
Di rumah sakit, Savaro menatap mamanya yang hampir menghilang memasuki sebuah ruangan. Penyakit mamanya kambuh lagi jadi mau tak mau dia harus menemani mama tercintanya itu untuk berobat. Bahkan sudah hampir seminggu ini dirinya lagi-lagi ijin tak masuk kelas. Guru-guru bisa memahaminya karena ia anak adalah tunggal, dan ingin mengurus mamanya sendiri selagi masih ada waktu.
Lagipula nilainya tidak akan jeblok karena otaknya encer. Meski ketinggalan pelajaran, nilai Savaro selalu bagus. Para guru dan teman-temannya selalu penasaran apa yang di makan oleh cowok itu sampai-sampai otaknya sangat pintar.
Pandangan Savaro berpindah ke sekeliling tempat. Para perawat dan beberapa dokter terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tiba-tiba bunyi benda jatuh membuat Savaro mengalihkan pandangannya kedepan, ia melihat lembaran kertas yang jatuh berserakan di lantai. Seorang perawat menjatuhkan mapnya dan membuat isi dari map tersebut berhamburan kemana-mana.
Savaro ingin membantu perawat itu tapi gerakan sih perawat lebih cepat darinya. Dalam hitungan detik, lantai yang berserakan itu sudah bersih. Sang perawat juga bergegas pergi dari situ. Savaro mengangkat bahunya. Pandangannya turun kebawah dan melihat sesuatu. Ternyata masih ada beberapa lembaran kertas yang di hekter bersamaan yang tidak sempat diambil perawat tadi.
Cowok itu mengulurkan tangannya berjongkok mengambil kertas yang mungkin saja adalah sebuah data penting. Ia ingin menyusul perawat tadi untuk memberikan berkas pasien itu tapi langkahnya terhenti. Ia tidak sengaja melihat foto data diri dan membaca isi dalam kertas tersebut.
Savaro terpaku sesaat. Ia membalik-balik lembar kertas itu berulang kali untuk memastikan bahwa dirinya salah baca. Sayangnya isinya tidak berubah, tetap sama. Tulisan dalam kertas tersebut menghujam jantungnya.
"Y...Yaya." gumamnya syok.
Pria itu terduduk dibangku koridor. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Dirinya syok bukan main. Ia baru ingat ketika bertemu gadis itu seminggu yang lalu, Yaya tampak kurus dan pucat.
"Bisakah kau kembalikan lembar data pasienku?"
Suara seseorang menyadarkan Savaro. Ia mendongak menatap orang itu. Seragam yang dikenakannya menunjukkan bahwa orang itu adalah dokter.
Savaro berdiri dan menyerahkan lembaran kertas ditangannya pada dokter muda itu. Matanya menatap dokter itu lekat hingga membuat sang dokter kebingungan.
"Ada apa?" tanya dokter itu bingung melihat gelagat pria didepannya yang serasa aneh menurutnya.
Pandangan Savaro turun ke lembaran kertas yang dipegang sang dokter.
"Yaya,"
Dokter Laksa tampak terkejut mendengar pria itu menyebut nama Yaya.
"Kau kenal Yaya?" tanyanya mengamati pria itu dengan saksama.
Apakah pria didepannya ini adalah seseorang yang selalu di ceritakan Yaya padanya? Pria yang amat di sukai gadis itu?
"Kami cukup dekat." jawab pria itu.
Dokter Laksa berpikir sebentar sambil mengamat-amati lelaki didepannya itu lagi. Mungkin benar pria inilah yang selalu diceritakan Yaya. Ciri-cirinya mirip. Tinggi, tampan, sorot matanya dingin dan mengintimidasi.
Ia menyadari kalau sejak tadi mata pria didepannya itu tidak lepas dari lembaran kertas yang ia pegang. Laska baru sadar yang sedang dipeganginya itu adalah data diri dan riwayat penyakit Yaya.
Sial. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak berhati-hati. Tidak ada gunanya juga ia memarahi perawat yang menjatuhkan data rahasia pasien tadi. Toh bukan salah perawat itu juga.
Savaro bertanya dengan nada terdengar putus asa. Ia ingin terlihat biasa didepan sang dokter, tapi kenyataannya ia tak bisa menutupi rasa syok dan khawatirnya. Demi Tuhan, ia tidak mau kehilangan Yaya. Savaro terus menatap pria didepannya menunggu jawaban dengan penuh harap. Berharap mendapat jawaban seperti yang dia mau.
Laska menatap lurus Savaro lalu mendesah pelan. Tidak ada gunanya lagi menutupi keadaan Yaya dari pria ini. Ia pasti sudah membaca isi dalam lembaran kertas itu. Tentu saja ia tidak bisa membodohi pria itu. Sebaiknya jujur saja dan memintanya bekerja sama.
"Ada kemungkinan sembuh, kalau Yaya setuju operasi secepatnya." ungkapnya serius.
Savaro mengernyitkan dahi
"Operasi?"
Laska mengangguk membenarkan.
"Beberapa temanku diluar negeri menyarankan hal yang sama. Jika operasi ini dilakukan secepatnya dan lancar, kemungkinan masih bisa sembuh. Tapi..." pria itu menunduk seperti memikirkan sesuatu.
"Tapi?" Savaro mengulangi.
"Kondisi Yaya makin lama semakin memburuk." ujar sang dokter.
"Kalau ia terus-terusan menolak, aku khawatir dia tidak akan pernah bisa di operasi lagi. Dan..." Laska menggantung ucapannya.
"Dan?" ulang Savaro lagi. Sungguh ia tak mau mendengar jawaban yang.... Pria itu menelan ludahnya pahit.
"Kau tahu kemungkinan terburuk dari penderita penyakit serius." tekan Laska.
Rahang Savaro mengeras, tangannya terkepal kuat, ia menutup matanya dalam-dalam mencoba menghilangkan segala pikiran buruk dari ucapan yang baru saja didengarnya. Yaya gadis yang kuat, tidak ada hal buruk yang akan terjadi padanya, batinnya.
Berulang kali Savaro meyakinkan dirinya sendiri, sebanyak itu pula ia menjadi ragu dan bertambah gusar. Pria itu terduduk. Dan Laska tertegun melihatnya yang tampak benar-benar syok. Ia kemudian menepuk pundak Savaro seolah menguatkan pria itu. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi.
Dahi dokter Laska berkerut samar menatap panggilan masuk di hpnya. Yaya? Tumben sekali gadis itu menelpon duluan. Ia menatap Savaro yang masih tampak linglung kemudian meninggalkan lelaki itu untuk mengangkat telpon.
***
Di tempat lain, Gavin dan Bintang kini telah berhadapan dengan dua pria yang lebih dewasa dari mereka.
Gavin menatap bergantian kedua pria itu dengan wajah datarnya. Mereka balik menatapnya bingung.
"Kenapa lo?" tanya Putra heran. Ia bingung kenapa adiknya tiba-tiba muncul di apartemen itu pada jam pelajaran sekolah. Tidak biasanya seorang Gavin bolos.
"Abang tahu Yaya kemana?" tanya Gavin tanpa basa-basi, mengundang perhatian Tama yang tengah duduk di sofa. Gavin yakin sekali Yaya belum keluar negeri.