
Malam itu Tama dan Yaya harus kembali ke Jakarta. Beberapa menit lalu perawat yang dipercayakan Tama untuk merawat papa mereka menelpon, memberitahu perihal kondisi papa mereka sekarang. Katanya papa mereka dalam kondisi yang buruk. Terang saja Tama dan Yaya jadi panik.
"Aku ikut," Gavin menatap Yaya. Ikut khawatir melihat raut sedih kekasihnya.
"Nggak apa-apa, kamu bisa menikmati liburan bersama yang lain sampai besok." kata Yaya merasa tidak enak. Padahal mereka sudah buat kegiatan untuk besok. Tapi papanya tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Gavin meraih jemari gadis itu dan menatapnya dalam.
"Dengar, aku ke sini karena ada kamu. Jadi percuma aku liburan tanpa kamu." ucapnya. "Biarkan aku ikut kamu dan bang Tama pulang ya?" tambahnya dengan nada memohon.
Yaya tersenyum.
"Ya sudah." balas Yaya lalu Gavin mengecup jemarinya mesra.
"Makasih sayang," gumamnya lembut.
***
"Papa bagaimana?" Tama berhenti didepan ruangan operasi dan bertanya pada perawat perempuan yang berdiri didepan ruangan tersebut. Perawat itu tampak kelelahan.
Gavin dan Yaya yang datang dari belakang ikut menatap perawat tersebut. Menunggu jawabannya.
"Keadaannya memburuk, dan dokter mengambil keputusan untuk operasi ringan. Operasinya sudah berlangsung hampir tiga jam. Saya harap tidak terjadi apa-apa," ujar sih perawat. Tama mengangguk mengerti. Ia berharap papa mereka akan baik-baik saja. Walau para dokter pernah bilang mereka harus mempersiapkan diri terhadap semua keadaan yang terjadi nanti, nyatanya Tama berharap masih bisa terus melihat papa mereka. Iya yakin Yaya sepemikiran dengannya.
"Kak Tama," Yaya mendekati pria itu, memeluk lengannya. Gavin yang berdiri dibelakang mereka menghembuskan napas panjang, berharap keadaan calon mertuanya baik-baik saja. Karena Yaya pasti akan sangat sedih, kalau begitu Gavin bisa khawatir. Menurutnya Yaya tidak boleh stres, karena dulu gadis itu pernah menderita penyakit yang sama dengan papanya.
"Aku akan membeli makanan untuk kalian," gumam Gavin pelan.
"Thank's Gavin," kata Tama sebelum Gavin berbalik pergi. Setelah kepergian Gavin, Tama merangkul bahu Yaya membawa gadis itu ke dalam pelukannya, memberi sang adik kekuatan juga dirinya sendiri.
"Papa akan baik-baik saja kan kak?" gumam Yaya masih terus bersandar dibahu Tama. Tangan sang kakak tak berhenti mengusap-usap lengannya.
Tama melepaskan pelukannya dari Yaya dan mendekati dokter.
"Bagaimana keadaan papa saya dokter?" tanyanya langsung. Wajah dokter itu awalnya sangat serius, kemudian ekspresinya berubah lebih santai dan tersenyum.
"Keadaan papa anda sudah stabil. Kalian bisa menemuinya sekarang.
Setelah itu, saya ingin berbicara dengan anda diruangan saya. Tentang masalah pengobatan ayah kalian." kata dokter itu. Tama dan Yaya saling menatap lalu Tama mengangguk.
"Baik dok, setelah ini saya ke sana."
Kakak beradik itu lalu masuk. Beberapa suster sudah siap-siap mau memindahkan papa mereka ke ruang pasien. Yaya terus memperhatikan sang papa yang terbaring lemah di atas brankar. Kasihan sekali. Dia berharap papanya bisa sembuh. Sakit itu tidak enak, dia tahu rasanya. Karena dia pernah berada di posisi yang sama.
"Suster, malam ini aku dan kak Tama yang akan jagain papa. Suster pulang saja. Nanti datang lagi besok pagi." kata Yaya pada perawat bayaran sang kakak. Suster itu tersenyum ramah lalu mengangguk.
"Kalau begitu saya pulang dulu," ujar suster itu pamit. Mereka sudah berada di ruang pasien khusus. Hanya ada Yaya di ruangan itu, bersama sang papa yang belum sadarkan diri tentu saja. Gadis itu duduk di kursi tepi ranjang sambil mengusap-usap wajah papanya penuh sayang. Ia lega sekali melihat pria tua itu yang tertidur pulas. Kata perawat tadi pria tua itu hanya tertidur, mungkin karena kelelahan.
"Bang Tama mana?" bisik Gavin yang masuk perlahan di kamar itu, tak lupa mengecup lembut pipi Yaya. Pandangannya pria itu lurus ke pria paruh baya yang berada di atas kasur.
"Diruangan dokter. Kok lama?" ujar Yaya berdiri dari kursi dan dengan perlahan-lahan berpindah ke sofa. Jaraknya kira-kira tiga meter dari tempat tidur pasien. Iya duduk bersandar di dada Gavin yang menjadi bantal.
"Makanan di kantin habis, jadi aku keluar. Beli di warung depan rumah sakit." jawab Gavin memainkan anak rambut sang kekasih. Yaya manggut-manggut lalu meraih nasi kotak yang dibeli Gavin. Dia memang sudah lapar.
"Papa kamu gimana?" tanya Gavin. Matanya berpindah lagi ke laki-laki tua di tempat tidur.
"Kata dokter udah stabil." Yaya menghela napas panjang. Gavin tahu gadis itu merasa sedih. Ia mendekati Yaya dan mengecup pipi gadis itu singkat.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." gumamnya lembut. Yaya tersenyum dan mulai mengunyah makanannya. Ia beruntung karena sekarang ada Gavin disampingnya sebagai sandaran di saat dia sedih.