Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 37



Butuh waktu lebih dari sejam bagi Yaya untuk mencapai apartemen Tama, kakaknya. Sudah berkali-kali ia memencet bel apartemen itu tapi tidak di buka-buka juga. Apa kakaknya ada d idalam?


Yaya mengumpat dalam hati. Ia yakin kakaknya pasti ada di dalam. Sialan. Kenapa sikap pria yang sedarah dengannya itu dingin sekali padanya. Gadis itu bersiap memencet bel lagi namun terhenti karena pintu akhirnya terbuka. Ia mendesah panjang karena lagi-lagi kak Putra yang muncul didepannya, bukan kakaknya.


Yaya yakin pria itu akan mengatakan berbagai macam alasan supaya ia pergi tapi gadis itu tidak akan memberinya kesempatan sekarang. Ia sudah bertekad untuk tinggal dengan kakaknya di apartemen ini. Tanpa aba-aba gadis itu mendorong keras Putra hingga lelaki itu termundur beberapa langkah. Melihat pria itu lengah, ia cepat-cepat mengambil kesempatan itu untuk masuk. Gerakannya begitu cepat hingga Putra tidak bisa mencegahnya masuk bersama koper besarnya itu.


"Yaya." gumam Putra cepat-cepat mengikuti langkah gadis yang sekarang sudah duduk di sofa.


"Kak Tama mana?" tanya gadis itu menatap Putra.


Tak ada jawaban. Pria itu hanya menatap gadis Yaya sekilas dan berpindah ke koper besar disebelah gadis itu. Dahinya berkerut. Mungkinkah...?


"Kau berani masuk?"


Suara berat tersebut membuat Putra dan Yaya sama-sama menoleh ke sang pemilik suara. Tama kini berdiri di dekat mereka dengan tatapan tajam menatap Yaya, adiknya yang selama ini tidak ingin ia lihat. Kedua tangannya dilipat di dada dengan sikap angkuhnya.


Yaya mencibir melihat sikap pria itu. Dasar sombong, umpatnya.


"Mulai hari ini aku akan tinggal di sini." putusnya sepihak. Tama mendengus keras. Apa katanya? Mau tinggal di sini? Apa gadis ini sudah gila? Memangnya dia tidak sadar apa kalau selama ini pria itu pergi dari rumah karena tidak mau melihatnya?


Dan apa sekarang? Tinggal di sini? gampang sekali dia bilang begitu. Jangan harap.


Tanpa aba-aba Tama maju mendekati adiknya, menarik lengannya kasar dan menggiringnya keluar secara paksa. Putra yang melihatnya menjadi bingung. Ia hanya mengikuti mereka tanpa berbuat apa-apa. Dirinya jadi serba salah mau memihak sahabatnya atau gadis yang kasihan dimatanya itu.


Yaya cukup kaget dengan tindakan kasar kakaknya tapi ia tidak mau kalah. Sekuat tenaga ia menahan diri melawan kekuatan seorang Tama yang mau menyeretnya keluar.


"Lepasin aku. Aku mau tinggal di sini kenapa sih." gadis itu mulai kesal karena merasa kewalahan. Kakaknya terlalu kuat tapi ia tetap tidak mau kalah. Ia mati-matian melawan.


"Jangan harap. Pulang sekarang." tegas Tama.


"Nggak!" balas Yaya sarkas. Ia berusaha mau masuk lagi tapi tangan Tama terlalu kuat menahannya.


"Yaya, pulang sekarang!" sentak Tama lagi kasar. Ia juga mulai kewalahan menghadapi adiknya yang keras kepala itu.


Teriak Yaya kencang. Tama menatapnya tajam. Belum sempat ia bicara lagi, gadis itu sudah mendorongnya kasar. Mata pria itu membelalak kaget. Putra yang berdiri dibelakangnya ikut termundur kena imbas di tubruk pria itu. Entah kenapa tenaga seorang gadis kecil dan lemah seperti Yaya ini menjadi amat kuat.


"Kalian harus tanggung jawab! Karena kalian aku jadi begini!" tukas Yaya emosi. Putra dan Tama sama-sama tidak mengerti maksud perkataan gadis itu. Kalian? Putra berpikir dalam hati, apa dia salah satu yang di maksud Yaya?


Gadis itu berusaha mengatur nafasnya supaya kembali normal lagi dan menaikan wajahnya menatap Tama.


"A..aku.., aku.., aku harus tinggal di sini sampai aku mati."


Huh! Tama mendengus keras. Jangan harap ia akan mengijinkan gadis itu tinggal bersamanya. Ia tidak ingin diganggu, tidak ingin melihat wajah itu, dan tidak mau mengingat kejadian yang terjadi di masa lalu karena gadis itu. Melihat wajah adiknya akan membuatnya selalu terbayang-bayang peristiwa itu. Kecelakaan yang menimpa mamanya. Dan tiap kali ia mengingat peristiwa yang menimpa mamanya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak membenci Yaya.


"Pergi." tegas Tama dengan suara berat dan penuh tekanan.


Pria itu kembali menarik Yaya, mendorongnya pergi tapi gadis itu malah memeluknya kuat-kuat tidak mau melepaskan dirinya. Tama tambah kewalahan. Ia melirik Putra meminta bantuan dengan matanya. Mau tidak mau Putra membantu mencoba melepaskan gadis itu dari Tama namun tak disangka-sangka, gadis itu malah menyerangnya, mencakarnya dan meronta-ronta seperti orang gila. Malah jadi Tama yang membantu Putra dari serangan brutal sang adik. Tindakan gadis itu sukses membuat kedua pria dewasa tersebut sangat kewalahan, sampai sebuah teriakan menggelegar dari ambang pintu masuk.


"YAYA STOP!"


Suasana berubah hening. Yaya tersadar seolah tahu suara siapa itu.


Itu bukan suara Tama atau pun Putra.


Namun suara menggelegar itu membuat tiga orang yang sibuk beradu sejak tadi langsung terhenti. Mereka sama-sama menoleh ke arah seseorang yang berteriak itu.


Yaya menelan ludahnya ketika melihat Gavin telah berdiri didepannya, menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi seperti.., marah?


Yaya terdiam di tempatnya tidak tahu mau bicara apa. Aura Gavin membuatnya tidak berkutik. Ia tidak tahu kenapa pria itu bisa ada di sini. Gadis itu terus menatap Gavin yang sekarang sedang menatap Tama dan Putra bergantian. Entah kenapa ia merasa Gavin dan dua pria itu sepertinya saling kenal.


"Dia sekelas denganku. Aku akan membawanya pergi sekarang." ujar Gavin ke Tama dan Putra lalu menarik kasar tangan Yaya membawanya keluar dari situ.


Putra dan Taman saling bertukar pandang dengan raut wajah bingung. Sesaat kemudian Tama memutuskan untuk tidak peduli dan memilih masuk. Ia tidak tahu keanehan apa yang menimpa adiknya hari ini, namun hatinya merasa lega karena gadis itu sudah pergi. Apa jadinya kalau mereka tinggal serumah nanti.


Berbeda dengan Tama yang tidak peduli, Putra malah merasa ada sesuatu yang aneh. Entah kenapa ia merasa Yaya sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu mustahil bagi Tama mengijinkan gadis itu tinggal bersamanya, tapi sikap kasar Tama membuatnya merasa iba pada gadis itu. Meski ia akui kekuatan gadis itu saat sedang marah membuatnya tidak berkutik. Lihat saja kondisinya sekarang. Pria itu menertawai dirinya sendiri. Baru kali ini ia diserang seperti tadi. Pipi dan tangannya sudah penuh lebam akibat serangan Yaya tadi.