
"Kapan kau akan keluar dari sini?" Yaya melirik ke Gavin yang setia duduk di tepi ranjang sambil menatapnya yang asyik sibuk memindahkan pakaian dari koper ke lemari. Sudah hampir sejam pria mereka berduaan di kamar. Bisa-bisa kak Tama dan yang lain curiga lagi dan menuduh mereka ngapa-ngapain.
Daritadi Yaya memang sudah mengusir keluar lelaki itu, tapi Gavin selalu beralasan. Alhasil, pria itu masih di sini sekarang.
"Gavin, kalau kau kamu di situ terus, yang lain akan menyangka yang bukan-bukan." kata Yaya lagi kali ini ia menghentikan kegiatannya sebentar dan berbalik menatap Gavin sambil berkacak pinggang.
Didepan sana Gavin terkekeh. Yaya terlalu khawatir. Lagian dia tidak akan senekat itu menyerang gadis itu ditengah hari tua begini dengan posisi orang-orang yang tahu tentang mereka sedang berduaan di kamar.
"Jangan terlalu berpikiran negatif, lagipula pintunya nggak di kunci. Siapa saja boleh masuk. Pokoknya aku akan keluar bersamamu. Sekarang lakukan saja pekerjaanmu dulu," kata Gavin lagi dan malah berbaring di kasur besar itu.
Yaya menghela napas panjang lalu menggeleng-geleng. Pria itu susah sekali di ajak kerjasama. Ya sudahlah. Daripada kepala pusing, lebih baik biarkan saja. Betul juga kata Gavin, selama pintu kamar itu tidak dikunci, tidak apa-apa. Ia lalu kembali menyibukkan diri dengan barang-barang di kopernya. Memindahkan satu persatu barang-barang tersebut ke dalam lemari. Yaya tidak sadar Gavin kembali membuka mata, mencuri-curi pandang menatapnya dengan seulas senyum lebar.
Sekitar lima belas menit kemudian pasangan itu keluar. Yang lain sudah berkumpul di meja makan untuk makan siang.
"Jadi apa yang kalian berdua lakukan di dalam sana?" goda GarrelĀ dengan alis naik turun ketika keduanya sudah bergabung di meja makan. Gavin duduk di sebelah Putra dan Yaya memilih duduk di antara Bintang dan Garrel.
Yaya mencubit pelan lengan Garrel, dengan tatapan mata memberi peringatan. Lelaki itu memang suka sekali menggodanya. Malah sudah bersatu dengan Bintang lagi.
"Garrel, ini makanan kesukaan kamu." ucap Lini memasukan udang balado yang dibuatnya khusus karena ia tahu Gavin suka makanan itu. Sejenak suasana berubah awkward di antara Putra dan Gavin. Apalagi sejak tadi Putra mulai membaca sinyal-sinyal berlebihan yang Lini berikan pada adiknya.
Kali ini Putra mulai menyadari perbedaan yang aneh itu. Tapi ia tidak mau menuduh langsung. Ia akan mengamati wanita itu dulu. Karena dia takut salah menilai.
"Maaf Lini, aku tidak makan udang. Ini makanan kesukaannya bang Putra, kasih ke bang Putra aja." kata Gavin lalu menggeser piring yang sudah berisi udang balado itu ke Putra. Memang benar dia tidak suka makan udang. Entah darimana wanita itu mendapat informasi. Pandangannya beralih ke Yaya yang tampak biasa-biasa saja. Gadis itu malah bercanda dengan Garrel dan Bintang.
"Kak Tama mana?" tanyanya. Pandangannya berpindah ke arah luar. Oh rupanya lagi sibuk telponan. Kakaknya terlihat sibuk diluar sana jadi Yaya tidak mau ganggu. Mungkin itu panggilan penting. Pandangannya berpindah ke Gavin. Cowok itu seolah memberinya kode. Awalnya Yaya tidak mengerti, tapi ketika sudut mata Gavin menunjuk Lini, gadis itu langsung mengerti.
Ya ampun. Yaya memutar matanya malas. Perempuan itu sungguh-sungguh tidak tahu malu. Sepertinya dia memang tidak boleh diam saja. Harus bertindak. Sudah jelas Lini bukan wanita baik-baik. Bahkan didepan kak Putra saja dia bisa mendekati Gavin terang-terangan. Kak Putra pantas dapat wanita baik-baik. Jauh lebih baik dari perempuan pembohong ini.
"Ayo makan," kata Lini melirik Yaya, Bintang dan Garrel yang duduk berhadapan dengan mereka. Yaya lalu memasukan iga goreng dan nasi ke dalam piring Gavin. Tindakannya itu tak luput dari pandangan Lini. Lini terlihat tidak begitu senang apalagi melihat Gavin yang langsung mengisi makanan itu ke mulutnya dengan senang hati. Hati Lini terasa panas, Yaya sendiri merasa puas. Dia memang sengaja. Di sela-sela makan mereka, Yaya kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Oh ya kak Lini, apa ini bros kakak?" tanya menunjukkan sebuah bros bermotif bunga-bunga di depan Lini. Dia tanpa sengaja menemukannya di apartemen Gavin kemaren. Entah memang jatoh sendiri atau sengaja ditinggalkan perempuan itu agar ada alasan lain untuk datang lagi.
"Kenapa bros Lini ada sama kamu?" Putra yang bertanya. Karena itu adalah bros pemberiannya di waktu ulang tahun Lini.
"Ah, aku nemu di apartemen Gavin. Mungkin waktu kak Lini jenguk Gavin kemaren waktu Gavin sakit terus brosnya terjatuh." sahut Yaya.
Prankk...
Putra langsung menatap Lini tajam dan tanpa aba-aba berdiri dari kursi.
"Kita perlu bicara Lini," cukup sudah kesabaran Putra. Iya makin yakin dengan Lini sekarang. Suasana di meja makan berubah hening. Wajah Lini tegang sekali berjalan dibelakang Putra.
Sedang Gavin, Yaya, Bintang dan Garrel yang masih tidak mengerti apa-apa hanya saling berpandangan.
"Ayo dilanjut makannya," kata Yaya santai. Sama sekali tidak ada rasa bersalah. Sedang Gavin sendiri tersenyum ke gadis itu. Yaya ini, sekali bertindak langsung bikin geger orang.