Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 75



Pertama kali berciuman memberikan sensasi yang luar biasa bagi keduanya. Jemari Gavin bergerak turun menyusuri pipi halus Yaya. Sedangkan Yaya, tangannya terangkat meremas rambut Gavin pelan. Tak kuasa menolak. Ia juga menikmatinya. Bibir Gavin terus mendominasi permainan, dan sesekali menyesap bibir bawah Yaya lembut.


Gavin memperlakukan Yaya dengan begitu lembut, tak ada unsur lainnya. Karena Gavin ingin Yaya percaya bahwa dirinya tulus mencintai gadis itu, bukan hanya napsu semata.


Ciuman itu terlepas saat keduanya merasa hampir kehabisan oksigen. Dengan kedua dahinya yang menyatu, Gavin dan Yaya sama-sama merasakan napas keduanya yang masih memburu. Jemari Gavin yang masih bertengger di leher jenjang Yaya tanpa sadar bergerak naik turun,  membuat bulu kuduk Yaya berdiri.


"Jangan menolak aku lagi ya?" pintanya dengan nada lembut dan penuh permohonan.


"Jadilah milikku. Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu di masa lalu, memberikan semua cintaku, dan membahagiakanmu sampai kita tua. Aku janji, tidak akan pernah menyakitimu lagi. Kau bisa marah padaku, tapi jangan tinggalkan aku lagi, mm?" kata pria itu lagi panjang lebar. Bagaimana Yaya bisa menolak coba. Hari ini Gavin begitu manis.


Gadis itu tersenyum. Lalu memberanikan diri mengecup kening Gavin.


"Itu jawabanku." gumamnya singkat. Kemudian menundukkan kepala malu-malu.


Gavin tentu senang sekali mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Ia lalu menarik Yaya ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat. Hari ini adalah pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Karena Yaya telah menjadi miliknya.


"Jadi, kau siap melahirkan anak-anakku?"


"Gavin! Jangan menggodaku terus." omel Yaya. Dibanding kesal, ia lebih merasa malu. Gavin tertawa keras, mengusap-usap punggung Yaya. Ia tidak peduli sekalipun mereka sudah tertinggal jauh dari Garrel dan Bintang. Karena hari ini Yaya resmi menjadi miliknya.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?"


"Auw!"


Yaya melepaskan pelukan Gavin dan mencubit lengan pria itu kuat-kuat. Ekspresinya berubah galak.


"Jangan coba-coba. Kak Laska dan Garrel sudah banyak sekali membantuku. Bahkan demi kamu, Garrel rela mengkhianatiku sahabat seperjuangannya ini. Kau masih mau tidak mau membantunya, setelah membuatnya babak belur begitu?" cetus Yaya panjang lebar. Ia tidak memanggil dokter Laska dengan sebutan dokter lagi. Karena pria itu sendiri yang bilang panggil dia kakak saja.


Gavin tergelak.


"Baiklah, baiklah tuan putri." katanya. Lagian mereka masih punya banyak waktu bersama nanti. Yang pasti, Yaya adalah miliknya sekarang. Ia tidak perlu galau lagi memikirkan gadis itu akan jatuh ke tangan orang lain. Lalu mereka melanjutkan perjalanan.


                                     ***


Di tempat lain,


Bintang menatap ke arah depan penginapan keluarga Garrel. Di depan penginapan itu sudah berdiri beberapa stand-stand untuk pembagian sembako. Ada stand kesehatan juga yang kebanyakan di isi dengan para tim medis tentu saja. Stand kesehatan diperuntukkan bagi warga yang mau memeriksakan kesehatan mereka. Karena hari ini adalah acara amal, tentu saja yang mau diperiksa tidak perlu membayar. Alias gratis.


Banyak warga mulai berdatangan. Bintang pikir desa kecil ini hanya di huni beberapa masyarakat saja. Ternyata dia salah. Karena didepan sana sudah banyak yang berdatangan. Mungkin ada lebih dari lima ratus warga yang berbaris demi sembako.


"Kemana mereka?" Bintang melirik jam tangannya dan menghadap ke arah jalan. Sudah lebih dari satu jam dia dan Garrel tiba, tapi Gavin dan Yaya belum sampai-sampai juga. Apa terjadi sesuatu di jalan?


"Aku juga menelpon Gavin. Jangan-jangan mereka sengaja tidak mau angkat lagi." balas Bintang.


"Itu mereka." kebetulan sekali. Orang yang mereka bicarakan akhirnya sampai juga. Bintang dan Garrel berlari ke arah parkiran untuk menghampiri pasangan itu.


"Kenapa lama?" tanya Bintang menatap keduanya bergantian. Gavin dan Yaya kompak tidak menjawab. Hanya saling menatap dengan sorot mata mencurigakan.


"Jangan di tanya lagi. Aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum mereka menjawab." ujar Garrel angkat bicara. Kentara sekali dimatanya Gavin dan Yaya pasti sudah jadian. Cepat juga gerakan Gavin meyakinkan Yaya.


"Apa?"


"Garrel!" sebelum sempat menjawab, suara Laska memanggil Garrel membuat mereka semua menatap ke arah panggilan.


Ketika Gavin menatap pria itu, rasa marahnya kembali bangkit.


"Ingat, kau sudah janji padaku tidak akan mengacau. Cukup Garrel kemarin yang kau buat babak belur, jangan kakaknya." bisik Yaya sambil berjinjit.


"Kau juga berjanji padaku. Ingatkan? Jangan lupa memberiku satu ciuman panas setelah ini." Gavin balas berbisik dengan senyuman nakal.


"Ada yang tidak beres dengan mereka." ucap Bintang terus menatap Gavin dan Yaya dari belakang. Keduanya tampak sangat akur. Sedang Garrel hanya senyum-senyum sendiri. Bintang ini sangat tidak peka. Masa tidak mengerti.


Dokter Laska kini berdiri didepan mereka. Gavin masih menatapnya tajam tapi tidak melakukan apa-apa. Ia ingat akan janjinya ke Yaya tadi. Dokter tersebut sedikit terkejut dengan keberadaan pria di masa lalu Yaya itu. Sepertinya dia tahu siapa yang menyebabkan wajah Garrel babak belur.


"Bang, mereka datang untuk membantuku dan Yaya." ujar Garrel. Dokter Laska mengangguk mengerti.


"Lama tidak ketemu. Bagaimana keadaanmu?" tanya sang dokter menatap Gavin ramah.


"Menurutmu bagaimana?" balas Gavin dengan tatapan tajam. Garrel dan Bintang saling berpandangan. Mereka sudah siap-siap kalau Gavin sampai tidak bisa menahan diri. Sedang dokter Laska tampak santai. Sama sekali tidak takut kalau-kalau Gavin tiba-tiba menyerangnya.


"Yaya," suara yang datang dari belakang mereka membuat Yaya menelan ludah. Aduh. Belum cukup ada dokter Laska, kenapa Savaro malah tiba-tiba muncul sih. Gadis itu jadi bingung bagaimana menangani semuanya. Ketika melihat Gavin raut wajah Gavin yang berubah saat menyadari siapa yang berdiri didepannya, Yaya cepat-cepat menarik pria itu.


"Bintang, kau temani kak Sava. Garrel bantuin kak Laska, aku akan bicara dengan Gavin sebentar." katanya membagi tugas. Seperti guru saja. Ia lalu melirik dokter Laska sebentar, merasa tidak enak.


"Kak Laska, maafkan kami ya." gumamnya. Dokter Laska hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa. Selesaikan masalah kalian dulu." balas dokter itu. Ia yakin kalau dirinya jadi Yaya, dia akan sangat pusing.


"Ayo ikut aku." kata Yaya lagi menarik Gavin masuk ke dalam penginapan. Untung dia ada kamar pribadi di penginapan itu. Gavin membiarkan dirinya di tarik-tarik oleh Yaya tapi matanya tak berpindah sama sekali dari Savaro. Pria yang selalu dia anggap sebagai saingan cintanya dari dulu.


Savaro sendiri kebingungan. Ia yakin dirinya tidak salah apa-apa, kenapa Gavin seakan sangat memusuhinya? Namun bukan itu yang utama sekarang. Sekarang ini dirinya lebih peduli dengan hubungan Yaya dan pria itu. Apa mereka pacaran sekarang? Savaro tersenyum pahit. Sepertinya Yaya memang tidak ditakdirkan untuknya.