
Dokter Rinka dan seorang siswi di sebelahnya menoleh menatap Gavin. Wajah pria itu terlihat panik. Seluruh tubuhnya berkeringat akibat berlari. Dokter Rinka berdiri dan menggeser tirai gorden pembatas tempat tidur didekatnya lalu menatap Gavin.
Gavin balas menatap dokter Rinka. Seolah mengerti arti tatapan itu, ia cepat-cepat masuk dan meletakan Yaya perlahan di atas tempat tidur. Ia sangat amat berhati-hati karena takut akan menyakiti gadis itu. Tindakannya tak luput dari satu siswi di dekat mereka. Siswi itu merasa iri dengan perlakuan manis Gavin pada gadis yang pingsan itu.
"Kenapa dia pingsan?" tanya dokter Rinka mulai memeriksa kondisi Yaya.
"Aku lihat dia pegang kepalanya tadi, kayaknya sakit kepala. Apa yang salah dok?" sahut Gavin memberikan penjelasan dan balik bertanya. Pandangannya masih tak lepas dari Yaya.
"Suhu badannya stabil, mungkin dia mengalami rasa sakit mendadak yang dipicu oleh stres. Keadaan ini bisa terjadi pada sebagian orang." jelas dokter cantik itu. "Tapi jangan khawatir, dia tidak apa-apa. Kau bisa menemaninya sampai dia bangun." tambahnya lagi karena melihat raut khawatir di wajah Gavin.
Gavin tampak berpikir. Ia mengambil sebuah kursi di dekat tempat itu, membawanya ke sisi tempat tidur dan duduk di situ. Pandangannya tak lepas dari Yaya. Melihat itu, dokter Rinka memilih pergi. Ia kembali menggeser gorden pembatas bilik itu untuk memberi mereka ruang.
Gavin terus menatap Yaya. Mengamati setiap sudut wajah gadis itu. Wajah yang tampak pucat tersebut membuatnya merasa penasaran sekaligus merasa bersalah.
Pria itu mulai menyalahkan dirinya sendiri. Harusnya ia tidak melampiaskan emosinya dan berbicara buruk pada Yaya waktu itu. Ia menyesal. Ia sadar bahwa dirinya ternyata lebih menyukai gadis itu yang dulu. Dulu, gadis itu selalu ceria dan tersenyum padanya tiap hari. Walau Gavin selalu bersikap acuh tak acuh. Tidak seperti Sekarang, Yaya yang sekarang berubah menjadi begitu dingin dan jarang bicara.
Seandainya waktu bisa di ulang, Gavin akan memilih menerima cintanya saja. Sesungguhnya ia tidak tahan melihat perubahan Yaya sekarang ini. Tapi, apakah gadis itu benar-benar menyukainya? Pria itu masih ragu. Dalam hatinya ia sangat berharap bahwa dirinyalah yang salah menilai Yaya.
Tak lama kemudian Gavin melihat Yaya mulai bergerak. Ia pikir gadis itu sudah sadar, ternyata tidak.
Hanya bergerak. Ekspresi gadis itu keliatan tidak senang, seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Gavin mengangkat sebelah tangannya dan mengusap dahi Yaya yang berkerut dengan jempolnya. Perlahan dan penuh perasaan.
Hampir setengah jam Gavin menemani Yaya di UKS, sampai gadis itu akhirnya membuka matanya. Pandangan mereka bertemu. Tatapan kosong gadis itu membuat Gavin tertegun. Tak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan.
Gavin yang terlalu sibuk dengan pikirannya tentang keanehan dan perubahan gadis itu, juga Yaya yang kehilangan semangat karena merasa terlalu lelah dengan hidupnya.
Gavin berdeham. Ia tidak tahan lagi dengan semua kecanggungan ini. Ia harus bicara. Ia harus mengatakan sesuatu. Setidaknya untuk mencairkan suasana. Saat dirinya bersiap untuk angkat suara, seseorang menggeser tirai gorden. Menampakan dokter Rinka dan seorang pria yang tidak Gavin kenal.
Gavin menatap pria itu cukup lama. Walau ia tidak kenal pria itu, tapi ia merasa wajah pria itu tidak asing. Pandangan pria itu lurus ke arah Yaya. Dari caranya berpakaian dan wajahnya yang serius membuat Gavin menyimpulkan orang itu adalah pria tegas dan berwibawa. Tapi apa hubungannya dengan Yaya? Ia yakin umur mereka cukup jauh untuk menjadi teman. Walau sebenarnya ukuran pertemanan tidak di ukur dari jarak umur seseorang. Tatapan pria berpakaian rapi itu ke Yaya terlihat khawatir.
Nada serius itu bukan suara Yaya, bukan Gavin atau pun dokter Rinka. Suara itu milik pria yang Gavin tak tahu siapa namanya itu.
Yaya menatap datar pria yang langsung ia kenali itu. Dokter Laska. Ia cukup takjub pada dokter itu. Semua ancamannya ternyata tidak main-main. Gadis itu berusaha bangun dari kasur tapi dirinya agak kesusahan. Kondisinya masih lemah. Semua badannya terasa sakit. Ia tak ada kekuatan lagi.
Menyadari Yaya yang kesulitan, Gavin cepat-cepat membantunya duduk. Gadis itu sempat meliriknya sekilas tapi langsung memalingkan wajah ke arah lain. Entah ia harus merasa senang atau tidak, baginya perlakuan lembut Gavin saat ini tidak membantunya merasa lebih baik.
"Bagaimana? Kau merasa lebih baik?"
Yaya menaikan wajahnya menatap dokter Rinka. Ia mengangguk saja untuk menghindari pertanyaan lainnya. Pandangannya berpindah ke dokter Laska.
"Aku akan ikut denganmu." ucapnya tanpa embel-embel dokter di kalimat terakhirnya.
Ketika mendengar ucapan Yaya, dokter Laska maju lebih dekat dan membantu gadis itu turun dari tempat tidur lalu memapahnya keluar. Dokter tampan itu sempat menatap Gavin sebentar sebelum pamit ke dokter Rinka dan keluar dari ruangan tersebut.
Gavin terus melihat kepergian Yaya dan pria yang tidak dikenalnya itu. Ada rasa tidak suka dalam hatinya saat melihat gadis itu dekat dengan pria lain. Siapa sebenarnya pria itu? Apa hubungan mereka?
"Namanya Laska, dokter pribadi Yaya." dokter Rinka menjelaskan, seolah bisa membaca isi hatinya.
Gavin menatap dokter itu. Ia teringat Yaya pernah menjelaskan siapa pria yang menjemputnya ketika ia sakit waktu itu.
"Itu tuh dokter pribadi aku tahu."
Iya. Dia ingat sekarang. Ternyata semua yang gadis itu bilang benar. Yaya tidak membual. Pria tadi adalah pria yang datang menjemputnya dulu. Sekarang Gavin mengerti kenapa pria itu terlihat familiar dimatanya. Ia tersenyum hambar. Hatinya makin dipenuhi dengan penyesalan. Sepertinya dirinya memang sudah salah paham pada Yaya.