Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 53



Sudah lebih dari dua jam Yaya sadar. Kondisi tubuhnya sudah mulai membaik. Namun ia belum bicara sepatah katapun. Bukan tidak bisa, tapi tidak tahu mau bicara apa. Gavin dan Tama terus duduk di sampingnya, bicara padanya dengan nada suara lembut, tidak seperti biasanya. Namun itu sama sekali tidak membuat gadis itu merasa senang.


Ia tidak tahu kenapa. Harusnya ia bahagia. Ini adalah keinginannya sejak lama. Ia harap orang-orang yang dia sayangi memperlakukannya dengan baik seperti sekarang. Tapi, kenapa ia tidak bahagia? Apa karena perubahan itu terlalu mendadak? Atau karena merasa mereka hanya bersimpati pada penyakitnya? Yaya benar-benar tidak bisa membedakan sekarang. Ia butuh waktu. Hatinya masih sakit mengingat perlakuan mereka padanya dulu. Baik Gavin maupun kak Tama, keduanya sudah sangat mengecewakannya. Dia butuh waktu.


"Dek, makan dulu yah." gumam Tama dengan nada membujuk. Yaya menatap sang kakak tanpa ekspresi di wajahnya. Lalu menoleh ke Gavin yang memegang mangkok berisi bubur miliknya. Ketika pria itu mengarahkan sendok ke mulut Yaya, gadis itu menolak dengan  memalingkan wajah ke arah lain. Gavin dan Tama berpandangan. Hanya ada mereka bertiga di ruangan itu, dokter Laksa sudah keluar sejak tadi. Pria itu sedang rapat dadakan dengan tim yang akan ikut operasi Yaya nanti.


"Yaya, kamu harus makan. Biar cepet sembuh." ucap Tama lagi. Tapi Yaya sama sekali tidak peduli. Lagipula keinginannya untuk hidup lebih lama sudah tidak ada lagi. Alasannya untuk hidup bahkan sudah hilang. Dulu dia ingin sekali hidup bahkan hanya demi Gavin, karena papa dan kakaknya tidak membutuhkannya lagi. Namun semua perasaan itu mendadak hilang sekarang. Ia sadar dirinya tidak bisa memiliki Gavin, Gavin tidak mencintainya. Sekarang yang ada dihadapannya hanyalah sekumpulan orang-orang yang merasa simpati pada hidupnya yang menyedihkan.


Yaya yakin kalau dia tidak sakit, mereka tidak akan pernah bersikap sebaik ini padanya. Bahkan berbicara dengannya pun mereka mungkin tidak sudi. Jangan salahkan pikirannya yang terlalu negatif. Baginya itu adalah kenyataan. Dia hidup lama dengan kepahitan itu.


"Yaya, aku suapin yah." kali ini giliran Gavin. Tatapannya begitu lembut. Namun Yaya tidak butuh itu lagi sekarang. Ia lebih memilih sendiri.


"Aku nggak pengen makan." ucap gadis itu dingin. Penolakan itu jelas membuat Gavin sedih. Namun kalau mengingat perlakuan kasarnya pada Yaya selama ini, itu semua belum seberapa. Dia memang pantas mendapatkannya.


"Biar gue aja."


Pandangan mereka sama-sama menatap ke Savaro yang tiba-tiba muncul dari depan pintu. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan perawat yang kebetulan mengontrol mamanya tadi. Mereka berbicara tentang pasiennya dokter Laska yang sudah sadar, tentu saja Savaro langsung tahu kalau yang tengah mereka bicarakan adalah Yaya, karena mereka menyebut pasien kesayangannya dokter Laska. Mendengar Yaya yang sudah sadar, Savaro langsung datang menemui gadis itu. Ia sudah kangen berat.


Meski berat memberikan mangkok tersebut pada Savaro, Gavin akhirnya memberikannya juga. Ia tidak boleh egois sekarang. Ia tahu Yaya dan pria itu dekat, mungkin saja Savaro bisa membujuk Yaya agar mau makan. Tidak apa-apa yang penting Yaya mau makan.


Dada Gavin terasa sesak. Jadi begini rasanya ketika melihat orang yang kita cintai tersenyum tulus pada pria lain. Pasti Yaya merasakan hal yang sama juga ketika dia menolak gadis itu dan bersikap dingin padanya.


"Hei, makan dulu yah. Nanti aku sedih kalau kamu sakit lagi." Savaro berusaha membujuk. Awalnya Yaya ingin menolak, namun melihat wajah memelas yang sengaja dibuat selucu mungkin oleh Savaro, gadis itu tidak mampu menahan tawanya dan akhirnya menuruti pria itu. Ia membuka mulut, menerima makanan  itu.


"Gitu dong, pinter." ucap Savaro lagi seolah melupakan orang lain yang berada diruangan itu juga. Gavin memutuskan duduk di sofa yang berada dibagian tengah ruang vvip tersebut, sedang  Tama sendiri masih terheran-heran menatap Savaro.


Dari tampang beringas dan wajah dingin pria itu, Tama berpikir Savaro malah lebih dingin dan tak tersentuh dibanding Gavin. Namun saat melihat interaksinya dengan Yaya, sepertinya ia salah mengira. Atau, pria itu berlaku seperti itu hanya didepan adiknya saja. Tama baru sadar, ternyata banyak yang naksir adiknya ini. Kalau saja dia tidak cuek dan meninggalkan Yaya sendiri, mungkin ia sudah tahu siapa saja laki-laki yang ada di sekitar Yaya. Siapa sahabat-sahabat gadis itu. Sayang sekali ia menyia-nyiakan banyak kenangan bersama sang adik. Itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya. Bahkan dirinya tidak ada di saat Yaya sungguh-sungguh membutuhkannya.


"Gimana, udah mendingan? Kepala kamu masih sakit?" tanya Savaro lagi. Yaya menggeleng. Ia memang merasa sudah baikan. Entah sakit kepala itu akan menyerang kapan, tapi sekarang ia merasa sudah jauh lebih sehat.


"Mama kamu?" itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Yaya setelah ia sadar. Ia lupa tadi kalau masih ada Savaro yang benar-benar peduli padanya. Sayang sekali pria itu muncul saat hatinya benar-benar sudah menjadi milik Gavin. Yaya benar-benar menganggap Savaro sebagai sahabat. Ia adalah sosok lelaki yang sangat baik. Yaya berharap pria itu bertemu dengan seseorang yang benar-benar tulus mencintainya.


"Mama lagi istirahat, udah dikasih obat sama dokter tadi." jawab Savaro lembut. Ia kembali menyuapi Yaya. Sesekali gadis itu melirik ke tempat Gavin duduk. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain saat menyadari pria itu juga sedang menatapnya.


Sebenarnya Yaya penasaran pada laki-laki yang dia cintai itu. Semenjak membuka mata tadi, ia menyadari Gavin tampak kelelahan seperti orang yang jarang tidur. Kenapa? Apa Gavin seperti itu karena menjaganya? Yaya menggeleng-geleng kuat. Tidak. Mungkin dia yang terlalu percaya diri.