Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 99



Gavin menatap dirinya di cermin dan memasang jasnya. Dia menatap


bayangan dirinya yang sehat dan begitu tampan. Berbeda sekali dengan dirinya yang dulu, waktu Yaya menghilang.


Memang waktu itu ia tidak kehilangan ketampanannya, buktinya dikantor banyak wanita yang sering mencuri-curi pandang padanya. Dan di bar, ada yang terang-terangan mendekatinya. Namun waktu itu, tak sedikitpun kebahagiaan terpampang di wajah Gavin. Sampai dia menemukan belahan jiwanya. Semangat hidupnya kembali seratus persen. Sungguh Yaya adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya sanggup untuk melakukan apapun. Wanita yang amat dia cintai setelah melalui begitu banyak salah paham. Gadis yang membuat hidupnya terasa lebih sempurna.


Dan hari ini, Gavin tidak mau berlama-lama lagi. Ia ingin segera menjadikan Yaya miliknya yang sah. Dan tak ada orang lain bisa merebutnya dari sisinya. Ya, Gavin akan melamarnya. Menikahi Yaya, hidup bersama gadis itu sampai maut yang memisahkan mereka.


Gavin menatap kotak beludru kecil yang ada di dalam genggamannya, lalu memasukkannya ke saku dengan bersemangat. Malam ini dia berharap lamarannya akan diterima oleh Yaya. Sebuah lamaran yang pasti indah. Hari ini akan menjadi hari spesial bagi mereka berdua.


Restoran tempat mereka pertama berkencan akan menjadi saksi cinta mereka. Dan mereka akan terikat dalam ikatan suci, hidup bahagia


selamanya. Gavin akan merengkuh Yaya dalam pelukannya, berbagi kasur yang sama, dan memiliki gadis itu seutuhnya.


Sambil menahan debaran di dadanya, Gavin memasukkan cincin itu ke dalam saku jas-nya. Dan bersamaan dengan itu, ponselnya berbunyi, Gavin mengangkatnya dan mengerutkan keningnya. Telepon


dari rumah sakit? mengangkatnya, dan suara Bintang menyahut dengan panik, “


"Gavin! Datanglah ke rumah sakit segera! Bang Putra... Bang Putra kritis, dia kecelakaan, kondisinya parah, dan dia memanggil-manggil namamu!"


                                    ***


Di tempat lain, Yaya mematut dirinya di depan cermin, dia tersenyum dan pipinya merona. Ah ya, semoga saja Gavin memuji kecantikannya ini, dengan gaun warna lilac tanpa lengan yang baru dibelinya, khusus untuk acara makan malam bersama Gavin. Ia ingat Gavin menyuruhnya berdandan yang cantik. Mungkin hari ini Gavin akan ... Yaya tersenyum sendiri.


Tadi dia pulang cepat dari kantor, untunglah sedang tidak banyak pekerjaan, Shinta juga tidak banyak ulah dua hari ini. Sepertinya takut Raxel akan menurunkan jabatannya sebagai ketua tim. Setelah pulang kerja, Yaya kemudian langsung pulang, berdandan dan mempercantik diri.


Yaya ingin tampil sempurna malam ini, khusus untuk Gavin seorang. Jantungnya berdebar sambil melirik jam di dinding kamarnya, sebentar lagi Gavin pasti akan datang menjemputnya.


Lalu tiba-tiba ponsel di mejanya berbunyi, Yaya mengambilnya dan melihat nama Gavin di sana, dia tersenyum lebar dan mengangkatnya.


"Gavin?" Kamu sudah di depan? aku sudah siap..."


"Sayang..." Suara Gavin terdengar tegang, dari backsound suara di


belakangnya, sepertinya lelaki itu sedang di jalan, "Kamu... bisakah kamu berangkat sendiri ke rumah sakit? Aku sudah memesankan taksi untukmu. Kita bertemu di sana ya?"


Yaya mengerutkan keningnya bingung, kenapa Gavin merubah rencana mereka mendadak? Kenapa menyuruhnya ke rumah sakit? Siapa yang sakit?


"Kamu sakit?" Yaya setengah berteriak panik.


"Bukan, bukan aku, tapi bang Tama. Dia kecelakaan. Kata Bintang sekarang keadaannya kritis, sekarang sementara di operasi."  suara Gavin putus-putus karena sedang di jalan, lalu klik. Percakapan mereka terputus begitu saja. Mungkin Gavin sedang menyetir dengan terburu-buru. Yaya bisa mendengar nada bicaranya yang panik.


Gadis itu masih terpaku dengan ponsel di telinganya, jantungnya ikut berdebar kencang, kak Putra kecelakaan? Kondisinya kritis?


Rasa cemas berkecamuk di benaknya. Tetapi ia berusaha menyingkirkannya dengan segera, dan berdoa dalam hati semoga keadaan kak Putra baik-baik.


Yaya meraih tas tangannya, lalu cepat-cepat keluar rumah. Berharap taksi yang menjemputnya untuk mengantarnya ke rumah sakit sudah ada didepan.


                                   ***


Gavin berlari melewati koridor rumah sakit, menuju ke ujung lorong tempat Putra dirawat, dia dengar dari perawat yang bertugas didepan tadi kalau pasien kecelakaan bernama Putra sudah selesai di operasi dan telah dipindahkan ke kamar pasien. Saking tergesa nya Gavin berjalan, dia bertabrakan dengan Bintang yang melangkah keluar kamar rawat Putra.


"Gav," Bintang bergumam, menoleh sedikit ke arah kamar Putra di belakangnya.


"Bagaimana kondisi bang Putra ?" pria itu menahan napas. Berbeda dengan Bintang yang sama sekali tak terlihat panik, seperti suaranya ketika menelpon tadi. Pria itu jauh lebih tenang sekarang.


"Kata dokter bang Putra sudah melewati fase kritis. Operasinya berhasil. Tadi dia sempat kejang-kejang hebat dan kehilangan kesadarannya, tetapi para dokter berhasil mengembalikannya. Sekarang bang Putra masih belum sadarkan diri, tapi kata dokter tidak perlu khawatir. " Bintang pikir Putra akan meninggal tadi.


"Bang Putra manggil-manggil nama kamu tadi." ucapnya lagi.


"Kenapa sampai kecelakaan?"


"Aku belum tahu jelasnya, kemungkinan rem mobilnya blong. Aku sudah menelpon polisi untuk memeriksa. Kau masuklah, temani bang Putra. Biar aku yang urus masalah mobilnya. Aku harus ke kantor polisi sekarang." jelas Bintang. Gavin masih ingin bertanya karena penasaran. Tapi nanti saja. Ia percaya Bintang bisa mengurus semuanya dengan baik.


"Gavin!" suara Yaya yang tiba-tiba muncul menghentikan percakapan Bintang dan Gavin sebentar. Gavin langsung meraih pinggang Yaya hingga gadis itu menempel padanya. Lalu menghadap Bintang lagi.


"Ya sudah, hubungi aku kalau ada apa-apa." Katanya. Bintang mengangguk. Ia nampak heran karena menyadari penampilan pasangan kekasih tersebut namun pria itu memutuskan fokus lagi ke masalah utama. Tak lama kemudian ia lalu pamit meninggalkan pasangan tersebut.


Pandangan Gavin turun ke Yaya. Tersenyum lembut ke gadisnya itu,


"Ayo masuk," katanya lalu merangkul Yaya masuk ke dalam.