Kezia Story

Kezia Story
BAB 57



Di saat kedua insan sedang bermesraan, tiba-tiba terganggu dengan deheman Phu-phu. Mereka tak sadar jika sedari tadi Phu-phu berada di situ dan menyaksikan keromantisan mereka berdua.


“Ehem...!” deheman Phu-phu dengan malu-malu. Wajahnya merona karena harus menyaksikan kedua insan yang sedang berciuman.


Mey Yui sadar akan keberadaan Phu-phu lalu ia mendorong Yuan. Wajahnya merona menahan malu, ia lupa jika Phu-phu ada bersamanya.


“Maaf kan aku karena mengganggu kalian,” ucap Phu-phu malu-malu.


“Maafkan kami telah melupakan keberadaanmu,” jawab Yuan yang mengetahui jika kekasihnya malu.


“Tidak masalah, ayo kita masuk ke dalam. Aku kuatir ada yang melihat kalian berdua yang sedang di mabuk cinta,” goda Phu-phu sambil mengedipkan mata kanannya ke arah Mey Yui.


“Kak Phu-phu jangan godain aku... Aku jadi malu,” balas Mey Yui dengan malu-malu.


“Baiklah.. ayo kita masuk,” jawab Phu-phu.


Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam rumah reyot. Setelah masuk ke dalam rumah, Phu-phu meninggalkan mereka berdua. Yuan memandangi wajah kekasihnya dan ingin sekali menggodanya. Sangat menggemaskan ketika kekasihnya malu dan salah tingkah.


“Sayang.. sudah dunk! Jangan mandar mandir seperti setrika. Mataku juling melihatmu seperti setrika,” goda Yuan


“Kamu ini, ya... aku malu sama kak Phu-phu. Kenapa kalo cium aku gak lihat-lihat dulu, masih ada orang main nyosor saja,” ucap Mey Yui kesal


“Kamu ini lucu, sayang! Masa mau cium kamu, aku harus nolah noleh dulu untuk mencari tahu ada orang apa tidak? Mana bisa di rem jika melihat bibirmu dan suasana mendukung. Ya... gas saja,” goda Yuan dan tertawa gemas.


“Sayang... kamu godain aku! Tapi kalo di pikir-pikir benar juga apa yang kamu ucapkan. Masa iya saat sudah punya hasrat mencium terus berhenti dulu dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Untuk mengecek aman apa gak,” balas Mey Yui


Mereka berdua tertawa bersama membayangkan apa yang telah mereka bahas.


“Hahahaha....!”


“Nah itu tahu...! Kalo mau cium, ya.. cium saja. Siapa suruh melihat orang yang lagi asyik berciuman, betul gak?” ucap Yuan sambil berdiri menghampiri Mey Yui.


“Bukan begitu, sayang! Aku jadi gak enak saja sama kak Phu-phu. Eh ngapain kamu dekat-dekat denganku? Sudah benar-benar duduk, kok menghampiriku? Pasti sesuatu, ya... di otak kamu?” ucap Mey Yui.


“Hahaha... memang kekasihku ini sangat pengertian. Tadi kamu bilang kalo mau cium harus lihat situasi. Kuatir ada orang, sekarang sudah aman gak ada orang. Boleh dunk... aku cium kamu lagi, melanjutkan yang tadi di luar itu,” goda Yuan sambil menyentakkan pinggang Mey Yui.


“Sayang.. jangan seperti ini, jika kak Phu-phu gak enak. Masa dua kali kepergok bermesraan, takut kena gerebek warga!” canda Mey Yui.


“Biarkan saja kena gerebek, ujung-ujungnya di nikahkan. Itu yang aku nantikan,” bisik Yuan ke telinga Mey Yui dan sengaja menjilat cuping telinga Mey Yui.


“Sayang.. geli.. jangan seperti itu.. gak tahan geli,” ucap Mey Yui sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat geli ketika Yuan menggoda dengan menjilat cuping telinganya.


“Hahaha... masa hanya gitu saja sudah gak tahan geli?” Yuan semakin bersemangat menggoda Mey Yui. Pandangan matanya mengarah ke dua buah melon kekasihnya


“Jangan macam-macam, ya.. Apa yang kamu lihat,” ucap Mey Yui sambil menyilangkan kedua tangannya membentuk tanda X di depan buah melonnya.


“Siapa juga yang macam-macam? Hanya satu macam, sayang. Cuma penasaran dengan itu, buah melon produksi cap nona,” jawab Yuan dengan menaik turunkan alis matanya untuk menggoda Mey Yui.


“Satu macam kamu sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku. Mana ada buah melon produksi cap nona! Yang ada adalah s*s* segar cap nona,” ucap Mey Yui dengan kesal. Dari tadi Yuan selalu menggodanya.


“Kamu mulai mancing-mancing, ya? Jangan kau bangunkan singa yang sedang tidur,” jawab Yuan sambil mencubit pipi Mey Yui.


“Hahaha... dasar gadis nakal! Rasanya ingin aku masukkan karung dan agar bisa aku bawa ke mana-mana,” ucap Yuan gemas.


“Enak sekali mau masukin aku ke dalam karung. Kamu pikir aku kucing! Oh.. Kalo aku kucing betina kamu kucing jantannya, ya!” balas Mey Yui.


“Ya... Kamu kucing betina yang minta di kawini, kalau sudah musim kawin kucing betina pasti akan mencari perhatian kucing jantan seperti cacing kepanasan,” goda Yuan.


“Wah.. pelanggaran... yang ada bukan aku yang kepanasan. Tapi cacingmu itu yang kepanasan, ngomong-ngomong masa itu seperti cacing?” ledek Mey Yui dengan tersenyum.


“Sayang.. ini bukan cacing tapi ini naga anaconda yang sedang tidur. Nanti kalo kita sudah menikah kamu bisa melihat dan merasakan aksinya,” balas Yuan gemas.


“Ini ngomong apaan sih! Kok bisa jurusannya ke anaconda, ngadi-ngadi deh,” ucap Mey Yui.


“La.. siapa yang mulai membahas cacing kepanasan? Masa aku yang gagah seperti ini hanya sebesar cacing! Akan lebih baik kamu cek dulu, deh!” goda Yuan sambil menarik tangan Mey Yui dan menempelkan ke anaconda nya.


“Sayang.... kamu jangan mesum dunk...! Eh tapi kok penasaran, ya! Ini kok seperti ada pergerakan,” balas Mey Yui dengan polos sambil menatap wajah Yuan.


Yuan tertawa ngakak melihat reaksi dan ekspresi wajah Mey Yui, ia bukannya nafsu namun justru lucu dan menggemaskan.


“Sayang.. ekspresimu jangan seperti itu! Bukannya membuatku nafsu tapi justru membuatku ingin tertawa. Anaconda jadi mengantuk lagi dan tertidur pulas,” ucap Yuan.


“Memangnya aku kenapa? Salah kamu sendiri kenapa tertawa, jangan kamu salahkan aku kalo anacondamu mengantuk dan tertidur pulas. Biar saja tidur terus atau koma gak bangun-bangun,” balas Mey Yui.


“Jangan dunk...! Kalo sampai koma dan tidak bangun-bangun, kamu akan menyesal. Karena itu kebahagiaanmu kalo gak bisa bangun lagi bisa jadi bencana, sayang!” balas Yuan


“APaan sih, sampai bilang bencana... Kalo memang seperti itu, untukku sangat mudah. Tinggal tukar tambah atau di tukar dengan yang baru. Gitu saja kok repot, balas Mey Yui dengan gaya centil, sengaja menggoda Yuan.


“Ini namanya kekasih yang seperti raja tega, masa mau tukar tambah atau tukar yang baru? Tak akan aku biarkan hal itu terjadi. Jangan berani-berani kamu mencari pria lain bahkan memikirkan pria lain pun tak akan aku ijin kan,” ucap Yuan mulai kebaperan.


“Hahaha...! Kenapa kamu jadi darah tinggi, sayang?” Ucap Mey Yui sambil memeluk Yuan.


“Aku gak suka kamu mempunyai pikiran akan menukarku dengan pria lain. Setelah pertunanganmu di batalkan, kita langsung menikah. Aku akan melamarmu terlebih dahulu setelah itu kamu ikut bersamaku ke kerajaan Li,” ucap Yuan dengan tegas.


“Lo... kamu kok jadi marah beneran! Jangan buru-buru menikah, sayang! Masa setelah pertunanganku di batalkan, kamu langsung melamarku?” balas Mey Yui.


“Aku gak peduli! Kamu hanya tinggal menurut saja dan jangan membantah,” ucap Yuan dengan tegas.


“Sebahagia kamu saja, aku mengikuti apa mau kamu,” balas Mey Yui.


“Ini baru gadisku, menurut apa mau prianya. Sekarang aku mau kamu cium aku,” goda Yuan.


Mey Yui kesal karena dipermainkan oleh kekasihnya. Ia mendorong Yuan dengan kesal.


“Dasar pria mesum! Sekarang waktunya kamu untuk pergi dari sini. Jika kamu di sini terus bisa-bisa akan terjadi hal-hal yang diinginkan,” ucap Mey Yui sambil mendorong tubuh Yuan.


Yuan mengacak-acak rambut Mey Yui sambil tersenyum. Kemudian ia melesat meninggalkan rumah kekasihnya tak lupa ia mencuri ciuman di bibir Mey Yui.


Mey Yui hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekasihnya yang sangat berbeda jika bersamanya.