
Kali ini Yaya membiarkan pria itu memeluknya, karena otaknya sekarang dipenuhi dengan perkataan pria itu tadi. Walau dihatinya ia merasa senang mendengar pengakuan Gavin, tapi tidak segampang itu membuatnya luluh. Pria itu harus merasakan bagaimana rasanya tersiksa karena di tolak. Seperti dirinya dulu.
Yaya menurunkan tangan Gavin yang masih melingkari pinggangnya lalu berbalik menatap pria itu. Sebenarnya dirinya tidak kuat menatapi wajah pria yang selalu dia rindukan selama ini. Tapi dirinya berusaha keras terlihat biasa saja. Ekspresinya tampak dingin. Sengaja dia lakukan untuk membuat Gavin tahu dirinya bukan Yaya yang dulu lagi. Dirinya tidak akan terpengaruh begitu saja dengan perkataan manis dan sikap lembut Gavin.
"Terimakasih atas pengakuanmu. Tapi aku tidak butuh pengakuanmu sekarang ini. Aku masih ada urusan, biarkan aku pergi." kata Yaya dingin.
Gavin tiba-tiba panik. Ia takut Yaya akan menghilang lagi. Ia takut dirinya tidak akan pernah melihat gadis itu lagi. Pria itu lalu menahan lengan Yaya kuat, tidak membiarkan gadis itu keluar. Namun karena Yaya bersikeras mau keluar, Gavin tidak berhasil membujuknya. Tapi lelaki itu tidak mau menyerah begitu saja. Saat Yaya hampir mencapai pintu keluar, Gavin cepat-cepat mengejarnya dan langsung berlutut dibawah gadis itu, bertumpu di kakinya.
jelaslah Yaya kaget bukan main. Bukan ini yang dia harapkan.
"Gavin, tolong jangan menekanku seperti ini," ucapnya. Namun Gavin seakan tidak peduli.
"Aku mohon... Kau bisa membenciku, tapi jangan menghilang lagi," pinta pria itu penuh permohonan.
"Ijinkan aku membuktikan semua perkataanku, kau tidak harus memaafkanku sekarang. Tapi aku mohon beri aku waktu untuk membuatmu percaya."
"Please Yaya... beri aku kesempatan. Mm?"
"Berdirilah, jangan mempermalukan dirimu seperti ini." katanya berusaha tidak menggubris permintaan Gavin. Tapi pria itu tidak bergerak sama sekali. Membuatnya sulit bergerak.
"Tidak, sebelum kau berjanji." ucap Gavin mendongak ke atas menatap Yaya. Wajahnya penuh permohonan. Berharap Yaya memberinya kesempatan.
Yaya menghela napas panjang. Bagaimana dia bisa pergi coba. Tiba-tiba dia merasa menyesal mengambil keputusan datang ke Kota. Yaya lalu menatap Gavin yang masih berada dibawahnya.
"Baiklah, aku tidak akan menghilang lagi. Lagipula aku sudah diterima kerja di kantor ini. Aku tidak bisa kabur darimu lagi walau aku mau, puas?"
Yaya sampai terheran-heran kenapa dia bisa bilang begitu. Astaga, ada apa dengannya? Harusnya dia mendorong Gavin agar tidak mengganggunya lagi. Tapi perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dia memang tidak tega melihat Gavin berlutut seperti ini didepannya, tapi bukan berarti dirinya harus luluh dengan cepat. Namun mulutnya sendiri tidak bisa berkompromi. Akhirnya dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.
Lihat Gavin sekarang. Pria itu tampak senang mendengar perkataannya, membuatnya jadi malu sendiri. Yaya tak berhenti merutuk dalam hatinya.
Dasar Yaya, kau memang masih mencintai laki-laki ini. Tapi sok jual mahal tidak ada salahnya bukan? gumamnya dalam hati. Merutuki kebodohannya. Dia lalu kembali memasang tampang datar kemudian membuka pintu ruangan tersebut dan berjalan keluar meninggalkan Gavin yang kini tak menahannya lagi.
Hari pertamanya masuk kerja bukannya dijalani dengan baik, malah membuat heboh seperti ini. Apa dia mengundurkan diri saja? Tapi ini adalah salah satu perusahaan yang dia inginkan. Ia tidak ingin mengundurkan diri begitu saja seperti ini. Sudah terlalu lama dia membuang-buang waktu dengan hidup santai. Sekarang adalah waktunya untuk melakukan banyak hal yang dia mau dalam pekerjaan. Masalah Gavin bisa di urus nanti. Yang pasti dirinya tidak akan gampang luluh begitu saja. Gavin tidak akan menjadi prioritasnya sekarang. Karena dia sudah bertekad untuk sukses dalam pekerjaannya. Dia ingin menciptakan merek perhiasaannya sendiri. Tapi yang pertama harus dia lakukan adalah mencari banyak pengalaman, membangun relasi dan tentu saja menyiapkan modal. Dengan begitu dia bisa membuktikan pada orang-orang yang sudah menyia-nyiakannya dulu, bahwa dia pun bisa berhasil tanpa mereka.