
Suasana jalan ramai penduduk yang lalu lalang, Lie Mey Yui dengan menggunakan cadar berjalan menuju kedai makan
Meskipun ia menggunakan cadar namun tidak mengurangi aura kecantikannya meski disembunyikan. Sorotan mata kekaguman para pengunjung pria yang mengagumi sosok wajah di balik cadar sangat terlihat samar.
Pelayan menyambut kedatangannya dengan ramah.
“Selamat datang di kedai kami, apakah nona ingin ruang privasi atau bersama? Jika nona ingin ruang privasi silahkan menuju lantai dua,” kata pelayan kedai tersebut.
“Aku memerlukan ruang privasi,” jawab Lie Mei Yui.
Mereka pun berjalan menuju anak tangga lantai dua, setelah sampai dan ia memesan makanan yang ada di kedai tersebut.
Makanan baru di hidangkan dan belum sempat dimakan, tiba-tiba terdengar suara berisik mengganggu acara makan siangnya. Pintu dibuka dengan kasar, muncul 6 pria berbadan kekar masuk ke ruangan Lie Mey Yui dengan tidak sopan.
Tanpa permisi salah satu pria bermata juling dengan wajah bercodet bekas luka, yang diduga pimpinan dari gerombolan itu, menghampiri meja dan duduk di depan Lie Mey.
“Cantik ikut bersamaku dan jadilah istri simpananku!” dengan percaya diri pria tersebut berkata diiringi suara tertawa dari anak buahnya.
Lie Mey Yui acuh tak acuh tanpa menjawab dan menatap pria yang ada di depannya, ia memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Brengsek! kamu tidak menganggap perkataan tuan kami!,” teriak pria yang berdiri di belakang pria juling itu.
Pria juling mengangkat tangannya sebagai tanda untuk diam dan tidak ikut campur lalu berkata.
"Aku suka gayamu yang acuh tak acuh jual mahal, tapi nanti setelah jadi simpananku akan aku pastikan kamu bertekuk lutut mengemis padaku tidak mau ku lepaskan". Hahaha..!, Si juling berkata sambil tertawa dan mengusap mulutnya dengan jempol tangannya.
Lie Mei Yui mendengar ucapan si juling hanya mengabaikan tanpa melirik karena jijik.
“Ini orang pede banget, ya ! sudah juling, perut seperti bawa drum, kurang ajar, jelek pula. Gak ada bagus-bagusnya,” dalam hati Lie Mei
"Dasar pelacur sialan!"
Maki si juling marah karena diabaikan oleh Lie Mei.
“Bawa wanita ini ke markas setelah aku nodai kalian bisa mencicipi secara bergilir,” teriak si juling pada anak buahnya.
Serentak anak buahnya senang karena akan kebagian mencicipi wanita cantik dan mulus, mereka bergegas melaksanakan perintah tuannya dan berjalan menuju Lie Mei.
Semua pria tersebut hampir mendekati lie Mei dengan gerakan tak terduga Lie Mei Yui melemparkan jarum akupuntur ke titik vital pada 5 orang yang mendekatinya.
Jangan lupa di kehidupan sebelumnya dia adalah Kezia pemegang sabuk hitam taekwondo dan sudah sering mendapat juara dalam setiap perlombaan. Ia pernah mempelajari teknik beladiri china dari kakek Gu, apalagi ia sering berlatih bersama Mao-mao. Jika menghadapi berandalan seperti itu hal yang mudah.
Si Juling melotot dan mulutnya ternganga karena terkejut dengan gerakan yang tak terlihat tapi mampu membuat anak buahnya terkapar tanpa adanya luka.
"Braaak!"
Suara gebrakan meja dari si juling dan kemudian membalikan meja yang penuh makanan.
Lie Mei Yui melesat mundur dan menghindari serangan dari si juling.
Serangan si Juling lumayan keras, terdengar dentuman ledakan dari serangan yang berhasil di hindarinya.
"******! akan aku lumpuhkan kamu dan ku siksa”,Maki si Juling pukulannya tidak bisa mengenai Lie Mei.
Lie Mei Yui mengeluarkan kipas naga airnya dan mengibaskan ke arah si Juling, hembusan angin yang sangat kencang menerpa tubuh si Juling dan memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
"Rasakan kipas nagaku!," kata Lie Mei sambil menyeringai.
“Berguna juga ini kipas, selain buat kipasan saat kepanasan, bisa juga dipakai gebukin si juling”, gumamnya dalam hati.
Si Juling terluka parah dan langsung jatuh ke lantai.
Lie Mei Yui dengan santai melengggang keluar, saat melewati tubuh si Juling ia menginjak jari tangan.
Terdengar suara retakan tulang dan teriakan si Juling.
"Aaarrgggg!"
Si Juling langsung pingsan, lalu Lie Mei keluar dari ruangan tersebut. Kemudian melemparkan kantong koin emas pada pelayan.
Pelayan terkejut saat menangkap kantong tersebut.
“Terima kasih atas bantuannya, nona! Mereka sering mengganggu pengunjung kedai kami,” ucap pelayan sambil membungkuk.
Lie Mei Yui melambaikan tangan dan berjalan keluar meninggalkan kedai tersebut.
Baru keluar dari kedai terdengar suara teriakan dan banyak orang lari menghindar.
Suara kusir kuda berteriak sambil mencambuk kudanya.
Melihat hal itu, ia langsung melesat dan menyambar anak kecil tersebut.
Kemudian melempar jarum peraknya ke kaki kuda, kuda meringkik kesakitan dan tersungkur roboh ke tanah. Sambungan kereta patah, gerbong penumpang terbalik.
"Bajingan! siapa yang berani mencelakai Nona kami?”teriak kusir kuda.
Pengawal dan pelayan membantu nona muda yang ada di gerbong kereta kuda, rona merah di wajah nona muda itu terlihat, nampak ia sedang menahan marah.
“Siapa yang berani mengganggu jalanku dan mencelakaiku?” tanya nona muda tersebut dengan geram.
Semua penduduk yang melihat kejadian tak berani berbicara, mereka semua menundukan wajahnya.
Kemudian salah satu pengawalnya menunjuk Lie Mei Yui.
“Hai, kamu! pasti kamu yang sudah mencelakai kuda kami. Apakah kamu tidak tau siapa yang ada di dalam kereta, berani-beraninya kamu mencelakai nona muda kami!” teriak pengawal itu pada Lie Mei Yui.
“Siapa yang mencelakai kuda kamu? Apakah kamu ada bukti jika aku mencelakai kuda kamu? Semua orang tau aku hanya menyelamatkan anak kecil ini,” sanggah Lie Mei Yui.
“Kurang ajar, kamu berani pada kami! Apakah kamu tidak tau nona kami adalah putri kesayangan tuan menteri keuangan Wei An! Kamu diam di tengah jalan mengganggu kereta kuda kami” maki pengawal itu
"Wes.. Angel.." guman Lie Mei Yui sambil menarik sudut mulutnya.
“Oe..! Paman khan tau ini jalan area pasar yang sangat ramai, banyak pejalan kaki yang lalu lalang. Jika paman mengerti dan paham, seharusnya tidak melajukan kereta kuda dengan cepat. Seperti orang yang sakit perut, yang ingin buang air besar jadi terburu-buru ingin ke toilet!”, balasnya tak mau kalah.
Mendengar perkataan Lie Mei Yui, semua orang yang mendengar tertawa.
Berbeda dengan rombongan nona dari keluarga Wei An, wajah mereka merah dan geram karena malu dan marah. Terutama nona muda tersebut, sebagai nona muda dari keluarga Wei An ia tidak pernah diperlakukan seperti itu.
"Sialan kau! Pengawal cambuk wanita bercadar itu!” perintah Wei lan putri dari menteri keuangan negara Tan.
Tanpa ragu pengawal Wei Lan mulai mengayunkan cambuk ke arah Lie Mei Yui yang sedang memeluk anak kecil yang telah diselamatkannya.
Cambuk di hadang oleh kipas naga air dan di hentakan kembali ke arah pengawal.
Pengawal itu terlempar beberapa meter menghantam tembok yang ada di belakangnya.
Melihat temannya terluka parah, yang lainnya marah dan melesat menuju Lie Mei Yui sambil melayangkan tinjunya.
"Pelacur kecil, kamu sudah melukai temanku terima lah pukulanku”, teriak salah satu pengawal
Lie Mei melayang ke atas menghindari serangan beruntun dari para pengawal Wei Lan.
"Baaaang…!”
Pukulan meleset dan ledakan kekuatan tenaga dalam dari pengawal tersebut mengenai pintu kedai yang ada di belakang Lie Mei.
"Weee.. Gak kena..! Hahaha… Paman! kalo mau memukul itu yang benar, masa angin di pukul,” ledek Lie Mei.
Merasa dipermainkan Lie Mei Yui, para pengawal marah dan menyerangnya dengan membabi buta.
Banyak penduduk yang terkena serangan yang nyasar, Lie Mei Yui hanya melompat-lompat ke udara dengan menggendong anak kecil.
Ia melesat ke arah penduduk yang tak jauh dari tempat kejadian kemudian ia menitipkan anak kecil itu ke salah satu bibi tua.
“Bibi, aku titip anak ini! tolong bantu aku menyerahkan anak ini ke orang tuanya,” ia berkata sambil melepaskan anak kecil dalam gendongannya, kemudian menuju kembali ke arah pengawal yang menggila.
“Paman lawan mu di sini jangan asal sembarangan menyerang orang yang tidak salah,” teriak Lie Mei dengan melambai-lambaikan tangannya.
"Ku bunuh kau, serang! teriak pengawal itu
"Baaanggg… Baaanggg! Buuukkk.. Buuukkk…Buuukkkk!
Suara orang jatuh, kemudian nampak beberapa tubuh pengawal yang menumpuk di atas tanah jadi satu.
Lie Mei Yui menepuk- nepuk kedua tangannya seolah-olah membersihkan debu yang ada di tangannya, denga acuh ia melenggang meninggalkan tempat itu.
Wei Lan sangat marah dan malu dengan kejadian tersebut.
“Awas kamu nanti, jangan panggil aku Wei Lan kalo tidak bisa membunuhmu,” geram Wei lan sambil mengepalkan tangannya.
Wei Lan mengajak rombongannya untuk kembali ke rumahnya dan akan melaporkan kejadian tersebut pada ayah tercintanya.