Kezia Story

Kezia Story
BAB 77



Tabib yang di tunggu-tunggu telah datang, mereka tergopoh-gopoh mendatangi kamar Cai Lin.


“Cepat tolong nyonya besar,” ucap pelayan sambil menghampiri tabib yang baru datang.


“Tolong antar saya ke kamar nyonya besar,” jawab tabib sambil berjalan mengikuti pelayan.


Cai Lin berteriak histeris, ia takut bayi dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan.


“Tenangkan diri anda, nyonya! Jika nyonya banyak bergerak akan mempengaruhi janin nyonya,” ucap pelayan setianya.


Cai Lin hanya menganggukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu.


Tabib menghampirinya dan mengecek kondisi Cai Lin. Ia berusaha semampunya untuk mempertahankan bayi dalam kandungannya. Akhirnya tabib berhasil menyelamatkan janin dalam kandungan Cai Lin.


“Selamat nyonya, bayi dalam kandungan nyonya dapat di selamatkan. Nyonya harus berbaring di tempat tidur selama seminggu dan jangan banyak pikiran. Nyonya juga harus minum obat yang hamba berikan,” ucap tabib kepada Cai Lin.


“Bagus.. bagus.. bayiku bisa selamat! Pelayan beri upah untuk tabib!” perintahnya pada pelayannya.


Pelayan memberikan kantung uang kepada tabib dan mengantarkan tabib keluar.


Cai Lin nampak senang karena bayinya dalam kandungannya bisa terselamatkan.


“Aku akan menuruti tabib itu, aku harus berbaring di tempat tidur selama seminggu. Beritahu suamiku untuk tidak mengawatirkanku. Anaknya bisa di selamatkan,” ucap Cai Lin senang hingga melupakan apa yang telah terjadi.


Cai Lin membohongi dirinya sendiri seolah suaminya menyayangi bayi dalam kandungannya. Bun Ho marah padanya karena kuatir akan bayinya.


Para pelayan saling memandang namun mereka tak berani membantah perintah dari Cai Lin. Salah satu dari mereka akhirnya meninggalkan kamar Cai Lin untuk melapor kepada Bun Ho.


Namun saat pelayan tersebut mendatangi Bun Ho, dia di tolak dan di suruh pergi oleh prajurit jaga. Bun Ho tidak memperbolehkan dan tidak mau bertemu dengan Cai Lin atau pelayannya.


Pelayan kembali ke kamar Cai Lin dan memberitahu kepada Cai Lin jika mereka tak bisa menemui Bun Ho.


Ketika pelayan melaporkan kepada Cai Lin, ia marah dan berteriak-teriak. Rasa sedih, kecewa, sakit hati bercampur. Membuatnya semakin ingin membunuh bibi Ong.


“Ini semua dikarenakan oleh j*lang itu! Aku akan membunuhnya! J*lang itu telah merayu suamiku, apa dia belum kapok dengan kehilangan bayi dalam kandungannya!” Teriak Cai Lin dengan marah dan menangis.


Ia sangat dendam dengan bibi Ong, Cai Lin menyalahkan bibi Ong. Jika bibi Ong masih hidup maka suaminya tidak akan meliriknya.


Para pelayan menenangkan Cai Lin agar mengingat pesan dari tabib. Kandungannya akan berbahaya jika terjadi pendarahan lagi.


Cai Lin menenangkan emosinya, ia ingat jika bayi yang ia kandung hampir saja tak bisa di pertahankan. Untuk saat ini ia mengabaikan bibi Ong dan suaminya. Nanti jika bayinya sudah lahir, dia akan membalaskan sakit hatinya.


Sementara Bun Ho mendatangi rumah bibi Ong, meski harus menyusup agar tidak di ketahui kekasihnya. Namun hal itu sudah membuat Bun Ho puas.


***


Tak terasa bulan pun telah berganti, sudah empat bulan bibi Ong menempati rumah yang disiapkan oleh Bun Ho.


Bibi Ong mengetahui jika setiap malam kekasihnya tidur di sisinya, namun ia pura-pura tidak mengetahui. Ia sangat nyaman dengan kedatangan kekasihnya namun ia belum bisa bertemu dengan Bun Ho.


Bibi Ong mendengar kabar dari pelayannya, semalam pelayan mendengar pembicaraan Bun Ho dengan Wen An. Bahwa Cai Lin telah menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Namun Bun Ho mengabaikannya, tidak mau pulang menemui Cai Lin.


Setelah ia mendapatkan kabar dari pelayannya, bibi Ong merasa hatinya sakit dan sedih sekali. Ia teringat bayi yang pernah ia kandung. Jika ia bisa menjaga dan tidak keguguran pasti ia sudah melahirkan.


Bibi Ong kembali masuk ke dalam kamar dan menangis, mengetahui hal tersebut pelayan yang telah memberikan informasi sangat takut. Ia takut jika tuan besarnya mengetahui jika bibi Ong bersedih hati.


Di kediaman Bun Ho, dari semalam sangat ramai. Mereka di sibukkan dengan nyonya besarnya yang mengalami kesakitan dari malam hari. Cai Lin melahirkan seorang putra dengan penuh perjuangan. Ia melahirkan sendiri tanpa di temani oleh suaminya.


Cai Lin tidak mempermasalahkan suaminya tidak menemaninya. Namun ia yakin jika suaminya akan berubah saat mengetahui putranya telah lahir.


Harapan hanya harapan, hingga malam hari Bun Ho tidak menampakkan batang hidungnya.


Kecewa dan sakit hati yang di rasakan Cai Lin, ia memarahi pelayannya.


“Dasar pelayan bodoh! Kenapa kau tidak memberitahu dan membawa suamiku kemari. Suamiku akan bahagia jika mengetahui putranya sudah lahir!” Teriak Cai Lin.


“Hamba mohon maaf nyonya, hamba yang bodoh ini tidak bisa bertemu langsung dengan tuan besar. Prajurit jaga menghentikan hamba dan melarang hamba bertemu dengan tuan besar. Bahkan untuk masuk ke kediaman tuan besar saja tidak di perbolehkan!” ucap pelayan tersebut.


“Kau terlalu banyak alasan! Cambuk pelayan bodoh ini!” teriak Cai Lin.


Pelayan bersimpuh sambil membentur-benturkan kepalanya untuk memohon ampunan kepada Cai Lin. Namun tidak membuat Cai Lin berbaik hati. Ia melampiaskan kemarahannya kepada pelayannya.


“Seret dia dan bawa pergi dari sini! Aku tak mau melihatnya, pelayan bodoh dan tidak bermanfaat!” perintah Cai Lin kepada pelayan yang ada di kamarnya.


Mereka merasa iba dengan nasib temannya yang harus menerima hukuman yang seharusnya. Kesalahan bukan pada temannya, tuan besarnya mengabaikan istrinya. Bahkan saat putranya lahir tuannya tidak mau melihatnya.


Bun Ho yang berada di kediamannya di beri informasi mengenai Cai Lin yang sedang marah dan menghukum pelayannya dan bibi Ong yang sedang bersedih karena mengetahui Cai Lin telah melahirkan.


Bun Ho malas mendengar laporan tersebut dan meninggalkan kediamannya. Ia ingin menemui dan menemani bibi Ong. Ia melesat keluar menuju rumah bibi Ong tanpa di ketahui oleh siapa pun.


Di kamarnya bibi Ong, Bun Ho melihat kekasihnya sedang menangis. Hati Bun Ho sangat sakit melihat kekasihnya menangis. Ia menghampiri bibi Ong dan memeluknya. Mengetahui kedatangan Bun Ho, bibi Ong semakin terisak di dalam pelukan kekasihnya.


“Maafkan aku, sayang! Apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya. Asal kau tidak memintaku untuk meninggalkanmu, semua pasti aku turuti.!” Ucap Bun Ho pada bibi Ong.


Bibi Ong hanya menggelengkan kepalanya di dalam pelukan kekasihnya.


Bun Ho tak tega melihat kekasihnya menangis, ia juga merasa sangat hancur. Anak pertamanya yang belum sempat lahir ke dunia telah pergi dengan cara tragis. Sebagai laki-laki, Bun Ho haris kuat menghadapi musibah tersebut.


****


Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa like dan komentarnya