
Jangan lupa vote dan like karya aku yah🙏
Happy reading🤗
__________________________
Yaya berusaha menghindari Gavin dengan memungut lembaran-lembaran kertas yang berserakan dilantai bawah. Gadis itu menuruni tangga dengan secepat kilat.
"Jangan cepat-cepat Yaya, nanti jatuh." seru Gavin ikut turun tangga. Ia ingat jelas Yaya adalah gadis yang ceroboh sejak dahulu. Sampai sekarang pasti masih sama. Karena susah menghilangkan kebiasaan lama yang dilakukan seseorang secara refleks.
Gavin turut membantu memungut kertas-kertas tersebut. Namun matanya lebih banyak melirik Yaya dibanding lembaran-lembaran kertas yang dia pungut tersebut. Tentu saja karena lembaran kertas tersebut sama sekali tidak penting dengan gadis didepannya itu.
"Nanti kau makan siang di mana?" tanya pria itu setelah mereka berhasil memungut lembaran kertas.
Yaya tidak menjawab. Tapi Gavin tidak peduli. Ia terus bicara. Mereka seperti kebalikan jaman dulu. Kini Yaya yang bersikap dingin padanya. Dan dirinya berada di posisi gadis itu dulu.
Gavin tertawa, takdir mereka memang lucu. Ia tidak membayangkan akan secinta mati ini dia sama Yaya. Mungkin ini adalah karma karena dulu dirinya sudah menyia-nyiakan gadis itu.
"Ingin makan siang bersama?" tanya Gavin lagi.
"Nggak." balas Yaya langsung, tanpa berpikir dua kali. Beberapa orang yang melewati gang itu mengamati mereka. Mereka tampak penasaran bagaimana karyawan magang seperti Yaya mengenal seorang Gavin.
Karena yang mereka tahu Gavin adalah salah satu rekan kerja juga sahabat dari bos mereka yang terkenal sangat dingin dan tidak suka berinteraksi dengan orang lain. Apalagi yang tidak ada hubungan dengannya sama sekali.
Tapi terhadap karyawan baru bernama Yaya itu, Gavin terlihat berbeda saat bicara padanya. Malah sangat aktif dan wajahnya yang biasanya datar dan teramat dingin tersebut bisa berubah-ubah dengan sangat cepat. Bahkan cenderung lebih banyak tersenyum.
Yaya berhenti didepan ruang meeting, tentunya Gavin ikut berhenti. Ketika Yaya membuka pintu, semua orang yang berada dalam ruangan tersebut sama-sama menatap ke mereka. Ria, sekretaris Raxel langsung berdiri ketika melihat Gavin.
"Pak Gavin, anda mencari pak Raxel?" tanya sekretaris Raxel tersebut. Para wanita yang berada di ruangan itu tampak sudah terhipnotis dengan ketampanan Gavin.
"Siapa pria itu? Gila, dia tampan sekali. Bahkan pak Raxel yang tampan saja kalah telak." bisik salah satu perempuan yang baru di terima kemarin bersama Yaya. Namanya Runa. Gavin memiliki semacam kharisma yang sangat kuat, yang bisa menarik banyak wanita sampai rela bertekuk lutut dihadapannya. Satu-satunya kelemahan Gavin hanyalah Yaya. Raxel dan orang terdekatnya tahu jelas itu.
Wajah Gavin berubah dingin lagi saat melihat orang-orang tersebut. Tak ada senyum sekali di wajahnya. Pria itu tidak sadar Yaya telah mundur pelan-pelan dan kini berdiri sedikit dibelakangnya.
"Pria itu adalah temannya pak Raxel. Yang membantu pak Raxel merintis perusahaan ini. Salah satu pemegang saham di perusahaan ini juga. Jangan berani macam-macam sama dia karena orangnya sangat dingin." bisik Mia yang duduk di sebelah Runa.
"Malah sikap dinginnya yang membuatnya lebih menarik." balas Runa seakan tak mempedulikan ucapan Mia. Pandangannya kembali fokus ke Gavin yang masih berdiri di ambang pintu bersama... sih karyawan baru yang pulang seenaknya kemarin?
Runa tidak suka wanita bernama Yaya itu. Entah apa kelebihannya sampai-sampai bos mereka masih mempertahankan dia kerja di sini.
"Tidak usah. Aku tidak ada urusan dengannya hari ini." balas Gavin datar. Ria lalu menatap Yaya yang berdiri sedikit dibelakang Gavin. Sepertinya Gavin datang karena gadis itu. Ia sempat melihat keduanya masuk ke ruangan Raxel kemarin dengan Gavin yang menggenggam tangan gadis itu. Pasti mereka ada hubungan. Tapi Ria tidak terlalu kepo, baginya pekerjaan yang paling utama.
"Yaya, kau tidak masuk?" tanya Ria ketika melihat Yaya hendak berbalik pergi. Langkah Yaya terhenti. Semua orang melihat ke arah mereka dan itu sedikit mengusiknya. Apalagi ada Gavin, ia takut Gavin akan nekat mengikutinya sampai ke dalam sehingga nantinya mereka akan jadi bahan gosip perusahaan. Jadi dia ingin mencari cara untuk mengusir pria itu dulu. Tapi di tempat yang tidak ada orang lain, bukan di sini. Agar tidak menimbulkan kecurigaan terhadap hubungan mereka.
"Ada yang ketinggalan, aku akan kembali dalam lima menit." kata Yaya beralasan. Ria tahu, tapi iya tidak mempermasalahkannya.
"Aku juga pergi saja." kata Gavin ikut berbalik.
Pria itu mengikuti Yaya. Yaya menghentikan langkahnya di sebuah gang sempit yang agak gelap. Di situ tidak ada orang, jadi ia bisa bicara dengan bebas pada Gavin. Mereka berdiri berhadap-hadapan. Gavin sendiri asyik bersandar di tembok dengan tampang cueknya.
"Sebenarnya apa maumu? Bisakah kau tidak menggangguku saat aku sedang bekerja?" tekan Yaya tampak kesal.
"Aku hanya ingin makan siang berdua denganmu." ucap Gavin.
"Jangan harap."
"Kalau begitu aku akan terus mengikutimu hari ini." Yaya memegangi kepalanya frustasi. Dia merasa sangat kesulitan berhadapan dengan Gavin yang sekarang. Pria itu benar-benar berbeda dengan waktu dulu.
"Bagaimana, kamu tinggal pilih." ujar Gavin lagi dengan alis naik turun. Yaya menghembuskan nafas panjang. Akhirnya setelah pertimbangan yang panjang dia mengiyakan juga. Daripada diganggu terus.
"Baiklah." katanya. Jelas wajah Gavin langsung sumringah.
"Mana hpmu." katanya lagi. Yaya menyipit.
"Buat apa?"
"Buat apa lagi? Biar aku bisa menghubungimu sebentar nanti."
"Tidak perlu, tentukan saja kita bertemu di mana." tolaknya.
"Berikan hpmu Yaya." kali ini suara Gavin menjadi tegas dan terdengar tidak bisa dibantah. Yaya sampai merasa ciut. Sifat mengintimidasi Gavin tidak hilang. Dan Yaya berakhir dengan patuh pada perkataan pria itu.
"Aku akan menghubungimu setelah istirahat makan siang." kata Gavin kembali mengembalikan ponsel milik Yaya setelah berhasil menyimpan nomornya.
Yaya hanya mengangguk setengah hati. Mereka lalu kembali ke tempat tujuan mereka masing-masing.