Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 49



Ketika pintu kamar terbuka, ke empat pria itu tercengang melihat kamar Yaya yang serba hitam. Terkecuali dokter Laska tentu saja. Ia sudah beberapa kali masuk kamar itu, tentu dia tahu bagaimana penampakan kamar itu.


Gavin tertegun. Apakah kamar ini benar-benar kamar Yaya? Tapi sebelum sikap gadis itu berubah, Yaya adalah gadis yang ceria. Kemana Yaya? Gadis yang dicarinya itu tidak terlihat. Matanya mengamati seluruh ruangan serba hitam itu. Sungguh kepribadian Yaya yang dilihatnya saat mengejar-ngejarnya dulu dan gaya kamar ini sangat bertolak belakang. Apa yang sudah dilalui gadis itu selama ini? Apakah dia terlalu salah menilai Yaya?


Mereka mengikuti langkah Tama yang berjalan ke arah lain. Tampaknya masih ada ruangan lain dalam kamar itu. Kali ini semuanya dibuat lebih tercengang lagi ketika mendapati ruangan yang mereka masuki dipenuhi dengan lukisan.


Bintang dan yang lain melihat semua lukisan tersebut dan sama-sama menoleh menatap Gavin. Memang ada lukisan lain diruangan itu, tapi wajah Gavin yang mendominasi semua lukisan yang ada.


Bintang tiba-tiba mengingat kembali semua ucapan Yaya tentang Gavin dulu yang membuatnya merasa cewek itu terlalu lebay, tapi sekarang ia menyadari bahwa rasa sayang Yaya ke pria itu memang tidak main-main.


Di setiap lukisan ada catatan kecil. Laska baru menyadari pria yang dilihatnya di rumah sakit tadi bukanlah yang dimaksud Yaya, pria disampingnya inilah yang selalu diceritakan gadis itu. Wajahnya sama persis dengan laki-laki yang ada dalam semua lukisan Yaya.


Gavin melangkah perlahan. Kakinya terhenti ke sebuah lukisan dirinya yang masih remaja, dalam lukisan itu ia tersenyum lebar. Lelaki itu tertegun, ia kenal sekali wajah masa remajanya. Dahinya berkerut. Apa dia dan Yaya pernah bertemu dulu? Pandangannya jatuh ke note kecil di lukisan itu. Dalam catatan itu ditulis,


"Pertemuan pertama di rooftop rumah sakit, saat aku memutuskan mengakhiri hidupku."


"Awalnya dia marah dan berteriak padaku, tapi setelah itu menghiburku. Aku tidak tahu siapa namanya, ini adalah pertemuan pertama kami, tapi aku sadar aku sudah jatuh hati padanya.


"Bertemu dengannya adalah keberuntunganku. Aku berjanji tidak akan pernah bunuh diri lagi. Oh ya, aku lupa tanya siapa namanya. Apa kita akan bertemu lagi?"


Gavin mundur selangkah, otaknya berpikir keras lalu teringat pertemuannya dengan seorang gadis remaja sekitar dua tahun lalu. Waktu itu dia sedang di rumah sakit menjaga kakeknya, dan tak sengaja mendapati seorang gadis remaja yang mau melompat dari atap gedung besar tersebut.


Gavin kembali mengingat pertemuan mereka saat itu. Ternyata dia dan Yaya memang pernah bertemu seperti yang gadis itu katakan. Ternyata Yaya tidak berbohong saat berkata pernah punya masa yang lalu indah dengannya, meski hanya sebentar.


Gavin tersenyum pahit, ia merasa bersalah karena menganggap Yaya terus mengarang cerita tentang mereka.


Tama, Putra, Laska dan Bintang terus menatap pria itu tanpa berkata apapun. Mereka semua mendadak bisu dengan pikirannya masing-masing.


Gavin melangkah ke lukisan berikutnya. Dalam lukisan itu raut wajahnya tampak dingin. Lagi-lagi ada catatan kecil dibawahnya.


"Apakah ini jodoh? Aku benar-benar bertemu lagi dengan pria itu. Dia satu sekolah denganku. Wajahnya jadi lebih dewasa dan lebih tampan. Ternyata namanya Gavin. Mulai sekarang aku akan mengejarnya. Tapi, sepertinya Gavin sudah berubah. Sikapnya dingin pada semua orang. Nggak apa-apa, aku akan merebut hatinya."


benar. Batin Gavin membenarkan catatan kecil milik Yaya. Ia ingat setelah kakeknya meninggal, ia jadi pria yang dingin dan pendiam.


Didekatnya ada Tama yang tampak menatap lukisan keluarga mereka. Hanya gambar mamanya yang tidak ada. Dalam lukisan tersebut dia bersama papanya berjalan membelakangi Yaya, dan gadis itu menatap mereka dengan raut wajah sedih. Dibawahnya tertulis;


"Bisakah kalian melihatku?"


Kalimat singkat yang tertulis dalam lukisan tersebut benar-benar berhasil membuat pertahanan Tama runtuh. Pria itu mematung. Ia sadar selama ini dirinya telah begitu kejam pada adiknya. Ia mengusap wajahnya kasar, tidak pantas dirinya menjadi kakak. Dia merasa dirinya sangat tidak becus dan bersikap sebagai seorang pecundang.


Sementara itu Putra seperti melihat sesuatu. Ia melangkah mendekat ke sebuah lemari tak jauh dari situ. Mata pria itu melotot sempurna. Ia kaget bukan main melihat Yaya yang sudah tak sadarkan disamping lemari.


"YAYA!"


semuanya yang tadinya fokus pada lukisan Yaya menatap Putra. Ketika melihat Yaya yang terbaring pingsan di lantai, mereka berlari mendekati ke tempat Putra berdiri. Tama cepat-cepat mengambil alih adiknya, menyandarkan kepala Yaya ke pahanya lalu menepuk-nepuk pelan wajah Yaya, bermaksud membuat gadis itu sadar.


"Dek, adek... Yaya.. bangun."


"Yaya, pleasee jangan nakutin kakak." seru Tama dengan nada bergetar. Semua rasa marahnya pada gadis itu tiba-tiba menghilang dalam sekejab. Ia sangat takut kehilangan adiknya.


Gavin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Pandangannya tak berhenti menatap Yaya sedetikpun. Ya Tuhan, ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu. Ia tidak mau kehilangan gadis itu. Mereka bahkan belum memulai apapun. Dia belum minta maaf, belum bilang bahwa cinta gadis itu tidak bertepuk sebelah tangan, belum... Nafas pria itu tertahan, dadanya terasa berat sekali, darahnya seolah membeku begitu saja.


Disebelahnya ia mendengar pria yang dikenalnya sebagai dokter itu menelpon ambulance. Gavin makin susah bernafas ketika mendengar Laska mengatakan kalimat yang membuat seluruh tubuhnya panas dingin. Pria itu membeku ditempatnya.


"Penyakit Yaya memburuk, hubungi semua dokter yang terlibat, kita perlu mengoperasinya sekarang juga."


Tama berdiri membiarkan Putra mengambil alih Yaya. Ia tidak mengerti dengan ucapan Laska ditelpon. Ia pikir adiknya pingsan karena kelelahan atau stres. Tapi penyakit? Pria itu ingin memastikan lagi apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya. Ia menatap dokter Laska serius.


"Penyakit? Operasi? Jelaskan apa yang terjadi pada Yaya?" nadanya meninggi. Ia merasa marah tapi juga tidak berdaya.


Laska menarik nafas lelah. Ia juga tidak berdaya. Baginya, Yaya bukan hanya pasiennya. Ia juga butuh waktu untuk menenangkan diri, tapi ia sadar dirinya adalah dokter yang harus menangani gadis itu dan masih ada orang lain disamping Yaya yang lebih terpuruk dari dirinya. Pria itu berusaha menenangkan diri dan mengatur nafas sebelum berbicara. Ia melihat semua pria tersebut sedang menatapnya untuk menunggu jawaban.


"Yaya menderita kanker otak." akhirnya kalimat itu keluar dari mulutnya.


Pada saat yang sama pertahanan Gavin runtuh. Ia tersungkur didepan Yaya. Airmatanya jatuh. Putra membiarkan pria itu mengambil alih Yaya. Ia sungguh bisa melihat perasaan tulus adiknya pada gadis itu.