Kezia Story

Kezia Story
BAB 84



Perasaan seorang ayah akan selalu mengkhawatirkan putrinya, jika mempunyai sesuatu yang sangat di inginkan oleh banyak orang dari berbagai kalangan.


Namun Jun Ho saat ini hanya bisa berdoa dan berusaha melindungi putrinya agar jauh dari bahaya yang bisa mengancam keselamatannya.


Perasaan cemas, kuatir, bangga bercampur aduk. Ia ingin cepat pulih dan sehat kembali agar dapat selalu melindungi putrinya. Jun Ho mempunyai rencana jika masalah sudah selesai ia ingin mengundurkan diri. Ia ingin menikmati masa tuanya bersama orang-orang yang dicintainya.


“Lebih baik ayah beristirahat dulu, Yui’er akan menyiapkan makanan untuk kita. Nanti setelah makan kita bicara lagi, ayah akan di temani dengan hewan kontrak Yui’er!” ucap Mey Yui kepada ayahnya.


“Kamu memiliki hewan kontrak?” tanya Jun Ho membelalakkan matanya. Ia sangat terkejut jika putri kecilnya memiliki hewan kontrak.


Jun Ho merasa sedih sebagai ayah, ia tak banyak mengetahui tentang putrinya. Putrinya banyak menyimpan rahasia yang belum ia ketahui.


“Iya ayah, Yui’er memiliki tiga hewan kontrak. Yang satu masih berbentuk telur, nanti Yui’er kenalkan kepada ayah!” balas Mey Yui sambil tersenyum melihat reaksi ayahnya yang terkejut dan tak percaya.


Jun Ho tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melihat dua ekor hewan yang masuk ke ruangan dan satu telur yang melayang di udara.


“Ibu... ibu.. Xio-xio merindukan ibu!” ucap Xio-xio sambil melompat-lompat minta di gendong.


“Ho.. ho.. ho... Xio-xio lucunya ibu,” Mey Yui menangkap Xio-xio yang sedang melompat-lompat dan menggendongnya.


Mey Yui menggendong Xio-xio dan mengelus-elus kepala Mio-mio. Sedangkan Yuyu melesat dan bertengger di bahu Mey Yui.


“Kalian bertiga perkenalkan diri kalian kepada ayahku,” perintah Mey Yui kepada ketiga hewan kontraknya.


Mendengar perintah dari Mey Yui, Xio-xio meronta minta turun. Dia ingin naik ke tempat tidur Jun Ho, yang dia pikir Jun Ho adalah kakeknya.


Xio-Xio naik ke tempat tidur dan mengusapkan kepalanya ke wajah Jun Ho.


“Kakek salam hormat, aku Xio-xio rubah perak anak ibunda Mey Yui,” ucap Xio-xio sambil menundukkan kepalanya seperti memberi hormat.


Jun Ho tertawa melihat tingkah lucu rubah perak kecil. Kemudian ia mengelus-elus kepala Xio-xio yang sedang ingin bermanja.


Kemudian Yuyu melayang di atas tubuh Jun Ho memperkenalkan diri.


“Salam hormat hamba, tuan! Perkenalkan hamba Yuyu, Phoenix hewan kontrak kakak Mey Yui!” ucap Yuyu kepada Jun Ho.


Jun Ho melotot karena terkejut, Phoenix adalah hewan kontrak level surgawi. Banyak para kultivator yang ingin menjadikannya sebagai hewan kontraknya. Saat ia masih muda, banyak orang berlomba-lomba mencari keberadaan burung Phoenix tersebut.


Namun tak satu pun ada yang bisa menemukan keberadaan burung tersebut. Kini ia di kejutkan oleh putrinya yang selama ini terkenal sebagai gadis cacat yang tidak bisa berkultivasi namun justru memiliki burung Phoenix yang menjadi incaran banyak orang.


“Kalian bisa memanggilku seperti Xio-xio! Panggil aku kakek jika kamu mau,” ucap Jun Ho yang merasa takjub dan bangga dengan putrinya.


Jun Ho kemudian menoleh ke arah harimau putih yang tingginya sepinggang putrinya.


“Apakah kamu tidak memperkenalkan dirimu?” tanya Jun Ho kepada Mio-mio yang sedang berdiri di samping putrinya.


Mio-mio mendekat ke tempat tidur Jun Ho dan duduk kemudian memberi hormat kepada Jun Ho.


“Salam hormat kepada kakek Jun Ho, perkenalkan hamba Mio-mio Griffin si Harimau putih!” ucap Mio-mio kepada Jun Ho.


Belum hilang rasa keterkejutan Jun Ho dari rubah perak, burung Phoenix. Kini muncul griffin muda juga menjadi hewan kontrak putrinya.


“Hari ini putriku memberikan kejutan yang sangat luar biasa. Ayah sangat bangga kepadamu, namun ayah juga sangat kuatir dengan keselamatanmu. Banyak orang dari golongan putih dan hitam yang mengincar semua yang kamu miliki,” ucap Jun Ho.


“Ayah harap kamu berhati-hati,” ucap jun ho lagi mengingatkan Mey Yui.


“Yui’er akan menuruti nasehat ayah! Sekarang Yui’er akan memasak dulu, ayah akan di temani dengan Xio-xio dan Yuyu!” jawab Mey Yui.


“Pergilah memasak yang lezat, ayah juga sudah merasa lapar. Ayah akan menunggumu di kamar,” ucap Jun Ho.


Mey Yui mengacungkan jempol dan berkata,” siap ayahku yang tampan!”


Jun Ho tersenyum mendengar ucapan putrinya. Dalam hatinya ia bertekat untuk cepat sembuh agar bisa melindungi putrinya.


Mey Yui meninggalkan ayahnya di dalam kamar dan ia menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk ayahnya.


Tak terasa semua menu masakan sudah matang, Mey Yui menghampiri ayahnya yang sedang berbaring di tempat tidur.


“Ayah, makanan sudah siap. Apakah ayah ingin kita makan di kamar atau di ruang makan?” tanya Mey Yui.


“Lebih baik makan di ruang makan, ayah sudah bosan jika harus berbaring di tempat tidur. Ayah juga ingin melihat-lihat ruang dimensimu,” jawab Jun Ho.


“Baiklah jika ayah ingin makan di ruang makan. Tapi jika ayah masih lemah dan sakit pada luka tusuk yang ada di perut ayah, jangan di paksakan!” ucap Mey Yui.


Tadi Xio-xio banyak bercerita, Ming Se, A sen dan Yuan pernah datang ke ruang dimensimu!” ucap Jun Ho sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya dengan bantuan Mey Yui.


“Benar ayah, saat itu kak Ming Se dan kak A sen sendang terluka parah saat akan kembali melaporkan markas pemberontak. Setelah Yui’er periksa kondisi kak Ming Se, ternyata di dalam tubuh kakak ada tiga racun ganas yang bersarang pada tubuhnya!” jelas Mey Yui sambil menuntun ayahnya keluar dari kamar.


Jun Ho terkejut, putranya tidak pernah memberitahunya jika ia terkena racun ganas.


“Siapa yang berani meracuni putraku! Aku akan membunuhnya! Kakakmu tidak pernah memberitahu kepada ayah, jika terkena racun!” ucap Jun Ho geram.


“Ayah jangan marah tidak baik untuk kesehatan. Serahkan semua kepada kami, ayah harus cepat sehat dan Yui’er masih akan membantu ayah membersihkan semua sisa racun yang masih ada di dalam tubuh ayah!” jawab Mey Yui.


“Kau bilang masih ada sisa racun? Racun kalajengking sangat ganas, beruntung ayah memiliki putri yang hebat!” ucap Ju. Ho sambil menepuk-nepuk tangan putrinya.


“Sebenarnya selain racun kalajengking, ayah sebelumnya sudah terkena racun yang tidak di sadari oleh ayah!” jelas Mey Yui.


“Apa...?” Jun ho terkejut dengan ucapan putrinya.


“Iya, ayah. Nanti Yui’er beritahu dan Yui’er akan menceritakan semuanya pada ayah. Saat ini kita makan dulu, ayah duduk dulu dan cari posisi duduk agar ayah tidak merasa sakit!” ucap Mey Yui sambil membantu Jun Ho duduk di kursi makan.


Jun Ho menganggukkan kepalanya dan duduk perlahan-lahan agar nyaman saat makan.


******


Terima kasih sudah setia dan mohon maaf jika agak terlambat update.🙏🙏🙏


Jangan lupa Like dan komentarnya.