Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 78



"Aku pulang dulu, jangan lupa panggil suster kalau butuh apa-apa. Besok aku kembali lagi." kata Tama menatap papanya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Dengan susah payah lelaki tua itu mengangguk. meskipun tersenyum adalah hal yang sulit baginya sekarang, ia tetap berusaha agar putranya melihat kalau dia baik-baik saja.


"Kau sudah mendapat kabar tentang adikmu?" suara pria tua itu serak


dan lemah. Tama benci melihatnya. Sudah tiga bulan ini papanya tidak berdaya di rumah sakit.


"Belum, tapi aku pasti akan menemukannya." jawabnya pelan sebelum menghilang di balik


pintu ruang perawatan intensif berwarna putih itu.


Pintu yang sangat dibenci Tama karena selalu melihat bayangan orang-orang terdekatnya terbaring tidak berdaya di sana. Dulu Yaya, sekarang papanya.


Tama tahu ini tiga bulan yang menyiksa bagi papanya, penuh dengan obat-obatan. Kemotherapy yang menyakitkan, suntikan-suntikan tiada henti, pemeriksaan-pemeriksaan


yang mengganggu, hanya untuk menemukan bahwa dia akan mati beberapa bulan lagi, hanya untuk menemukan bahwa dia sudah tidak punya harapan hidup lagi. Hanya untuk menemukan bahwa kesempatan pria tua itu bertahan untuk melihat dunia ini hanyalah tiga persen dari seratus orang


yang menderita penyakit sama dengannya, kanker otak yang sangat


ganas, kanker otak stadium akhir.


Penyakit yang sama dengan yang pernah putrinya alami, tapi dokter sudah memvonisnya hanya punya waktu tiga bulan. Tidak seperti Yaya yang masih bisa di operasi, dalam kasus papa mereka, para tim medis sudah angkat tangan.


Karena umur papanya yang sudah tua dan keadaannya yang makin hari makin lemah, kemungkinan untuk bisa hidup setelah operasi hanyalah lima persen. Tama stress menghadapi situasi yang terjadi saat ini. Belum lagi istri sialan papanya itu yang kabur dengan putrinya. Bahkan mereka berani membawa kabur harta milik papanya.


Satu hal yang Tama pikirkan adalah, mungkin ini karma. Karma karena dulu papanya terus menyiksa Yaya. Tentu saja Tama tidak terlepas dari karma itu. Karena dia harus tersiksa bertahun-tahun ini, ditinggalkan oleh adik yang dia sia-siakan karena egonya. Belum lagi mengetahui keadaan papa mereka. Sembilan tahun ini, pria itu bahkan belum makan dengan benar.


Tama tahu papanya tidak mau mati. Bukan, bukan karena dia mencintai dunia ini. Tetapi lebih karena Yaya. Pria tua itu ingin menyelesaikan semua permasalahannya dengan Yaya sebelum dia meninggal. Semua tergambar dengan jelas di wajah papanya yang semakin kurus. Pria tua itu selalu menyebut nama Yaya.


Itu sebabnya Tama harus segera menemukan gadis itu. Demi papanya, demi dirinya, dan demi keluarga mereka. Ia ingin papanya pergi dengan tenang, dan ingin hubungannya dan Yaya kembali membaik seperti dulu.


Dengan getir Tama menatap langit-langit kamar di atasnya. Dia sudah sampai di rumah sekarang. Alasan dirinya menyewa orang menjaga papanya adalah karena dirinya tidak sanggup melihat keadaan pria tua itu yang sudah sangat lemah dan rentan. Dulu dia memang kecewa, tapi sekarang, anak mana coba yang akan tahan melihat orangtuanya tersiksa seperti itu? Bukan hanya fisik, tapi batin.


gumam Tama sambil menatap ke langit-langit kamar. Raut wajahnya sedih. Ia berharap Yaya bisa ditemukan. Dengan begitu, mereka bisa saling membagi kesedihan dan saling menguatkan. Dulu keduanya sangat dekat. Mungkin dengan berlalunya waktu dan mereka semakin dewasa, masing-masing dari mereka akan menerima pahitnya kehidupan. Namun yang paling penting adalah dukungan satu dengan yang lainnya.


Malam itu Tama terus menyebut nama adiknya dalam hati. Berharap gadis itu tidak bersembunyi lagi dan menampakkan diri didepan mereka.


                                    ***


"KAK TAMA!"


Malam itu Yaya bermimpi buruk. Ia terbangun dari tidurnya dengan gelisah. Seluruh tubuhnya berkeringat dan nafasnya terengah-engah. Tanpa sadar airmatanya terjatuh. Dalam mimpi itu, kakaknya terus memanggil dia. Namun ketika berbalik, pria itu malah jatuh ke jurang dan menghilang.


"Kakak..." gumam Yaya. Kali ini suaranya melemah.


"Hei, kamu kenapa? Mimpi buruk?" Gavin yang tertidur di sofa sampai terbangun akibat teriakan kencang Yaya. Mereka masih berada di desa. Karena sudah malam tadi, mereka memutuskan pulang pagi-pagi. Seperti yang terlihat malam ini, Gavin tidur di kamar Yaya. Tentu saja dia masih tahu diri dengan tidur di sofa.


Gavin duduk di tepi ranjang. Yaya yang terbangun dengan keadaan gelisah dan menangis, membuatnya khawatir. Pria itu menariknya dan membawanya ke dalam pelukan sambil mengusap-usap kepalanya penuh sayang, berusaha menenangkan Yaya.


"Aku mimpi kak Tama jatuh ke jurang." gumam Yaya dalam tangisnya. Kali ini tangan Gavin berpindah mengusap punggung Yaya.


"Ssttt... Itu cuma mimpi. Nggak akan terjadi apa-apa dengan kakak kamu, aku yakin." gumam Gavin berusaha menenangkan Yaya yang masih terisak di dadanya.


"Tapi..."


"Kalau kamu masih khawatir, aku bisa mengantarmu bertemu kakakmu besok."


Yaya cepat-cepat menggeleng.


"Aku belum siap." ucapnya. Yaya tidak tahu bagaimana menghadapi kakak dan papanya sekarang. Apa mereka masih menganggap dirinya bagian dari keluarga mereka atau tidak, atau mereka sudah lupa dan hidup bahagia sekarang. Yaya ingat dulu mereka sendiri yang mau mengirimnya keluar negeri, mau membuangnya jauh-jauh. Mungkin saja kan mereka senang waktu dirinya mengambil keputusan untuk pergi dengan sendirinya.


"Bagaimana kalau lihat dari jauh saja? Biar kamu yakin kakak kamu nggak kenapa-napa." tawar Gavin. Demi kebaikan Yaya. Jelas sekali ia lihat Yaya tidak akan tenang kalau belum melihat kakaknya baik-baik saja atau tidak. Batin Gavin mengatakan itu. Dan dia ingin gadis yang dia cintai tersebut memperbaiki hubungan dengan keluarganya. Karena Gavin tahu, kebahagiaan terbesar seseorang adalah berdamai dengan orang-orang yang dia cintai.


"Aku akan menemanimu." gumam Gavin lagi. Yaya mengangkat wajahnya menatap pria itu lurus. Ia tampak berpikir sebentar lalu mengangguk. Gavin