Dear, Gavin

Dear, Gavin
Extra part



Hai para readers setiaku🙃


Ini aku kasih extra partnya ya. Semoga kalian suka🙏


Jangan lupa komen, like, vote dan buat yang pengen kasih masukan jangan ragu-ragu ya! Aku tunggu♥️


Selamat membaca😇


_______________________


"Papa!"


seorang bocah perempuan berusia enam tahun berlari kencang keluar rumah. Ia berhambur ke papanya yang masih sangat tampan di usia yang sudah terbilang cukup matang itu. Empat puluh tahun adalah usia yang terbilang cukup matang. Tapi pria itu malah masih kelihatan tiga puluan, sama seperti istrinya Yaya.


Ya, pria yang baru saja turun dari mobil tersebut adalah Gavin. Dan yang berlari ke arahnya tadi, yang kini sedang memeluknya erat-erat sambil menciumi wajahnya adalah sang putri tercinta. Buah hati dia dan Yaya, sang istri. Mereka hidup berumah tangga sudah lebih dari sepuluh tahun.


Walau kehidupan berumah tangga tak akan pernah bebas dari pertengkaran pada umumnya, tapi Gavin dan Yaya sangat saling mencintai seperti dulu. Bahkan seiring berjalannya waktu dan semakin mereka tua, cinta keduanya makin tumbuh. Apalagi sekarang mereka dibuahi dua anak yang tampan dan cantik.


Gavin dan Yaya kini hidup bahagia dengan putra-putri mereka yang lucu-lucu.


"Sayang, mama udah bilang kan jangan lari-lari. Dengerin mama sekali aja bisakan." tegur Yaya yang muncul dari dalam rumah.


"Tuh, mama marahin Manja lagi pa." lapor gadis remaja itu ke papanya. Namanya Manja. Sebenarnya nama aslinya Gaya, diambil dari nama Gavin dan Yaya. Tapi karena sifatnya yang sangat manja, semua orang memanggilnya manja.


Manja punya seorang kakak bernama Avar. Wajahnya persis seperti Gavin papanya. Sifatnya pun sebelas dua belas. Tapi Avar masih punya sisi humoris kalau berhadapan dengan orang baru. Berbeda dengan Gavin yang sangat kaki, terkecuali pada keluarganya tentu saja.


"Udah ma, nggak usah marahin Manja lagi ya." ucap Gavin menatap sang istri tercinta. Yaya melotot.


"Marahin? Mama marahin? Papa terus aja belain putri papa itu sampai dia salah aja papa belain. Gimana nggak manja banget gitu!" cetus Yaya kesal.


"Bukan gitu mama,"


"Ya udah, ya udah. Papa yang salah. Mama yang bener. Jangan ngambek lagi ya,"


"Hmph, pokoknya hari ini nggak ada ehem-ehem sama papa, titik!" ambek Yaya lagi lalu berbalik masuk meninggalkan suami dan anak gadisnya.


"Mama, kok gitu sih. Mama udah janji loh tadi sama papa!" seru Gavin tidak setuju. Ia bahkan tidak sadar putri mereka sedang mendengar dengan bingung.


"Pa, maksud mama ehem-ehem itu apa?" tanya Manja polos. Gavin baru tersadar. Ya ampun, kenapa dia bisa lupa masih ada putrinya di sini sih.


Gavin lalu menggendong sang putri, menyalurkan kasih sayangnya dengan menciumi seluruh wajah putrinya. Kalau putra sulung mereka Avar lebih mirip dirinya, Manja mengambil keduanya. Mirip Yaya dan mirip dia. Tapi sifatnya tentu tidak mirip siapa-siapa.


Manja ini sangat manja. Semua orang sengaja memanjakannya. Karena mereka tidak ingin masa muda Manja seperti Yaya dulu. Apalagi Gavin dan Yaya. Mereka paling sayang kedua anak mereka. Walau kadang Yaya menegur Manja, itu karena kelalaian sang putri sendiri.


"Manja mau makan ice cream nggak sama papa?" tawar Gavin. Manja mengangguk kuat.


"Tapi mama bakal ijinin nggak?" biar bagaimanapun Manja ingat dia sudah punya jadwal hari-hari apa dibolehin makan ice cream sama mamanya.


"Diam-diam aja. Ini rahasia Manja sama papa, jangan bilang-bilang mama."


"Tapi tadi Manja udah nggak dengerin apa kata mama, kalo sekarang makan ice cream diem-diem sama papa, berarti dua kali dong Manja ngelawan mama." Gavin tertawa mendengar ucapan sang putri. Ia lalu mencubit pipi bocah itu saking gemasnya. Putrinya ini sangat lucu.


"Putri siapa sih lucu sekali begini,"


"Putri papa Gavin sama mama Yaya!"


mendengar itu Gavin tertawa keras dan kembali menciumi sang putri. Mereka tidak sadar Yaya sedang melihat mereka diam-diam dari dalam. Wanita itu tersenyum lebar.


"Papa! Mama senyum-senyum kayak orang gila liatin papa sama adek!" suara putra sulungnya terdengar menggelegar. Yaya tidak sadar sejak kapan bocah laki-laki berumur sembilan tahun itu berada di belakangnya, tapi keberadaan bocah itu membuatnya kembali jengkel.


"Avar, sini kamu, jangan lari!" Avar malah langsung berlari keluar dari terjadilah aksi saling kejar mengejar sampai dihalaman rumah. Gavin dan Manja ikut-ikutan berlari dengan tawa lepas. Mereka benar-benar terlihat keluarga bahagia.