku juga sudah mulai bergerak. Saat kami bertarung dengan prajurit pengkhianat itu. Kami mencuri buku rahasianya, di dalam buku catatan itu menjelaskan siapa saja yang membantu Si tua bangka itu,” ucap A Sen.


“Ok, setelah Mey Yui menyelesaikan kultivasinya kita segera menjalankan rencana kita. Aku serahkan dan percayakan keselamatan Mey Yui padamu. Jaga dan lindungi adikku,” ucap Ming Se.


“Jangan kuatir aku pasti akan melindunginya dengan nyawaku,” jawab Yuan.


Ming Se dan A Sen menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Lihat Mey Yui sepertinya akan mendapatkan terobosan. Pasang array pelindung bersama, kekuatan ledakannya pasti dahsyat,” ucap A Sen sambil menunjuk ke arah Mey Yui berada.


Mereka bertiga memasang array pelindung berlapis.


Air kolam bergolak kencang dan semburan air keluar dari permukaan air kolam. Tak lama terdengar suara ledakan yang sangat keras.


“Duaaarrrr!!!!


Di susul dengan ledakan kedua, ketiga dan ke empat. Terdengar teriakan suara Mey Yui sangat kencang sekali membuat hati para pria yang menunggu sangat kuatir.


“Duuuuaaarrrr!!!”


“Aaaccchhhh!!!”


“Aku harus kuat, jangan sampai pingsan,” batin Mey Yui.


“Duuuuaaaarrrr!!!”


“Duuuuuaaaarrrr!!!”


“Sakit sekali, aku tak kuat lagi menahan rasa sakit ini,” ucap Mei Yui dalam hati.


“Aaaccchhhh!”


Ledakan dari terobosan dan teriakan kesakitan Mey Yui memekakkan telinga.


“Oh.. Sialan! Sayang...!” teriak Yuan histeris sambil mengeluarkan tenaga dalamnya.


Tubuh Mey Yui lemah dan hampir terhempas jatuh ke dalam kolam. Tiba-tiba tubuhnya diselimuti sinar putih dan membawa tubuh Mey Yui keluar dari kolam air emas.


Tubuh Mey Yui di bawa sinar putih dari tenaga dalam milik Yuan. Yuan meletakkan tubuh Mey Yui di rerumputan dekat mereka duduk.


Para pria menunggu Mey Yui sadar, setelah mendapatkan terobosan. Ia sekarang sudah di ranah surgawi level 3. Melewati ranah kedua kakaknya.