Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 106



"Ampun Gavin! Aku mohon, lepaskan aku, aku sangat kesakitan ... Tolong, Aahhh!" pinta Lini berkali-kali. Ia berteriak kuat, tidak tahan dengan semua siksaan yang sangat menyiksa ini. Anak buah Gavin berkali-kali membenturkan kepalanya dengan sengaja ke dinding. Tak cukup dengan itu, mereka juga memukulinya. Sedang Gavin berdiri dekat situ, mengintruksikan anak buahnya agar melakukan perintahnya dan tidak berhenti sampai dia bilang stop. Wajahnya saat menatap Lini begitu mengerikan.


Raut wajah Gavin amat menakutkan. Seperti penjahat sadis yang tak memiliki hati nurani. Ia terus memerintahkan anak buahnya menyakiti Lini. Pria itu tidak mau mengotori tangannya untuk menyentuh wanita itu, hanya Yaya yang pantas untuk dia sentuh. Dan anak buahnya tidak boleh berhenti sampai ia bilang berhenti. Lini sangat tersiksa. Rasa sakit itu membuatnya merasa begitu tidak berdaya, seperti ingin mati saja. Wanita itu terus berteriak memohon. Berkali-kali ia memohon, tapi Gavin tidak mengindahkannya.


"Ga ... Gavin pleaseee ... Aaarrgh!" pinta Lini lagi lalu berteriak kesakitan dan airmatanya terjatuh bercampur dengan darah membasahi wajahnya. Bersamaan dengan itu, salah satu laki-laki berpakain dongker kembali membenturkan kepala wanita itu ke dinding.


Gavin tersenyum sinis dari tempatnya berdiri sambil bersedekap dada. Tak ada rasa kasihan sama sekali. Gavin ingat setiap luka dan lebam di kepala, pipi dan beberapa bagian tubuh Yaya lainnya. Lini berani menyuruh orang menyiksa kekasihnya sedemikian rupa, bahkan mencoba


membunuh kakaknya. Jadi jangan harap Gavin akan melepaskan wanita ini begitu saja. Dia akan membuat wanita itu benar-benar menyesal telah main-main dengan pria sepertinya.


"Kau tahu aku bisa sangat kejam bukan saat kau menyentuh milikku?" ujar Gavin dengan nada rendahnya yang khas, setelah menyuruh anak buahnya menghentikan kegiatannya menyiksa Lini.


Airmata Lini terus terjatuh karena kesakitan luar biasa yang dia rasakan di sekujur tubuhnya.


"Kau juga mempermainkan kakakku yang tulus mencintai dirimu, bahkan kau mencelakainya dengan sengaja. Jangan salahkan aku berbuat sekejam ini padamu karena kau yang memulainya. Kau harusnya bersyukur aku tidak sampai membunuhmu," kata lelaki itu lagi. Suaranya amat rendah, amat dingin dan amat menakutkan. Lini seperti melihat sosok Gavin yang lain dalam diri laki-laki itu, dan itu membuatnya ketakutan setengah mati. Membuatnya menyesali segala tindakan yang ia lakukan terhadap Putra dan Yaya.


Lini lebih memilih menyerahkan dirinya ke polisi kalau tahu akan mengalami siksaan berat seperti ini. Dia sungguh tidak mampu lagi merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya, itu sangat amat menyiksa. Tak lama kemudian, wanita itu jatuh pingsan. Gavin dengan tenang menyuruh anak buahnya memeriksa.


"Dia masih bernyawa," ucap salah satu anak buahnya.


"Letakan dia didepan kantor polisi. Ingat jangan sampai ketahuan. Bertindak seperti biasa." perintah Gavin santai. Ia masih waras. Tidak mau gegabah mengambil nyawa wanita itu. Setidaknya dendamnya sudah terbalaskan.


                                    ***


"Lini sudah tertangkap?" Yaya bertanya dengan antusias sambil mengunyah apel yang disuapi Gavin. Sekarang gadis itu berada di kamar rawat Putra. Kondisinya sudah lebih baik dan ia sudah tidak merasa pusing lagi kalau berjalan. Tapi luka jahit dibagian kepalanya memang masih sakit.


Mereka semua berkumpul di ruangan itu. Hanya Raxel yang tidak ada. Karena pria itu sibuk mengurus pekerjaannya. Meski begitu Yaya sudah mendapatkan ijin dua minggu, sampai kondisinya benar-benar pulih baru dia boleh masuk kerja.


"Aku dengar Lini ditemukan dengan kondisi babak belur depan kantor polisi. Entah siapa yang menyakitinya sampai semengerikan itu. Pihak polisi sampai-sampai tidak mengenalinya kalau tidak memeriksa identitasnya," kata Bintang. Putra yang ikut mendengar dari ranjang tampak biasa saja, seperti tidak peduli pada apapun yang menimpa mantan pacarnya. Memang pria itu itu sudah memutuskan tidak akan pernah lagi berhubungan dengan wanita itu. Memikirkan Lini hanya membuat luka dalam hatinya bertambah.


Putra sudah memutuskan. Ia tidak akan berhubungan dengan wanita manapun dulu. Dia trauma. Sekarang ia akan fokus pada pekerjaan saja.


"Separah itu kondisinya? Siapa yang menyakitinya sampai sebegitunya? Kasian juga sih," ucap Yaya merasa iba.


"Jangan mengasihaninya. Dia sudah buat kamu jadi kayak begini, perempuan itu tidak pantas dikasihani." timpal Gavin, Yaya terdiam. Sedang Garrel yang duduk berhadapan dengan mereka terus menatap Gavin. Ia curiga kalau orang yang membuat Lini terluka parah adalah pria itu. Benar, Gavin akan sekejam itu kalau ada yang berani menyentuh kekasihnya. Garrel menarik napas. Kasihan juga sih Lini, tapi apa boleh buat. Wanita itu memang jahat, ia bersalah. Dan yang membuatnya lebih sial lagi karena dia salah memilih musuh. Putra dan Yaya memiliki seseorang seperti Gavin. Jika ada yang berani menyakiti mereka, siap-siap saja merasakan kekejaman seorang Gavin.


"Kita bisa lega sekarang, karena wanita itu sudah tertangkap. Dia sedang berada dalam perawatan di sebuah rumah sakit khusus tahanan, setelah keadaannya membaik, pengadilan akan segera memproses hukumannya dan orang suruhannya. Berdasarkan kejahatan yang mereka lakukan, percobaan pembunuhan, kekerasan fisik termasuk menjadi bandar narkoba, harusnya mereka akan di hukum seberat mungkin." kata Bintang lagi bernapas lega. Terlebih Gavin. Ia sudah puas setelah balas dendam pada Lini. Pandangannya berpindah ke sang kakak yang tampak diam. Gavin berharap setelah ini keadaan sang kakak lebih membaik.


"PUTRA ANAK MAMA SAYANG!" lalu suara heboh itu menggelegar di seluruh ruangan. Membuat mereka semua sama-sama memandang ke arah pintu.