Kezia Story

Kezia Story
BAB 8



Suasana di dalam kamar hening hanya terdengar suara monitor Kenzo dan Kezia. Tiba-tiba dari monitor Kezia terdengar suara


"Tiiiiiii Tttttttt….. "


Tanda grafik yang awalnya naik turun tiba-tiba grafik lurus.


Ardi melompat dari sofa menuju ke ranjang Kezia dan memencet tombol sambil teriak histeris,


begitu juga dengan Radit dan Joseph.


“Keke… kembali jangan tinggalkan aku… Kembali sayang, meski kamu belum bangun tapi jangan pergi. Aku akan selalu setia menunggu kamu sampai bangun kembali,” tangis Ardi sambil menciumi tangan Kezia.


Tak lama rombongan dokter berlarian datang ke kamar dan menyuruh mereka bertiga keluar.


Mereka dengan terpaksa keluar kamar tersebut, selang setengah jam rombongan dokter keluar dari kamar.


Mereka bertiga langsung berdiri bersama dengan pihak keluarga papa dan mama Kezia. Keluarga besar yang sudah dihubungi sejak Kezia anfal, mereka semua berdiri menghampiri dokter dan bertanya dengan perasaan was-was. Kuatir hal yang tidak diinginkan benar-benar terjadi.


Dokter menghela nafas dan berkata,” maafkan kami!, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi kami menyatakan bahwa nona Kezia telah meninggal dunia pada pukul 15:15 am”.


Bagaikan disambar petir saat mendengar hal itu, kakek, nenek, paman dan bibi dari pihak papa dan mama Kezia langsung lemas. Terutama para wanita langsung pingsan, tak sanggup mendengar berita duka yang disampaikan oleh dokter


Ardi yang mendengar itu langsung melesat lari ke kamar dan meraung-raung menangis.


“Keke, kenapa kamu tega ninggalin kita semua di sini!”.


" Kembali,ke! Lihat Kenzo masih berbaring di samping kamu. Apa yang harus aku katakan pada Kenzo saat dia bangun”.


“Kembalilah, sayang jangan tinggalin aku! Jika kamu pergi ajak aku bersamamu” kata-kata ardi menyayat hati, ia menangis sambil bicara terbata-bata, dadanya sakit, sedih tiada tara.


Saat ini yang dirasakannya adalah Menyesal! Ia sangat kehilangan orang yang paling di sayangi.


Radit dan Joseph tak tega melihat Ardi seperti itu, mereka berdua juga sangat berduka kehilangan Kezia yang sudah dianggap seperti adik mereka sendiri.


Radit meraih tangan Ardi mengajak pergi keluar karena jenazah Kezia akan dibawa pulang.


"Ayo, Ar! Kita tunggu di luar, kamu harus tegar dan ikhlas! Kita semua harus mendoakan Kezia biar tenang,” ucap Radit sambil menuntun Ardi.


Mereka bertiga keluar menunggu para perawat mempersiapkan jenazah yang akan dibawa pulang


****


Sementara Kezia yang sedang melakukan meditasi dengan posisi lotus tiba-tiba merasakan dadanya sesak dan sakit,tak terasa air matanya keluar dengan sendirinya.


“Ada apa dengan diriku?, kenapa aku merasakan begitu sedih dan kenapa pula tiba-tiba aku ingat dengan kak Ardi ,ya?” Gumam Kezia dalam hati.


“Kenapa aku melihat kak Ardi menangis dan memanggil namaku? aku juga melihat diriku berbaring di atas ranjang ruang ICU bersama kak Kenzo, ada apa ini?” Kezia bertanya-tanya dalam hati.


“Kak Kenzo, aku berharap kamu cepat sembuh dan menjalani kehidupanmu dengan baik meski kita semua tidak menemanimu. Aku, papa dan mama tidak bersamamu, dan aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku saat ini kenapa bisa mengalami seperti ini? Tidak tahu apakah kita bisa bertemu dan berkumpul kembali, aku sangat menyayangimu, kak”.


"Kak Ardi maafkan aku"


“Aku tidak tau jika kepergianku membuatmu sangat kehilanganku dan terluka. Tanpa kau tau sebenarnya aku sangat mencintaimu. Entah, sejak kapan aku mulai mencintai kamu, semoga kamu menemukan kebahagiaanmu dan menemukan gadis yang kamu cintai dengan tulus”.


Tak terasa air mata Kezia semakin deras.


Sebenarnya Kezia mencintai Ardi, tapi tidak berani mengungkapkan. Hanya cinta dalam diam.


Selang berapa jam suasana hati Kezia sudah mulai tenang dan mulai fokus lagi, ia merasakan lonjakan dalam tubuhnya tanda akan melakukan terobosan.


Hawa hangat mengalir dalam tubuhnya dan tak lama terdengar ledakan.


"Buumm!"


Terobosan pertama naik ke level 8 - 9.,masih terasa gejolak yang lebih kuat lagi.


"Duaaarrr!"


Ledakan lebih keras dari yang pertama Kezia mencapai terobosan ke ranah bumi tingkat puncak.


“Sebentar lagi aku akan mencapai ranah Langit”, gumam Kezia sambil membuka matanya perlahan.


Mao-mao dan Ting tong yang masih setia menunggu Kezia, mereka senang saat melihat Kezia mulai membuka matanya.


“Setelah ini mari kita berlatih bersamaku kita bertarung melatih daya tahan tubuh kakak”kata Mao-mao.


Mendengar ucapan Mao-mao Kezia melotot dan berseru, "Mao-mao tega sekali kamu ya..! Tidak kasih waktu aku untuk beristirahat sejenak,” kesalnya


“Tak terasa sudah 1 minggu di ruang dimensi ini, aku tak tau bagaimana di dunia luar. Dan berapa lama lagi aku bisa keluar di sini untuk melihat dan mencari pengalaman baru,” gumamnya dalam hati.


“Kakak jangan khawatir, sebentar lagi kita bisa keluar dari ruang dimensi ini. Tentunya setelah berlatih dengan Mao-mao, yang perlu kakak ketahui di sini dan di dunia luar ada perbedaan waktu, 1 minggu di ruang dimensi, 1 hari di dunia luar,” jelas Mao-mao


“Kakak sudah kuat untuk melihat dunia luar ditambah dengan kemampuan kakak sebagai seorang alkemis akan lebih disegani”.


“Seorang alkemis lebih di hargai dan di segani di dunia ini, biasanya seorang kultivator tidak bisa menjadi seorang alkemis, begitu juga seorang alkemis tidak bisa menjadi seorang kultivator.


Hanya orang jenius yang bisa,” ucap Mao-mao.


“Namun sebelum kita berlatih, kakak harus memilih senjata terlebih dahulu.


Kakak bisa memilih senjata di ruang senjata yang ada di dalam perpustakaan. Letak ruang senjata ada di sana, nanti kakak putar guci yang bergambar naga maka pintu ruang senjata akan terbuka,” tutur Mao-mao.


"Benarkah! Di sini juga ada ruang senjata? Antar aku kesana untuk melihat koleksi senjata,” pinta Kezia.


Mereka berjalan menuju ke menara piramida dan memasukinya.


Kezia mulai memutar guci bermotif naga dan lantai dari belakang rak bergetar dan terbuka seperti ada tangga menuju ke bawah.


Mereka menuruni anak tangga menuju ke bawah.


Sesampainya di bawah banyak sekali jenis senjata, Kezia mulai berjalan melihat-lihat. Tiba-tiba ia merasa ada daya tarik yang kuat menarik dirinya untuk ke arah rak paling ujung.


Karena penasaran dia melangkahkan kakinya menuju rak yang paling ujung.


Ada kotak tua yang usang dengan ukiran pola naga.


Kezia mengambil kotak tersebut sambil menyapu debu yang ada pada kotak tersebut, Lalu membukanya.


Kotak dibuka memancarkan sinar yang menyilaukan mata lalu sekejap sinar mengecil dan menghilang.


Kezia melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut, ada sebuah pedang berpola naga, cambuk dengan lapis emas di pegangannya dan kipas.


Pedang yang berpola naga di sarungnya dikeluarkan dari sarungnya, saat pedang sudah terpisah dari sarungnya tiba-tiba muncul getaran yang sangat kuat dari pedang tersebut dengan mengeluarkan sinar keemasan. Kemudian sinar tersebut melesat ke arah tangan kanan Kezia dan seperti tersengat aliran listrik.


Ia terkejut dan terdorong ke belakang saat sinar emas melesat masuk ke dalam tangannya.


"Aduh ini gimana ya..! Kok seperti di cerita misteri susuk nyai ronggeng”. Hehehe, kezia berkata dalam hari sambil tertawa.


Aura pedang sangatlah kuat dan sudah menyatu dengan dirinya.


“Apa nama pedang ini, Mao-mao?” tanya Kezia.


“Pedang Naga Langit, cambuk naga emas dan kipas naga angin,kakak,” jawab Mao-mao.


“Baiklah aku akan memilih ketiganya! Sementara yang akan aku bawa kipas naga angin, karena tidak terlalu mencolok jika membawa kipas,” kata Kezia


“Aku akan menyembunyikan kekuatanku dulu untuk balaskan dendam pemilik tubuh asli ini. Mereka harus menerima balasan berpuluh kali lipat,” gumam Kezia dalam hati.


Kezia keluar dari menara piramida untuk melakukan latihan bersama Mao-mao.


Mao-mao dengan lincah melompat-lompat sambil menuju tempat latihan sebuah hamparan luas yang ditumbuhi rumput hijau. Di sanalah mereka berlatih bertarung dengan kuat, mereka bertarung dengan menggunakan seluruh tenaga dan kekuatannya.


Selesai bertarung Kezia menuju area tanah yang ditumbuhi aneka tanaman obat.


Ada banyak tanaman obat langka dan berumur ribuan tahun, seperti jamur lingzhi, ginseng, bahkan binahong dan lain-lain.


Di sekitar petakan tanah yang ditumbuhi tanaman obat ada hamparan rumput hijau yang luar yang sangat padat energinya.


Mao-mao berlari dan berguling-guling di hamparan rumput yang padat energi.


Kezia berlari kecil menghampiri Mao-mao dan berkata, “Mao-mao kenapa hamparan rumput ini berbeda dengan tempat kita berlatih?”


“Ini hamparan rumput surgawi yang sangat berkhasiat,” jawabnya.


Kezia manggut-manggut mendengar penjelasan Mao-mao. Mereka bermain bersama di hamparan rumput surgawi.