
Yaya menangis tersedu-sedu dalam pelukan Tama setelah mendengar cerita sang kakak.
Papa ....
Ia tidak menyangka papanya akan menderita penyakit yang sama dengannya, bahkan lebih mematikan karena kondisinya yang sudah tua. Kakaknya bahkan bilang bahwa mereka berdua harus mempersiapkan diri. Artinya .... Tidak, Yaya tidak mau memikirkan hal itu.
Tiba-tiba gadis itu teringat mimpi buruknya semalam. Apa itu pertanda buruk? Tidak, tidak! Ia masih merasa semua ini seperti mimpi.
"Kakak," gadis itu mengangkat wajahnya menatap Tama.
"Bawa aku ketemu papa," pintanya. Ia tidak mau lagi menunda. Ia takut kalau dia menunda bertemu, papanya akan ...
"Ayo," lalu keduanya beranjak dari situ.
Kira-kira dua puluh menit perjalanan barulah kakak beradik tersebut sampai di rumah sakit. Rumah sakit yang sama tempat Yaya dirawat dulu, juga tempat kerjanya dokter Laska sebelum pria itu pindah ke rumah sakit diluar daerah. Ya, dokter Laska tidak bekerja di rumah sakit ini lagi, sudah hampir lima tahun. Dokter berbakat itu lebih senang bekerja di rumah sakit yang sekarang dia ditempatkan.
Yaya akui rumah sakit ini sudah banyak berubah. Lebih baik dari sebelumnya. Ketika kakaknya berhenti, ia ikut berhenti. Mereka berhenti di depan kamar rawat papa mereka. Yaya menahan napas gugup saat sang kakak membuka pintu. Ia bersembunyi dibelakang punggung Tama.
"Pa," Tama memanggil lelaki tua itu dengan suara pelan. Mata papa mereka memang tertutup tapi Tama tahu pria tua itu sama sekali tidak tidur. Kepala Yaya sesekali menyembul dari belakang punggung Tama dan sesekali mengamati papanya yang terbaring dengan mata terpejam. Gadis itu merasa sedih tapi ditahannya. Ketika melihat ada pergerakan dari pria tua itu, Yaya cepat-cepat bersembunyi lagi dibelakang sang kakak.
"Tama, sudah selesai kerja?" gumam papa mereka lemah. Tama tersenyum.
Laki-laki itu menggeleng.
"Belum, aku ke sini bawa seseorang. Katanya mau ketemu papa. Coba papa liat siapa yang datang," lalu Tama menggeser badannya sedikit ke pinggir, dan Yaya menampakan diri ke lelaki tua itu dengan ragu-ragu.
"Papa," gumamnya pelan. Airmata sudah menumpuk di pelupuk matanya, tidak sanggup melihat ketidakberdayaan papanya. Ia memang pernah sakit hati pada lelaki tua itu, tapi melihatnya tidak berdaya seperti ini dirinya merasa sedih.
"Yaya, kamu kembali nak? Ayo ke sini, papa mau lihat kamu." suara papanya bergetar. Tampak sangat lemah. Yaya tak kuasa lagi menahan tangis dan langsung menghambur ke pelukan lelaki paruh baya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit tersebut.
"Papa ...,"
"Kamu nggak marah sama papa lagi? Nggak bakal pergi lagi kan?" Yaya menggeleng-geleng kepala. Mana bisa dia pergi lagi setelah tahu kakak dan papanya sudah tidak membencinya terutama keadaan papa mereka,
"Aku janji nggak akan pergi lagi. Aku janji bakal temenin papa di sini. Papa harus kuat ya," ucap Yaya sambil menyeka air matanya. Papanya tersenyum membelai pipi putrinya lembut,
Yaya balik tersenyum.
"Aku udah maafin," balasnya tulus.
"Tama," sang papa memiringkan kepala menatap Tama yang berdiri dibelakang Yaya dari tadi. Pria itu mendekat. Papanya meraih tangannya lalu menggapai tangan Yaya, dan menatap keduanya dengan senyuman bahagia. Seperti tak ada lagi beban dalam hidupnya.
"Papa harap kalian berdua akan selalu menyayangi. Tama, jaga adikmu baik-baik." Tama dan Yaya saling berpandangan. Tanpa diminta pun Tama akan melakukan hal itu.
Namun ada perasaan yang ganjal di hati mereka masing-masing. Papanya seolah sedang mengucapkan kalimat perpisahan pada mereka. Tama terus berdoa dalam hati, ia berharap papanya akan terus bertahan hidup.
"Yaya,"
"Iya pa?"
"Kakak kamu sangat sibuk kerja sampai sering lupa makan. Lihat badan kurusnya. Sebagai adik kamu harus terus menasehatinya, sering-seringlah temani kakak kamu makan,"
"Papa tenang saja," walau sedih, Yaya berusaha terlihat ceria didepan papanya. Ia ingin papanya senang dan terhibur.
"Papa bangga bisa melihat putra dan putri papa tumbuh dengan sangat baik, papa bisa tenang sekarang," gumam lelaki paruh baya itu lagi dengan senyuman lebar. Sesekali ia terbatuk. Namun hanya pria tua itu saja yang tampak senang, berbanding terbalik dengan Tama dan Yaya. Karena keduanya sama-sama bisa merasakan hal yang sama dalam batin mereka.
***
"Kamu yakin mau tidur di sini? Atau langsung pindah ke rumah saja?" tanya Tama untuk yang ketiga kalinya. Ia berada di apartemen Yaya sekarang. Langsung mengantar gadis itu dari rumah sakit, sekalian melihat tempat tinggalnya.
"Iya, kalau mau pindah besok saja."
"Tapi amankan di sini?" Yaya tersenyum.
"Kalo nggak aman, ngapain aku bertahan di sini coba," balasnya. Tetap saja Tama masih khawatir. Namun pada akhirnya Yayalah yang menang dalam perdebatan kecil itu. Tama tidak memaksanya lagi. Apalagi selama ini gadis itu sudah hidup sendiri, pastilah dia sudah sangat mandiri sekarang.
"Ya udah, kalau gitu kakak pulang dulu, jaga dirimu." ucap Tama kemudian. Mereka sudah tidak canggung seperti tadi siang, saat pertama kali bertemu lagi.
Selepas kepergian Tama, Yaya langsung mandi dan beristirahat. Besok saja telpon Gavin. Bercerita tentang hari ini. Sepertinya pria itu juga sibuk, karena sejak tadi tak ada panggilan yang masuk di ponselnya.