
"Jelaskan padaku, kenapa kalian bertengkar." Raxel memandangi Yaya dan Shinta bergantian. Wajahnya datar namun nada bicaranya sarat akan ketegasan. Shinta yang sejak tadi menunduk mengangkat wajah. Dibanding Yaya, dia jauh lebih tegang. Karena Yaya amat santai berdiri didepan atasan mereka yang notabenenya adalah pemilik perusahaan itu.
Jelas Shinta tegang dan merasa gugup. Tidak pernah ia berhadapan langsung dengan seorang Raxel yang terkenal disiplin dan kadang kejam pada karyawannya. Apalagi kalau karyawan laki-laki itu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginannya. Raxel bahkan tidak segan-segan memecat mereka.
Mungkin dari semua karyawan, Raxel hanya terlihat manusiawi pada Yaya. Buktinya Yaya tidak dipecat, di skors atau bahkan di tegur oleh Raxel langsung karena masalah absen. Bahkan dari hari pertama. Itulah yang membuat Shinta merasa iri dan tidak suka pada Yaya. Kinerja buruk tapi diperlakukan dengan baik. benar-benar tidak adil. Shinta melirik Yaya sinis kemudian menatap Raxel lagi.
"Dia tidak melakukan pekerjaan dengan baik, tapi merasa dirinya benar bahkan berani melawanku sebagai atasannya." kata Shinta. Dia akan berusaha membuat Raxel tahu bahwa Yaya tidak pantas bekerja dikantor mereka. Masih banyak pekerja yang lebih baik dari gadis itu.
Raxel tampak tenang. Kini pandangannya fokus ke Yaya.
"Apa alasanmu?" tanyanya. Karena sebagai pimpinan pria itu harus mendengar dari dua sisi.
Yaya mengangkat wajah lalu mengembuskan napas.
"Tidak ada. " sahutnya santai. Percuma juga menjelaskan. Lama. Panjang, dan hanya membuang-buang waktu saja. Yaya tahu dia memang salah melawan Shinta sebagai atasannya. Tapi itu karena wanita itu sendiri yang selalu mencari-cari kesalahannya dan menganggap semua yang dia lakukan benar. Yaya hanya membela dirinya, jadi dia berani bicara melawan wanita itu. Dia rasa Raxel adalah pimpinan yang cukup baik dalam mengambil keputusan. Jadi walau dia tidak berjuang membela dirinya sendiri, Raxel pasti tahu bagaimana pria itu menanggapi masalah keduanya.
"Lihat, benarkan? Dia tidak bisa memberi alasan karena memang dia yang salah." Shinta menggunakan kesempatan itu untuk membela diri.
"Jadi menurutmu kau benar? Apa sebagai atasan kau harus sampai menggunakan kekerasan pada bawahanmu?" Raxel menatap Shinta tajam.
"Aku tidak menggunakan kekerasan." balas Shinta tidak terima.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau melempari file ke arahnya." Raxel memicingkan mata.
"I ... Itu tidak sengaja." Shinta masih mencoba membela diri.
"Siapa namamu?" tanya Raxel lagi.
"Shinta pak,"
"Aku tidak tahu sebesar apa kontribusimu pada perusahaan ini sampai diangkat menjadi ketua tim. Aku menandatangani persetujuan pengangkatan statusmu karena percaya pada pilihan mereka. Tapi tindakanmu hari ini membuatku sangat kecewa. Kau tahu seorang pemimpin harus memiliki sikap yang baik dalam semua hal bukan? Aku sudah memutuskan, jika sikapmu tidak berubah seminggu kedepan, aku akan segera mengganti ketua tim satu." kata Raxel panjang lebar dan mengambil keputusan akhir. Shinta merasa tidak terima dan malu.
"Bagaimana dengannya? Dia terbukti melawanku," katanya menunjuk Yaya.
"Yaya, minta maaf pada atasanmu sekarang." kata Raxel. Caranya menyebut nama Yaya lebih membuat Shinta tidak suka. Karena jelas-jelas itu terdengar kalau Raxel dan Yaya cukup dekat. Berarti dia benar, Raxel pasti pilih kasih. Namanya saja tidak mau disebut pria itu, tapi dia memanggil Yaya dengan nada yang terdengar lembut.
Yaya mau tak mau menghadap Shinta.
"Maaf," katanya asal. Terkesan tidak tulus. Karena Yaya tahu, meski ia minta maaf dengan tulus, tetap saja wanita itu tidak akan terima. Yaya sudah tahu modelan wanita seperti Shinta. Hidupnya hanya dipenuhi dengan iri hati.
"Pak Raxel, aku ingin anda memberinya hukuman. Sudah berkali-kali dia melawanku, permintaan maafnya juga sangat tidak tulus. Aku hanya tidak ingin semua karyawan berpikir anda pilih kasih padanya."
"Kau mencoba mengaturku? Aku pilih kasih atau tidak, itu adalah urusanku. Kalau kau ingin berada di posisinya, setidaknya kau harus berusaha menjadi seseorang yang pantas untuk diperlakukan seperti itu." lama-lama kesal juga Raxel pada perempuan itu. Tidak ada yang berhak mengaturnya di perusahaannya sendiri.
Shinta tertunduk malu.
"Keluarlah. Panggil Ria ke sini." kata Raxel kemudian lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil memijit pelan kepalanya yang terasa pusing. Yaya dan Shinta berbalik.
"Yaya, kau tetap di sini." perkataan Raxel membuat langkah Yaya terhenti. Shinta sempat berhenti sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya. Hatinya dipenuhi rasa benci terhadap Yaya. Gadis itu membuatnya terlihat tidak becus didepan Raxel. Padahal dia sudah bekerja keras selama ini untuk mendapat pengakuan, tapi semuanya jadi sia-sia. Raxel memandang rendah dirinya sekarang. Gara-gara gadis itu. Tunggu saja pembalasannya.