Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 112



Garrel sudah kelimpungan pagi-pagi. Ia memasuki gedung besar tempat diadakannya pernikahan Gavin dan Yaya dengan tergesa-gesa. Ya, sudah berhari-hari ini pria itu sibuk membantu Yaya mengurus segala hal yang berhubungan dengan pernikahan gadis itu dan Gavin. Untung ada Bintang yang membantunya, jadi pekerjaan itu jadi sedikit lebih ringan.


Dan setelah berhari-hari, akhirnya hari ini datang juga. Hari pernikahan kedua sahabat mereka. Ornamen dinding penuh bunga, suara alunan piano yang memainkan nada-nada yang sangat romantis, meja-meja yang tersusun rapi dengan orang-orang yang mulai berdatangan dan duduk didepannya.


Belum lagi sebuah meja panjang yang di atasnya telah tersaji berbagai jenis makanan yang di masak oleh koki terkenal. Semua orang memandang kagum akan penampilan Yaya yang begitu cantik dalam balutan gaun pengantinnya, dan Gavin yang sangat tampan dengan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.


Keluarga, sahabat, rekan kerja bahkan semua orang yang datang dalam pesta tersebut ikut merasa terharu dan berbahagia. Pengantin didepan sana terlihat amat saling mencintai.


Pesta pernikahan itu berlangsung dengan meriah dan mewah. Semua tak lepas dari bantuan Garrel dan Bintang. Yaya dan Gavin akan berterimakasih nanti.


"Aku mencintaimu, istriku." bisik Gavin lalu mencium pelipis gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya itu. Tama dan Putra yang berdiri bersama saling berpandangan dengan senyuman bahagia. Papa Yaya yang duduk tak jauh dari tempat mereka pun ikut bahagia dan terharu. Ia bisa tenang sekarang melihat putrinya kini telah menemukan sosok laki-laki yang bisa menjaganya seumur hidup. Dengan begitu ketika dia pergi nanti, dirinya sudah tidak ada beban. Mengenai Tama, pria tua itu yakin putra sulungnya akan menemukan kebahagiaannya sendiri.


"Akhirnya kau bisa menuntaskan napsumu terhadapnya malam ini," ucap Garrel nyaris berbisik ditelinga Gavin dengan nada meledek. Bola mata Gavin membesar. Pria itu langsung memiringkan kepalanya menatap Yaya tajam. Sedang sang istri yang ditatap pura-pura menghadap ke arah lain. Bersalaman dengan para tamu yang mulai pulang satu persatu.


Garrel tertawa pelan. Senang sekali ia melihat ekspresi Gavin yang tampak jengkel itu. Mungkin pria itu kesal karena Yaya bercerita padanya tentang hal yang cukup privat tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, Yaya memang biasanya sering keceplosan kalau cerita. Apalagi padanya.


"Yaya, selamat yah. Pilihan priamu benar-benar luar biasa. Astaga, kau menikahi seorang Gavin yang sangat terkenal di dunia bisnis." seru Mimi berbisik namun heboh sendiri. Ia sudah menduga sejak awal kalau Yaya memang bukan gadis sembarangan.


"Makasih udah datang ya Mi," kata Yaya. Mimi sebenarnya masih ingin berlama-lama, namun tidak bisa karena orang lain sudah menunggu dibelakangnya untuk menyelamati kedua mempelai sekaligus ijin pulang.


Acara pernikahan tersebut berakhir dengan foto bersama keluarga kedua belah pihak dan sahabat keduanya. Para tamu sudah pulang, tersisa para tim EO yang di sewa untuk membantu jalannya acara tersebut. Mereka beres-beres selama keluarga Gavin dan Yaya foto-foto. Semuanya tentu berbahagia malam itu.


***


Mereka memasuki kamar pengantin yang sudah didekorasi dengan mewah oleh dekorator terkenal, bunganya dipasok oleh orang kenalan Bintang. Beberapa merupakan sumbangan dari Garrel sahabatnya yang sangat senang dengan pernikahan gadis itu.


Garrel memang sahabat dekat Yaya, yang selalu membantunya kapanpun dia siap. Dulu di Perancis, banyak yang mengira mereka berpacaran. tetapi hanya Yaya dan Garrel yang tahu bahwa hubungan mereka tidak lebih dari itu, karena perasaan keduanya memang murni sebagai sahabat yang saling mendukung. Gavin tahu itu, karena semenjak pacaran Yaya menceritakan semuanya, tidak ada yang ditutup-tutupi.


Setelah berganti pakaian dengan gaun tidur warna putih miliknya, Yaya duduk dengan ragu di atas ranjang. Gavin sedang di kamar mandi, membersihkan diri.


waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Gavin selesai mandi. Yaya yang duduk di tepi


ranjang, mendongak ketika lelaki itu berdiri didepannya dengan rambut basah dan tubuh bagian atas yang polos. Bagian bawahnya hanya terlilit handuk yang membuat pria itu makin menggoda. Wajah Yaya berkedip-kedip lalu menunduk malu. Otot-otot perut Gavin begitu kencang, membuktikan kalau ia rajin berolahraga.


Hening.


Gavin menatapnya lama sekali,


"Sudah."


Sekarang jantung Yaya berdegup kencang, malam ini


mereka adalah suami istri. Pipi Yaya merona, membayangkan


bagaimana mereka akan melewatkan malam ini. Yaya bagaimanapun juga menyimpan ketakutan kalau dia akan mengecewakan Gavin yang sepertinya sudah begitu


berpengalaman dibanding dirinya. Lalu dia merasakan tubuhnya di dorong hingga terbaring di tempat tidur.


Gavin menindihnya, memberikan kecupan-kecupan ringan ditelinga, lalu melum at bibir Yaya dengan rakus. Kemudian jeda sebentar,


"Aku akan membuat malam ini menjadi malam terindah untukmu," gumam pria itu serak dengan nafas terengah-engah.


Lidahnya kembali bermain di bibir Yaya. Makin turun, dan memberikan tanda kepemilikannya di leher gadis itu. Mata Yaya tertutup menikmati setiap sentuhan Gavin. Lalu, ketika tangan pria itu mulai bergerak nakal dibagian sensitifnya, mata Yaya terbuka.


"Mmph ... Ahh, G ... Gavin, ap ... Apa yang kamu lakukan?" pekiknya panik. Jemari Gavin sudah berada dalam miliknya, menggoda dengan gerakan memutar dan membuat tubuhnya panas dingin dengan hebatnya akibat sentuhan yang baru saja ia alami itu. Sensasi yang baru itu membuatnya benar-benar mabuk. Matanya sesekali tertutup dan mulutnya terbuka ketika gerakan tangan Gavin makin cepat.


"Jangan takut, nikmati saja. Ini baru pemanasan sayang," bisik Gavin begitu menggoda.


"Ahhh ...." Yaya merasakan sesuatu akan keluar dari dalam dirinya.


"Gavin ...," ia tidak tahan lagi. Tangannya meremas kuat bahu Gavin. Dan akhirnya cairan kenikmatan itu keluar, membuat tubuhnya menggelinjang hebat akibat perbuatan Gavin. Namun anehnya, itu benar-benar nikmat. Pantas saja orang-orang suka melakukan s e x. Karena rasanya benar-benar memabukan.


"Sekarang aku akan masuk," gumam Gavin mengecup kening Yaya singkat.


Awalnya Yaya tidak mengerti. Tapi setelah suaminya melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya dan mengarahkan miliknya yang besar dan sudah mengeras itu sambil menggosok-gosok pelan di permukaan kewanitaan Yaya, gadis itu baru mengerti. Ia menahan napas.


Lalu perlahan tapi pasti, Gavin memasukkan kejantanannya di sana. Membuat Yaya memekik kuat.


(Selanjutnya ku skip ya)🙂


Jangan lupa tinggalin like dan comment kalian ya😇 votenya juga jangan lupa🙏