
Derap kaki kuda terdengar di keheningan hutan bambu yang sunyi, Li Yuan menunggangi kudanya dengan gagah. Ia menyusuri jalanan hutan bambu yang sangat lebat untuk mencari letak kolam naga, sampailah di lereng bukit ia menarik tali kekang kuda untuk menghentikan kudanya.
“Letak kolam naga itu di balik kaki bukit itu, Akan lebih aman berjalan kaki dan meninggalkan kudaku di sini untuk mencari kolam naga. Informasi dari tabib ketua naga penjaga bunga Teratai sangat ganas, dia tidak akan mengizinkan siapa pun mendekat di kolam yang ia jaga.” ucapan dan turun dari kuda yang ditungganginya.
Yuan melesat dengan cepat ke arah bukit dengan menggunakan qigong dan meninggalkan kudanya.
Setelah sampai di kaki bukit ia mengamati sekitar area perbukitan untuk mencari letak posisi kolam naga. Tiba-tiba muncul banyak beast kera bermata merah menuju ke arahnya dengan marah dan ingin menyerangnya
“Sialan.. dari mana datangnya kera-kera ini!” ucapnya dalam hati
Salah satu kera pemimpin mereka melompat menyerang Yuan dengan cepat.
“Hai manusia kau datang untuk menyerahkan nyawamu!” teriak kera dengan keras sambil menyerang Yuan.
“Sialan… kera ini bisa bicara! Beast kera level god, aku harus hati-hati kuku-kuku jari tangannya sangat beracun,”’ pikirnya dalam hati.
“Kera jelek beraninya kau menyerangku, rasakan pukulanku!” teriak Yuan.
“Duuuaaarrr….!
“Manusia sialan! Serang manusia yang telah berani memasuki wilayah kita!” teriak kera pemimpin kepada kawanannya.
Mendengar komando dari sang pemimpin, semua mulai melancarkan serangannya dengan dahsyat.
Yuan melesat ke atas dan melancarkan serangan balasan, suara ledakan-ledakan yang sangat keras terdengar. Banyak kera yang tewas kena serangan Yuan, pemimpin kera sangat marah.
“B*jing*n kau manusia… kau telah banyak membunuh rakyatku! teriaknya marah dari matanya yang merah mengeluarkan sinar merah melesat cepat untuk menyerang Yuan.
Dengan gesit Yuan menangkis serang tersebut dengan pedangnya, serangan dapat dipatahkan namun tidak mengendorkan semangat pemimpin kera. Pemimpin kera semakin marah dan menyerangnya dengan dahsyat dan membabi buta.
“Duuuaaarr….!”
“Boomm..!”
“Aaaahhhhh….!!!!”
Teriakan kawanan kera yang terkena serangan dahsyat Yuan sangat keras dan mereka pun tewas seketika. Mayat para kera berjatuhan di tanah dan menyisakan pemimpin kera yang marah, sedih melihat kawanannya tewas di tangan Yuan.
“Kubunuh kau manusia….! Akan aku balaskan dendam rakyatku yang telah kau bunuh semua!” teriaknya sangat marah.
“Ayo serang lah aku! Dengan senang hati akan kupatahkan serangan mu! Hahaha… balas Yuan sambil menangkis serangan pemimpin kera.
Pertempuran sangat dahsyat dan asap putih bertebaran akibat dari serangan-serangan dari tenaga dalam mereka berdua. Tiba saatnya pemimpin kera berhasil dilukai oleh Yuan, pukulan yang sangat kuat mengenai kepala pemimpin kera.
Teriak kesakitan pemimpin kera dan diiring suara dentuman keras.
“Aaaaccchhhh…..!!!!”
“Brruuuukkk….! Suara dentuman dari tubuh pemimpin kera terjatuh di tanah.
Yuan menepuk-nepuk pakaiannya untuk menghilangkan debu yang menempel akibat pertempuran. Ia mendekati tubuh kera tersebut untuk mengeluarkan inti sari kera dan menyimpannya.
“Ternyata inti sarinya berwarna hitam, sangat bagus jika aku gunakan untuk berkultivasi, ucapnya dalam hati.
Yuan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kolam naga, dari kejauhan ia melihat sebuah kolam yang terdapat bunga teratai hitam di atas permukaan air kolam tersebut. Bau harum bunga Teratai hitam menguar terbawa angin membuat semua makhluk ingin mendekati bunga tersebut.
“Itu kolam bunga teratai hitam, suasana di sekitar kolam itu sangat tenang tidak menampakkan aura tanda-tanda adanya bahaya. Sehingga memancing keinginan orang untuk mendekati kolam, tapi jika makhluk hidup mendekati bahaya besar akan segera muncul,” gumamnya.
Ia mencoba sedikit mendekat dan naik ke atas pohon untuk melihat lebih dekat lagi.
“Itu.. makhluk apa itu? Mereka tiba-tiba bertarung dengan dahsyat,” serunya pelan.
Yuan melihat dua ekor binatang tiba-tiba melesat ke udara dan bertarung, karena kecepatan mereka sangat cepat dan diselimuti asap putih yang tebal mengurangi penglihatannya.
Pertarungan naga penjaga teratai hitam dan ular berwarna hitam yang bermata merah sangat sengit, ular itu berhasil menggigit ekor naga dan naga mengerang kesakitan.
“Guuuaaarrrr…!
Suara dari teriakan naga yang sedang bertarung di udara terdengar, ular hitam bermata merah sangat licik. Tiba-tiba keduanya berubah menjadi sosok pria dan kembali melanjutkan pertarungan. Yuan masih mengamati dan ia dari awal sudah menekan auranya sehingga kedua makhluk itu tidak menyadari kedatangan Yuan yang sedang mengamati pertarungan.
“Wah ular hitam ini sangat licik sepertinya ia menyebarkan sesuatu ke arah naga! Jika terjadi sesuatu pada naga aku harus menolongnya, kasihan naga penjaga mulai terdesak,”ucapnya dalam hati.
Tanpa menunggu lama Yuan melesat ke arah pertarungan dan ikut masuk ke dalam pertempuran, ia langsung membantu naga dengan menyerang ular hitam dengan dahsyat. Ular hitam yang tidak menyadari akan kedatangan Yuan yang mendadak menyerangnya dan membantu naga penjaga bunga teratai sangat marah.
“Sialan…Anak manusia! Siapa kau berani menyerang secara licik!” ucap ular hitam marah karena ia mendapatkan luka dalam dari Yuan.
“Denganmu! Aku tidak perlu menyerang secara jantan, kata licik! Sepantasnya aku katakan untukmu, kau dengan licik menyerang naga dengan menggunakan racun yang sangat kuat,” teriak Yuan
“Kurang ajar..! Kau telah berani mencampuri urusanku dengan naga penjaga teratai hitam! Menyingkirlah, aku akan mengampunimu dan tidak memperhitungkan kesalahan yang sudah melukaiku!” Teriak urar hitam.
“Aku tidak akan pergi meninggalkan naga penunggu teratai hitam ini, rasakan seranganku!” teriak Yuan sambil mengeluarkan serangan terkuatnya.
Naga hitam yang hanya diam dengan kedatangan Yuan yang secara tiba-tiba datang membantunya. Dia mulai mencoba menyalurkan tenaga dalamnya untuk menekan racun yang ada di dalam tubuhnya.
Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Yuan kepada ular hitam bermata merah terlihat di atas awan. Ular hitam mulai terdesak, dia akan melakukan hal licik pada Yuan seperti yang ia lakukan pada naga penjaga bunga teratai hitam dengan melempar racun ganas.
Melihat hal itu naga penjaga bunga teratai yang sedang mengamati dari bawah langsung segera melesat ke angkasa dan membantu Yuan dengan menyerang ular hitam berwarna merah.
“Kau…! Naga sialan! Beraninya menyerangku secara licik! Dendamku padamu ribuan tahun akan aku balaskan sekarang!” teriak ular hitam sambil menyerang naga, namun serangan tersebut dipatahkan oleh Yuan.
Yuan menyerang ular hitam dengan telak dan tak dapat dihindari oleh ular hitam tersebut
“Huukk….! Darah segar keluar dari mulut ular hitam yang terkena pukulan dari Yuan.
“Sialan kau anak manusia! Kau melukaiku lagi,” ucapnya marah namun suaranya bergetar karena lukanya sangat parah.
Yuan tidak menyia-nyiakan hal tersebut ia melancarkan serangan bertubi-tubi kepada ular hitam.
Setelah mengucapkan umpatan kepada Yuan, Ular hitam berwarna hitam langsung jatuh ke tanah.
“Buummm!”
Suara dentuman dan asap keluar dari tubuh besar ular hitam berwarna merah yang jatuh ke tanah. yuan dan naga melesat turun mengejar ular hitam.
Ular hitam berwarna merah yang tergolek di atas tanah dengan mata tertutup, sementara Yuan yang telah menyusul ular hitam turun ke bumi telah sampai. Yuan berjalan untuk mendekati tubuh ular hitam untuk memastikan bahwa ular tersebut telah tewas.
Namun niatnya tertunda karena dicegah oleh naga penjaga teratai hitam
“Hentikan niatmu anak muda”, ucap naga mencegah Yuan.
“Kenapa kamu menghentikanmu, aku akan mengecek ular hitam ini da aku akan mengambil intisarinya,” balasnya yang kesal karena di cegah oleh naga.
“Jika kamu menyentuh Tubuh ular hitam, kamu akan mati terkena racunnya yang ganas dan tidak ada penawar racunnya,” jelas naga penunggu.
“Sialan..! Sudah mati pun bangkainya sangat mengerikan jika di sentuh,” geram Yuan.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Yuan pada naga penjaga.
“Biar aku yang melakukannya, akan aku keluarkan intisarinya kemudian memusnahkan tubuhnya. Kamu harus segera mengambilnya sebelum tubuh ular musnah,” kata naga penunggu.
“Baiklah! Aku akan menuruti perkataanmu,” balas Yuan
Naga penunggu mengeluarkan sinar berwarna emas dan kemudian menyelimuti tubuh ular hitam. Tak lama intisari ular hitam berupa kristal ungu tua keluar dari kepala ular hitam, Yuan tak menyia-nyiakan hal itu langsung menarik intisari tersebut dengan menggunakan tenaga dalamnya.
Tubuh ular hitam melebur menjadi butiran debu yang berhamburan di udara dan lenyap di terpa angin.