
Kehadiran papanya yang tiba-tiba mengundang emosi Tama. Ia menatap pria tua itu dengan tatapan menusuk. Putra dan dokter Laska saling berpandangan, seolah tahu bahwa ayah dan anak itu perlu waktu berdua, mereka lalu beranjak pergi dari situ.
"Tama, jawab papa. Yaya kenapa?" tanya pria tua itu lagi. Tama mencibir. Dia tidak tahu apa alasan papanya datang setelah mengabaikan Yaya berhari-hari. Terang saja Tama marah melihat kehadiran lelaki paruh baya itu sekarang. Apalagi adiknya kini menghilang entah kemana.
"Dia pergi. Itu mau papa kan? Yaya pergi meninggalkan kita, puas?!" tukasnya menahan emosi lalu mengusap wajahnya kasar. Tama tahu mereka sama-sama salah, tapi ia hanya bisa melampiaskan emosi ke papa mereka. Dia sungguh merasa frustasi sekarang ini.
Please Yaya. Mereka bahkan belum sempat saling bicara ketika gadis itu sadar beberapa waktu lalu. Dia belum benar-benar minta maaf secara langsung. Pria itu belum bilang bahwa ia sudah menerima kalau kematian mama mereka hanyalah kecelakaan.
Yaya tidak salah sama sekali. Tama dan papa mereka saja yang tidak mau menerima kenyataan hingga mereka melampiaskan semuanya pada Yaya. Sekarang Tama sadar bahwa merekalah yang egois. Mereka yang buat Yaya sakit, bahkan gadis itu pergi sekarang karena perbuatan mereka. Tanpa sadar air matanya keluar. Ia begitu emosional dan merasa menyesal saat mengingat semua sikap kasar yang pernah dilakukannya ke sang adik. Pria itu terduduk didepan kamar rawat tersebut, berharap Yaya akan kembali.
Papanya tertegun. Hatinya ikut remuk. Ia tidak tahu mau bicara apa. Tapi ia sudah merenungkan berhari-hari ini. Dia menyadari kalau dirinya adalah seorang ayah yang sangat kejam. Ketika mendengar putrinya sakit, sesungguhnya ia merasa bersalah, merasa tidak pantas. Bahkan untuk melihat Yaya saja dirinya tidak pantas. Dan ketika ia memberanikan diri menemui putrinya hari ini, yang didengarnya adalah kepergian sang putri.
Di tempat lain, Gavin yang sedang menyetir tanpa arah, mencari Yaya tapi tidak bisa menemukannya. Dia sudah mencari ke seluruh pelosok rumah sakit sampai daerah sekitarnya, tapi tidak menemukan Yaya. Gadis itu sangat pintar bersembunyi. Bahkan bayangannya dalam cctv yang mereka lihat tadi tidak ada sedikitpun.
Pria itu mencengkeram setir kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Rasanya sangat frustasi. Demi Tuhan, dia harus menemukan Yaya.
"Gav, sebaiknya balik aja dulu. Kita udah bolak-balik berkali-kali di jalan ini." ucap Bintang yang mengikuti pria itu sejak tadi. Mungkin sudah belasan kali mereka bolak-balik di tempat itu namun tidak menemukan gadis yang mereka cari.
Bintang paham bagaimana perasaan Gavin, tapi mencari-cari seperti ini menurutnya sia-sia saja. Yaya sudah berniat pergi, pasti gadis itu sudah memikirkan tempat untuknya bersembunyi, yang tak dapat ditemukan orang lain. Tiba-tiba Bintang teringat seseorang.
"Savaro!" katanya mengingat nama itu. Menurutnya Yaya tidak bisa kabur sendirian dalam keadaan lemah pasca operasi. Gadis itu dekat dengan Savaro, mungkin saja pria itu yang membantunya.
"Maksud lo apa?" Gavin menoleh menoleh melirik Bintang.
"Kenapa nggak tanya tuh cowok? Mungkin aja dia yang membantu Yaya keluar." detik itu juga Gavin langsung memutar balik mobilnya. Ia tahu Savaro berada di rumah sakit, jagain mamanya. Gavin sungguh berharap perkiraan Bintang benar. Ia berharap bisa segera menemukan Yaya.
Gadis itu sudah bertekad. Yaya pasti sangat kecewa pada mereka semua sampai memutuskan pergi untuk memulai hidup baru. Bintang menarik napas panjang. Ia juga salah satu orang yang punya banyak salah pada Yaya. Terlalu berpikir negatif tentang gadis itu. Ternyata benar jangan menilai seseorang dari luarnya saja.
Di rumah sakit, Savaro baru habis mengambil obat untuk mamanya ketika Gavin dan Bintang menghadang langkahnya dekat apotik rumah sakit tersebut. Pria itu menatap bingung kedua cowok itu. Kenapa dengan mereka? Mereka tampak tegang. Apalagi Gavin, cowok itu terlihat kacau. Apa terjadi sesuatu pada Yaya? Tapi Savaro dengar operasi Yaya berhasil. Ia selalu memantau keadaan gadis itu.
"Ada apa?" akhirnya dia bertanya.
"Kau tahu di mana Yaya?" bukan hanya tatapannya, nada suara Gavin
pun terdengar dingin.
Savaro sendiri tak kalah dinginnya. Hanya pada Yaya dan mamanya saja dia akan berubah menjadi lebih lembut. Tapi ia cukup bingung mendengar pertanyaan Gavin. Kenapa mereka bertanya tentang Yaya padanya?
"Apa maksudmu, Yaya kenapa?" ia balas bertanya dengan suara tak kalah rendah. Gavin tidak menjawab, hanya memicingkan mata tajamnya seolah mencari-cari kebohongan di mata Gavin. Namun sepertinya pria itu juga tidak tahu. Matanya tidak bisa berbohong.
Karena Gavin tidak bersuara juga, pandangan Savaro berpindah ke Bintang seakan meminta penjelasan.
"Yaya pergi. Dalam suratnya, dia bilang jangan mencarinya lagi. Katanya dia ingin memulai hidup baru."
suasana hening sejenak. Savaro terdiam dengan apa yang baru didengarnya. Yaya pergi? Artinya dia tidak akan melihat gadis itu lagi? Pergi kemana? Ya ampun, kenapa harus seperti ini sih. Pria itu benar-benar tidak pernah terpikir Yaya akan mengambil keputusan seperti ini.
"Yaya benar-benar pergi? tanyanya memastikan lagi. Bintang mengangguk. Lalu semuanya diam, hanyut dalam pikirannya masing-masing. Gavin tidak bicara lagi, hanya menunduk dan melangkah pergi dari situ dengan keadaan yang kacau balau. Seperti orang yang tidak punya tujuan hidup. Menghilangnya Yaya yang tiba-tiba membuatnya merasa syok berat.
Apa dia tidak akan melihat Yaya lagi?tidak! Dirinya tidak bisa.