Kezia Story

Kezia Story
BAB 73



Qian Bun Ho memeluk bibi Ong yang sedang menangis, Bun Ho tak kuasa menahan air matanya. Saat mengingat kejadian di masa lalu, anak yang di nantikan hasil buah cintanya dengan bibi Ong telah tiada bahkan belum sempat di lahirkan.


Rasa sedih, kecewa dan marah yang tak bisa di ungkapkan oleh Bun Ho. Sejak mengalami keguguran dan rahimnya mengalami kerusakan, bibi Ong tidak bisa mengandung kembali.


Meskipun demikian Bun Ho tetap mencintainya dan berharap bibi Ong tetap berada di sisinya. Saat itu bibi Ong masih belum bisa menerima kenyataan atas kehilangan calon bayinya, menjadi kepribadian yang sangat tertutup.


Hampir setiap hari Bun Ho menghabiskan waktunya dengan bibi Ong. Hal tersebut membuat istri sah Bun Ho yang bernama Song Cai Lin semakin murka. Bun tidak pernah berkunjung dengannya, bahkan ia belum di sentuh oleh suaminya.


Marah, kecewa dan iri membuat Cai Lin berusaha untuk memisahkan Bun Ho dan bibi Ong. Ia berencana membunuh bibi Ong namun keinginannya gagal. Bibi Ong menyuruh Bun Ho untuk membagi waktu dengan Cai Lin.


Namun Bun Ho tidak mau dan merasa muak dengan tingkah Cai Lin. Cai Lin tidak puas dengan kegagalannya, ia mencoba menjebak Bun Ho dengan memberi obat perangsang. Ia berpikir Bun Ho sedih karena bayi dalam kandungan bibi Ong keguguran, ia sangat menginginkan seorang anak.


Jika dirinya bisa mengandung maka perhatian Bun Ho akan tertuju padanya. Dan Cai Lin ingin membuat sakit hati bibi Ong, saat Bun Ho menyentuhnya ia ingin bibi Ong mengetahuinya.


Saat Bun Ho di ruang kerja, Cai Lin membawakan makanan. Ia menyuruh pelayan memanggil bibi Ong dan mengatakan jika Bun Ho sedang sakit.


Waktu yang sangat tepat sesuai dengan perhitungan Cai Lin. Di saat ia mendatangi ruang kerja Bun Ho betapa terkejutnya, ia menyaksikan Bun Ho dan Cai Lin memadu kasih. Bun Ho yang sudah dipengaruhi obat perangsang dan sudah lama tidak menyentuh wanita sejak bibi Ong mengalami keguguran. Akhirnya jebol juga pertahanannya.


Bibi Ong sangat sedih, perasaannya sakit sekali. Meski sejak awal ia sudah mempersiapkan diri, namun apalah daya jika orang yang di cintainya memadu kasih di depan mata. Kalo ia tidak melihat mungkin tak sesakit ini.


Bibi Ong menutup kembali pintu ruang kerja Bun Ho dan ia segera meninggalkan tempat tersebut. Cai Lin yang melihat bibi Ong menyeringai jahat ia puas dan merasa menang.


“Kenapa rasanya sesakit ini? Aku harus kuat, bukankah aku sudah mempersiapkan diri jika hal ini terjadi. Tapi mengapa aku harus melihatnya dan mengapa Bun Ho harus memanggilku dan memamerkan kemesraannya padaku,” ucap bibi Ong lirih sambil melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.


Ia kembali ke kediamannya dan ia tak sanggup lagi jika terus berada di sini. Bibi Ong sudah bertekad untuk meninggalkan kediaman Qian. Terlalu menyakitkan kenangan di kediaman Qian. Ia bersiap mengemas barang-barangnya dan pergi meninggalkan kediaman Qian.


Sementara Bun Ho yang mulai sadar dengan apa yang telah ia lakukan langsung mendorong Cai Lin dengan tatapan marah dan jijik.


“Apa yang telah kau lakukan! Kau menjebakku dengan obat perangsang!” bentak Bun Ho kepada Cai Lin sambil meraih pakaian dan mengenakan pakaiannya.


Cai lin terkejut, ia tak menyangka Bun Ho memperlakukannya seperti itu. Ia pikir Jun Ho akan senang setelah menyentuhnya.


“Apakah diriku begitu menjijikkan, sehingga kau memperlakukanku seperti ini! Aku istrimu dan aku berhak atas dirimu!” teriak Cai Min tak terima.


“Berengsek! Wanita hina! Apakah kau gatal sehingga menggunakan cara yang licik agar aku menyentuhmu! Kau jauh lebih baik dari Ong’er! Kau tak layak menjadi istriku, kau lebih pantas menjadi penghuni rumah b*rdil,” maki Bun Ho.


Cai Lin menangis saat mendengar ucapan suaminya. Ia berteriak-teriak marah saat Bun Ho keluar dari ruang kerjanya dan mengabaikan dirinya.


“Hahaha...! Kau pikir Ong akan memaafkanmu setelah mengetahui saat kamu menyentuhku padaku,” teriak Cai Min kepada Bun Ho.


“Plak.. plak..!” suara tamparan terdengar saat Bun Ho menampar wajah Cai Lin.


“Apa yang telah kamu lakukan! Dasar pelacur! Ingat...! Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Ong’er!” ucap Bun Ho dengan geram sambil mengepalkan tangannya.


Bun Ho sangat kecewa pada dirinya dan menyalahkan dirinya. Karena kebodohannya hingga masuk dalam jebakan Cai Lin.


Dengan gontai Bun Ho menuju ke kediaman bibi Ong. Ia sangat kuatir dengan bibi Ong dan merasa bersalah. Ia tahu jika bibi Ong akan sangat sedih saat menyaksikan dirinya menyentuh Cai Lin.


Setelah sampai ke kamar bibi Ong, ia mencari dan bertanya kepada para pelayan namun tak satu pun di antara mereka mengetahui keberadaan bibi Ong.


Bun Ho gelisah dan kuatir, lalu ia membuka lemari pakaian bibi Ong. Di lemari hanya tersisa pakaian yang telah ia berikan pada bibi Ong dan seluruh pakaian bibi Ong yang ia miliki tidak ada.


Bun Ho langsung lemas dan kemudian berteriak memanggil para pelayan dan pengawalnya yang melayani dan menjaga bibi Ong. Bun Ho menempatkan pengawal di sisi bibi Ong sejak keguguran.


Semua orang berkumpul di hadapan Bun Ho, mereka semua menundukkan kepalanya. Mereka tak berani melihat ataupun bersuara kepada Bun Ho.


“Di mana Ong’er? Kenapa tidak ada satu orang pun yang tahu keberadaannya. Apa yang kalian kerjakan!” bentak Bun Ho sambil mengepalkan tangannya.


Semua orang tertunduk dan gemetaran, tak ada yang berani menjawab.


“Kenapa kalian diam! Cari istriku jika kalian tidak ada yang bisa menemukannya, jangan harap kalian semua bisa menghirup udara lagi!” ucap Bun Ho dengan marah.


Bun Ho menggagap bibi Ong sebagai istrinya. Dalam hatinya hanya bibi Ong lah yang pantas menjadi istrinya.


Semua pelayan dan pengawal pada bubar, mereka mencari keberadaan bibi Ong.


Setelah kepergian para pelayan dan pengawal, Bun Ho meneteskan air matanya.


“Kenapa kau tega meninggalkanku sendiri Ong’er. Maafkan aku! Aku begitu bodoh telah masuk dalam jebakan Cai Lin! Jangan tinggalkan aku!” isak Bun Ho.


Pada dasarnya kepribadian Bun Ho sangat baik. Ia tidak pernah membedakan status orang dan ia pria yang suka menolong, meskipun ia terlahir dari keluarga terpandang.


Banyak kejadian buruk yang menimpanya, ia marah dengan keadaan yang telah menimpanya. Sehingga membuat perubahan pada karakternya, menjadi bengis dan tak punya perasaan.


Hanya bibi Ong yang mengerti dirinya, bibi Ong yang bisa menerima kelebihan dan kekurangannya.


“Aku harus menemukanmu, Ong! Tak akan aku biarkan kau meninggalkanku, hanya kau yang bisa mengerti diriku,” gumam Bun Ho