
"Kak Tama mau bawah papa berobat ke luar negeri?" Yaya menatap kakaknya yang baru balik dari ruangan dokter yang bertanggung jawab terhadap papa mereka. Tama mengangguk membenarkan.
"Kata dokter dengan keadaan papa sekarang, lebih baik kita memindahkannya ke luar negeri. Dokter Billy sudah menghubungi rumah sakit di sana. Perawatan di sana untuk penyakit papa jauh lebih lengkap. Kakak akan mengantar papa besok." pria itu menjelaskan.
Yaya menghembuskan napas panjang.
"Aku ikut." Ada Gavin di sebelahnya yang mendengar. Pria itu tidak mengatakan apapun. Biasanya dia akan keberatan, dan memang dalam lubuk hatinya ia cukup keberatan kalau Yaya ikut. Tapi Gavin tahu dia harus bersikap dewasa. Ini masalah papa Yaya, dirinya tidak boleh egois.
"Tidak usah. Kakak sendiri saja. Kamu juga ada pekerjaan kan? Kamu kerja saja. Nanti kalau memang papa butuh lihat kamu, kakak akan menghubungi kamu secepatnya." ujar Tama. Kalau masalah pekerjaannya, ada asisten yang dia percaya untuk menggantikannya beberapa minggu. Tapi Yaya, gadis itu belum lama kerja di bidang yang dia sukai. Tama tidak tega gadis itu jadi sering bolos kerja yang ujung-ujungnya membuat pekerjaannya terbengkalai. Beda lagi kalau sang adik kerja di perusahaan yang tidak ia sukai.
Mau tak mau Yaya akhirnya mengangguk setuju.
"Sekarang kamu pulang yah. Biar kakak aja yang jagain papa. Nanti kamu telat masuk kerja besok." kata Tama lagi. Pandangannya berpindah ke Gavin dengan sorot mata memerintahkan pria itu mengantar pulang adiknya. Gavin yang langsung mengerti ikut bangkit dari sofa, merangkul pundak Yaya dan menghadap Tama.
"Baik bang, aku akan memastikan keselamatan adik abang sampai rumah." ucap pria itu. Yaya terkekeh. Lama-lama Gavin bawaannya jadi lucu. Tak lama setelah itu pasangan kekasih tersebut pergi. Tama menghadap ke arah sang papa dan menarik napas. Mudah-mudahan saja kondisi papa mereka akan membaik saat dipindahkan ke luar negeri.
***
"Nggak di ajak masuk nih," ucap Gavin memberi kode halus ke Yaya. Mereka sudah sampai di rumah gadis itu. Kini tengah berdiri di depan pintu masuk ruang depan. Para pembantu sudah tidur tadi. Hanya ada satpam yang berjaga didepan gerbang.
Yaya menyipitkan mata Ke Gavin.
"Udah pulang sana. Kan kamu sudah janji sama kak Tama bakalan langsung pulang." usir Yaya. Gavin lalu memasang tampang cemberutnya dengan sengaja. Tangannya terulur menggenggam jemari Yaya. Meremas-remasnya pelan.
"Tapi aku masih pengen berduaan," gumamnya dengan nada manja. Hanya ke Yaya dia jadi seorang Gavin yang manja begitu. Ia yakin Bintang akan menertawainya kalau melihat sikap sekarang. Bagi sebagian laki-laki itu sikap yang cukup membuat sesama pria merasa jijik.
"Kok cubit-cubit sih?" protesnya masih dengan nada yang sama. Yaya tertawa pelan.
"Lagian kamunya. Ini tuh udah mau pagi. Udah pulang sana. Kalo kamu nggak pulang, aku nggak bisa tidur. Terus kalo nggak bisa tidur, kemungkinan besar besok aku bisa bolos kerja. Kamu mau aku bolos kerja terus, hm?" kata gadis itu panjang lebar. Gavin masih bermain-main dengan jemari sang pacar. Padahal dia masih pengen berduaan. Ya sudahlah, dia mengalah dulu.
"Kalo gitu cium dulu," gumamnya langsung memajukan bibirnya ke depan. Yaya menghadap kanan kiri. Lalu menatap Gavin lagi dengan wajah ragu.
"Di sini?" memang sih keadaan sekitar sudah sepi. Tapi bagaimana kalau tiba-tiba ada yang liat? Malah di balas dengan anggukan Gavin lagi. Yaya menarik napas. Ia lalu mengecup singkat pipi Gavin, membuat pria didepannya menatapnya dengan raut wajah protes.
"Bukan disitu sayang," ucap Gavin.
"Di sini," lanjutnya sambil memegangi bibir. Yaya berdecak pelan. Gavin ini gimana sih, dia kan malu.
"Kalo kamu nggak cium, aku yang cium kamu. Kalau aku yang cium, kamu tahu kan nggak bakal cuma nempel?" kata Gavin lagi memberi peringatan dengan nada menggoda. Mau tak mau Yaya langsung memberikan sebuah kecupan ringan di bibir pria itu, membuat seulas senyum tipis terpampang jelas di wajah bahagia Gavin.
Gavin membalas dengan menciumi seluruh wajah Yaya. Kening, mata, hidung, pipi, bibir, semua di absen satu persatu sama pria itu. Sampai Yaya merasa wajahnya sudah dipenuhi dengan air liur Gavin.
"Udah cepetan pergi," kata Yaya setelah Gavin menghentikan kegiatannya. Gadis itu mendorong pelan sang pacar.
"Iya, iya. Masuklah, besok pagi-pagi aku jemput." kata Gavin.
"Hem," Yaya membuka pintu depan dan melambai ke Gavin, menunggu sampai pria itu berbalik pergi.
"Tutup pintunya. Aku pergi setelah kamu tutup pintu." ucap pria itu yang akhirnya membuat Yaya menutup pintu. Mereka akhirnya benar-benar berpisah setelah menjalani hari yang panjang sepanjang hari ini. Yaya tersenyum senang. Gavin benar-benat memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Dia sangat bahagia.