Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 62



Savaro tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat Yaya. Gadis itu ditemukan. Setelah bertahun-tahun ini, akhirnya Savaro bisa melihat gadis itu lagi. Masih jelas dalam ingatannya ketika Yaya menghilang dulu. Waktu itu dia sangat sedih, berhari-hari ia merindukan sosok perempuan pertama yang hidup dalam hatinya tersebut, bahkan sampai sekarang ini. Perempuan pertama yang dia cintai dengan sepenuh hati. Bahkan sampai sekarang.


Savaro memang tidak hampir gila seperti Gavin yang kehilangan gadis itu dulu, tapi rasa rindu dan rasa cintanya terhadap Yaya tidak berkurang sedikitpun. Dan kini pencariannya tidak sia-sia. Dengan mulus dirinya bisa mengikuti mobil yang membawa Yaya sampai ke sebuah desa terpencil.


Entah berapa jam perjalanan yang mereka tempuh, namun itu tidak terasa jauh bagi Savaro. Mobilnya ikut berhenti ketika melihat mobil yang dinaiki Yaya berhenti didepan sebuah penginapan dekat pantai.


Savaro belum keluar. Ia terus melihat kedepan sana. Seorang laki-laki keluar lebih dulu, setelah itu Yaya. Savaro tidak kenal pria itu, namun ia merasa penasaran apa hubungan mereka. Mereka tampak dekat. Dan Yaya kelihatan bahagia dengan pria itu. Keduanya bahkan masuk ke dalam penginapan sambil bergandengan tangan.


Savaro mengernyitkan mata. Apa mereka pacaran? Yaya sudah melupakan Gavin? Tapi Savaro ingat Yaya pernah bilang sekalipun Gavin tidak membalas perasaannya, ia akan tetap mencintai pria itu seumur hidup, sampai dirinya menghilang dari dunia ini.


Tidak, tidak. Savaro membuyarkan lamunannya. Sekarang bukanlah waktu untuk memikirkan hal itu. Ia lalu turun dari mobilnya dan berjalan masuk mengikuti Yaya dan lelaki yang masuk bersamanya tadi. Penginapan itu cukup luas dan nyaman untuk ditinggali.


"Selamat siang tuan, anda mau memesan kamar?" salah satu pekerja bertanya dari meja resepsionis. Tapi Savaro sama sekali tidak mempedulikannya. Seolah tidak menyadari ada yang bicara padanya. Pandangannya hanya fokus ke Yaya yang sedang berbincang-bincang dengan pria tadi. Posisi mereka membelakanginya. Savaro terus berjalan ke arah mereka dengan langkah perlahan. Sementara pekerja yang bertanya tadi hanya saling berpandangan dengan temannya bingung.


Mulut mereka terbuka dan tercengang ketika melihat pria tersebut tiba-tiba memeluk Yaya dari belakang. Tentu saja tindakan Savaro sukses membuat semua orang yang berada di ruangan umum penginapan tersebut kaget. Terutama Yaya yang dipeluk secara tiba-tiba dari belakang.


Hening sesaat. Garrel sendiri langsung mengenali Savaro ketika melihat pria itu.


"Savaro," gumam Garrel. Mungkin Savaro tidak mengenalnya. Karena waktu sekolah dulu dirinya lebih banyak mengurung diri di perpustakaan sekolah dan kelas. Tapi Garrel sangat kenal Savaro. Karena pria itu sangat terkenal waktu SMA. Dulu Savaro terkenal sebagai sosok kakak kelas yang menakutkan sekaligus pintar. Semua guru menyukainya karena dia sering menyumbang piala pada sekolah.


Yaya tertegun mendengar nama yang disebut Garrel. Sudah lama ia tidak memikirkan nama itu. Memang nama tersebut tidak sering muncul dalam ingatannya, namun ia pernah memikirkan sosok yang memiliki nama Savaro tersebut. Dari semua orang yang dia tinggalkan, Savarolah yang paling membuatnya paling merasa bersalah. Savaro begitu baik dan peduli padanya, tapi dirinya malah pergi tanpa sepatah katapun.


Yaya berbalik perlahan...


"K... Kak Sava..." gumamnya lirih. Pria itu masih sangat tampan seperti dulu. Meski bertambah dewasa, ketampanannya tidak berkurang sedikitpun.


"Maaf." hanya itu yang bisa dia bilang karena tidak tahu mau bilang apa. Ia senang bertemu pria itu.


"Aku merindukannmu." gumam Savaro lagi lalu kembali memeluk Yaya, mencurahkan segala kerinduannya pada gadis itu setelah tidak melihatnya bertahun-tahun ini. Yaya membiarkan lelaki yang pernah menjadi tempat curhatnya tersebut memeluknya erat-erat. Jujur dia senang seorang Savaro masih mengingatnya.


"Ini pacarmu?" tanya Savaro setelah melepaskan pelukannya. Ia memiringkan kepalanya menatap Garrel. Garrel dan Yaya sama-sama  tergelak mendengar pertanyaan itu.


"Tidak. Kau salah. Perkenalkan aku Garrel, teman sekelas Yaya waktu SMA. Mantan adik kelasmu juga." Garrel mengulurkan tangannya didepan Savaro dengan sikap ramah. Savaro menyambut uluran tangan tersebut. Ia sedikit merasa lega mendengar mereka tidak pacaran. Karena bagi Savaro, lebih baik dirinya kalah dari seorang Gavin, daripada pria lain. Entah kenapa ia merasa hanya Gavin yang pantas menjadi saingannya.


"Bisa jelaskan bagaimana kalian bisa bersama?" tanya Savaro lagi. Kalau Garrel adalah teman sekelas Yaya, dan mereka bersama-sama sampai sekarang, ada kemungkinan sembilan tahun lalu yang membantu Yaya pergi adalah pria ini. Savaro sangat yakin dengan kondisi Yaya saat itu, ia tidak bisa hidup sendiri.


Garrel dan Yaya saling menatap. Lalu dengan cara pandang Yaya, Garrel langsung mengerti maksud gadis itu. Sesaat kemudian pria itu angkat suara, mewakili Yaya menjelaskan. Savaro menatap keduanya bergantian dengan pandangan tidak percaya.


"Jadi, kau adik kandungnya dokter Laska? Kalian berdua sengaja menyembunyikan Yaya?" Savaro tercengang. Pantas saja dulu susah sekali keluarga Yaya, Gavin bahkan dirinya menemukan keberadaan Yaya. Karena orang yang membantu gadis itu bersembunyi adalah dokter pribadi gadis itu sendiri. Pasti dengan mudah Laska menyembunyikan Yaya.


Savaro sama sekali tidak menyangka karena dirinya tidak pernah menaruh curiga pada Laska. Entah dia harus marah pada dokter tersebut atau tidak. Yang penting sekarang adalah, dirinya bisa melihat Yaya lagi. Dia sangat bersyukur karenanya.


Bagaimana dengan Gavin? Tiba-tiba Savaro memikirkan laki-laki itu. Apa Yaya masih menyukainya?


"Kak Sava," panggil Yaya. Savaro menoleh dan tersenyum tipis.


"Tentang keberadaanku..."


"Kau ingin aku merahasiakannya?" Savaro bisa mengerti. Yaya pernah mengalami masa lalu yang menyakitkan akibat orang-orang yang dia sayang. Pria itu mengusap lembut kepala Yaya, tapi tidak memberikan jawaban apapun. Hanya tersenyum.