Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 77



"Kak Sava mau ke luar negeri?" Yaya bertanya dengan nada terkejut. Padahal mereka baru ketemu, tapi malah akan berpisah lagi.


Keduanya duduk di tepi pantai, ngobrol sambil menikmati angin sore yang menyejukkan. Acara amal sudah selesai sekitar lima belas menit yang lalu. Dan orang-orang mulai berkemas untuk pulang.


Yaya menggunakan kesempatan itu untuk ngobrol dengan Savaro. Untuk bisa bicara dengan Savaro, dia memang harus membujuk Gavin. Awalnya pria itu keberatan mereka bicara berdua, tapi akhirnya Gavin memberi ijin juga. Dasar posesif. Belum sampe sehari juga mereka jadian.


"Ngapain ke luar negeri?" tanya Yaya lagi menghadap Savaro.


"Aku harus menangani beberapa  bisnis penting di sana. Mamaku juga sedang berobat di sana. Mungkin aku tidak akan kembali dalam waktu yang cukup lama." gumam pria itu. Sedih memang. Padahal dia ingin terus melihat Yaya. Apalagi mereka baru saja bertemu lagi. Sayang sekali dirinya tidak punya pilihan lain.


Yaya disampingnya menghela napas. Savaro adalah satu-satunya pria yang mendukungnya dulu. Sosok lelaki yang mau mendengar curhatannya dan ikut menjadikan cerita menyedihkannya sebagai rahasia mereka yang harus di simpan rapat-rapat. Bahkan Gavin saja tidak tahu tentang kisah hidupnya yang begitu pelik di masa lalu.


Savaro memang sosok lelaki yang sempurna. Yaya mengakuinya. Dia berharap pria itu bisa menemukan seseorang yang tepat suatu hari nanti, yang bisa membahagiakannya.


"Aku ingin meminta satu hal padamu." gumam Savaro menatap Yaya dalam. Gadis itu mengangkat wajah membalas tatapan Savaro.


"Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi aku harap kamu tidak pernah lupa padaku." ucap lelaki itu dengan penuh perasaan.


"Aku tahu di hatimu ada pria lain," saat ia menyebut pria lain, pandangannya menengok sebentar Gavin yang berdiri di ujung sana bersama Bintang. Mata Gavin tak lepas sekalipun dari mereka. Lalu Savaro menatap Yaya lagi, melanjutkan ucapannya.


"Kita sudah sama-sama dewasa. Kau pasti tahu perasaanku padamu tanpa perlu aku bilang. Tidak peduli seperti apa kau menempatkan aku di dalam hatimu. Asal jangan membenciku saja." Yaya tersenyum. Jelas ia tidak bodoh. Ia tahu Savaro menyukainya. Dan cara pria itu menyatakan isi hatinya memang tidak terduga. Pria itu memang dewasa.


"Aku tidak pernah bisa membenci kak Sava. Kau adalah satu-satunya orang yang aku percayai untuk menyimpan rahasiaku. Pria yang paling peduli padaku di masa-masa kelam hidupku. Apa yang dulu aku cerita ke kak Sava, Garrel dan kak Laska tidak pernah tahu, apalagi Gavin. Dan aku pastikan, itu akan tersimpan sebagai rahasia kita berdua." kata Yaya panjang lebar. Lalu ia merasakan tangan Savaro memegangi kepalanya dan tersenyum.


"Jadi sebelum berpisah, bisakah kau memberiku sebuah pelukan? Untuk mengobati kerinduan padamu nanti." kata pria itu lagi lalu berdiri dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di depan Yaya.


Yaya sendiri menyambut hangat pria itu dan masuk ke dalam pelukan Savaro. Ia tidak menyadari Gavin tengah kebakaran jenggot menatapi mereka dari tempatnya berdiri. Apalagi Savaro memeluk Yaya erat-erat. Seperti tidak mau melepaskan gadis itu.


                                  ***


Di ujung sana rahang Gavin mengeras. Ia mengepal tangannya kuat-kuat saat melihat Yaya berpelukan dengan Savaro. Pria itu sudah berancang-ancang berlari ke arah mereka namun Bintang menahannya kuat.


"Tenangkan dirimu Gavin, jangan berbuat kacau." ucap Bintang mengingatkan.


"Lepasin, sih brengsek itu berani memeluk Yaya."


"Biarkan saja. Lagipula itu adalah pertemuan terakhir mereka. Mereka tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama."


mendengar itu, Gavin menoleh menatap Bintang seolah meminta penjelasan atas apa arti dari perkataan yang baru dia bilang tadi.


"Sih Sava cerita tadi. Dia bilang dia akan segera keluar negeri. Tidak tahu akan balik kapan. Yang pasti dari perkataannya tadi, laki-laki itu akan pergi dalam waktu yang lama. Jadi pelukan itu pasti adalah pelukan perpisahan." jelas Bintang.


Ia sempat berbincang-bincang dengan Savaro tadi. Dan mantan kakak kelas mereka tersebut banyak bercerita. Makanya dia tahu.


Gavin sendiri akhirnya diam. Tidak jadi pergi ke sana lagi menghentikan mereka. Hatinya sudah jauh lebih lega saat mendengar penjelasan Bintang.