Dear, Gavin

Dear, Gavin
Extra part 2



"Gavin, turunkan tanganmu! Kan sudah aku bilang kamu nggak ada jatah malam ini!" Yaya menggeram ketika merasakan


payu d aranya diremas-remas lembut oleh suaminya. Ia masih kesal karena sang suami lebih belain putri mereka. Padahal putri mereka jelas-jelas sudah salah.


"Ga ... Gavin ... Stop. Aku harus nyiapin makanan anak-anak sebentar la ... Lagi,"  kata Yaya lagi menahan gairah. Gavin mempermainkan bagian itu dengan sangat lihai. Membangkitkan hasrat yang menggebu-gebu bagi Yaya. Padahal mereka sudah berkali-kali bercinta, tapi Gavin masih sangat kuat dan selalu saja berhasil membuatnya tergoda. Yaya tidak bisa menolak kenikmatan yang diberikan sang suami padanya. Tiap hari pun ia sanggup, karena itu terasa amat sangat nikmat


"Kau suka kan, sayang? Bagaimana, kamu masih tetap mau menolakku?" ucap Gavin semakin gencar memancing gairah sang istri. Tangannya sudah lihai sekali di atas dada yang sudah jauh lebih besar dibanding saat pertama kali ia menyentuh bagian itu dulu.


"Tapi anak-anak ... Ahh ..." mata Yaya sedikit menutup ketika Gavin mencubit puncak payu da ranya dan mempermaikannya dengan gerakan memutar. Merangsangnya dengan sedemikian rupa.


"Sebentar saja. Biarkan aku memakanmu beberapa menit, setelah itu kita turun dan kau bisa membuatkan makanan untuk anak-anak." mau tak mau Yaya pasrah saja. Kalau sudah begini, Gavin memang tidak bisa dihentikan. Ia juga  tidak bisa menahan diri dari godaan kenikmatan yang menerpanya.


Tak perlu memakan waktu satu menit, Gavin sudah berhasil melepaskan atasan istrinya yang tidak mengenakan bra. Yaya memang tidak pernah memakai bra kalau dikamar, saat sedang bersama suaminya. Gavin selalu menyuruhnya melepaskan benda yang akan menghalanginya menyentuh tubuh sang istri tercinta.


"Ahh..." Yaya mendesah tertahan, langsung membekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara laknat itu. Dia tak ingin sampai anak-anak mereka mendengar, juga pembantu mengetahui aktivitas mesum mereka ini.


Mulut Gavin menyedot kuat di payudara kiri sang istri. Tangannya mendorong agar posisi mereka menjadi berbaring menyamping saling berhadapan. Posisi yang benar-benar seperti Yaya sedang menyusui kedua anak mereka waktu masih bayi.


"Aahhh… Gavin!" Yaya memekik kuat karena Gavin menyedotnya terlalu kuat, hingga dirinya meringis ngilu.


Mendengar suara kesakitan sang istri, Gavin melepaskannya cepat.


"Maaf… aku nggak tahan. Aku terlalu haus, sayang." Ujarnya cengengesan, tanpa merasa bersalah. Yaya mendelik kesal,


"ck… jangan terlalu kasar papa. Ngilu banget tahu." keluhnya tanpa nada marah malah terlihat menggemaskan


di mata Gavin. Apalagi melihat bibir cemberut isterinya itu. Gavin sangat bergairah kalau melihat isterinya yang sangat menggemaskan seperti sekarang ini.


Cupp


"Aku akan lembut. Tapi aku ingin lagi, boleh?" pintanya memelas manja. Hanya Yaya yang bisa melihat raut wajah berbeda-beda yang ditunjukkan oleh suaminya. Sedang orang lain hanya tahu kalau lelaki itu adalah tipe laki-laki yang dingin. Padahal mereka tidak tahu pada keluarganya, pria itu sangat lembut dan suka sekali tersenyum.


Yaya mengangguk gemas melihat raut wajah manja suaminya itu.


"Ingat, jangan kasar." ucap Yaya.


"Ok sayang," angguk Gavin lalu melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat terhenti sejenak.


Yaya memejamkan kedua mata, meresapi kenikmatan sentuhan suaminya ini. Kini dia bisa mengontrol suara desa hannya


karena sang suami tidak bringas seperti tadi.


Setelah puas dengan bagian atas, tangan Gavin mulai bermain bagian dibawah. Jemarinya menyusup ke dalam celana Yaya dan menyentuh titik j-spot sang istri dengan ibu jarinya. Bagian yang sudah ia sentuh berkali-kali tapi tidak pernah puas. Ia selalu ingin menyentuhnya lagi dan lagi. Menggunakan jari, bibir, mempermainkannya sampai dia puas dan memasuki sang istri dengan benda pusaka miliknya.


"Mmph ..." lenguh Yaya. Suara dan badannya bergetar akibat sentuhan intim yang ia rasakan.


"Kau suka sayang?" jemari Gavin terus menggoda di dalam sana. Yaya hanya bisa mengangguk. Terlalu tidak mampu untuk bicara. Gavin sangat puas menatap wajah keenakan sang istri karena sentuhannya. Jemarinya makin bergerak liar. Semakin cepat hingga Yaya tidak mampu menahan diri untuk tidak mende sah dengan keras.


"Jangan tahan-tahan sayang, mendesahlah untukku." suara Gavin amat berat. Jemarinya makin menjadi-jadi di dalam milik isterinya.


"Ahhh ... Aaakhh... Mmphh..." Yaya akhirnya mendapatkan orgas menya. Tubuhnya menggelinjang kuat. Gavin benar-benar pintar dan tahu titik-titik yang membuatnya merasakan kenikmatan yang tiada itu. Ia merasa seperti terbang di awan-awan.


"Mama sama papa lagi ngapain? Suara apa itu, kok pintunya dikunci sih? Manja pengen masuk mama!"


Yaya cepat-cepat merapikan penampilannya ketika mendengar suara putri mereka didepan pintu. Astaga, untung pintunya dikunci. Kalau tidak putrinya pasti sudah menangkap basah mereka.


"Sayang mau kemana? Aku belum kebagian enaknya." Gavin menggeram kesal. Aishh ... Kenapa putri mereka harus muncul di saat-saat penting gini sih. Pria itu hanya bisa mengacak-acak rambut kesal.