Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 59



Gavin menghela napas panjang setelah mematikan komputernya. Ketika ia melihat arlojinya, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Untuk kesekian kalinya ia menghabiskan waktu dengan lembur dikantor. Pria itu memijit pelipisnya sambil menyandarkan diri di kursi kerjanya sebentar. Kepalanya sedikit pusing.


Sepuluh menit kemudian pria itu beranjak keluar.


"P... Pak Gavin,"


suara itu menghentikan langkah Gavin. Pria itu menoleh ke samping dan mendapati seorang wanita seusianya berdiri didekatnya dengan senyuman manis. Meski tersenyum, wanita itu sekali tidak bisa menutupi rasa malunya. Jelas sekali di mata Gavin.


Gavin menatap datar wanita itu. Tanpa minat. Mungkin wanita itu juga sedang lembur.


"A... Anda sudah mau pulang pak?" suara wanita itu terdengar malu-malu. Orang-orang biasa memanggilnya Olla. Sudah lama memang Olla naksir Gavin. Tiap kali atasannya itu lembur, ia akan ikut lembur tapi baru kali ini ia berani menyapa pria itu secara langsung.


Awalnya Olla memang menahan malu untuk menyapa pria itu, namun ia ingin Gavin melihatnya. Mungkin saja dengan berbuat nekat begitu, dirinya bisa sedikit lebih dekat dengan laki-laki yang disukainya tersebut. Sayang sekali Olla harus menahan kekecewaannya karena atasannya tersebut sama sekali tidak membalas sapaannya dan malah lanjut pergi. Seolah-olah keberadaannya tidak ada.


Gavin sangat dingin. Sejak Olla menjadi karyawan dikantor itu, pria itu memang sudah begitu. Ia juga pernah dengar gosip tentang Gavin. Entah gosip itu benar atau tidak, Olla sama sekali tidak peduli. Dia hanya berharap suatu hari nanti atasannya tersebut bisa melihatnya bahkan kalau bisa menyukainya. Ia selalu berandai-andai jika dirinya menjadi istri seorang Gavin yang tampan dan memiliki segalanya, para wanita pasti akan iri padanya. Sayang sekali sampai sekarang bos tampannya itu tidak pernah meliriknya sedetikpun.


                                    ***


"Bagaimana, ada kabar baru hari ini?"


"Lapor tuan muda, tidak ada. Kami belum menemukan sesuatu yang mencurigakan dari gerak-gerik dokter Laska. Kami hanya dengar dia akan menikah minggu depan.


Tama yang sibuk memeriksa bekas mendongak menatap kedua laki-laki berbadan besar didepannya. Sudah lama mereka bekerja untuknya. Tidak lama setelah adiknya hilang bak ditelan bumi.


Sama seperti Gavin, sampai detik ini pun Tama masih tidak berhenti mencari-cari di mana keberadaan sang adik. Awalnya ia tidak mencurigai Laska sama sekali. Namun setelah berpikir berulang kali dipikirkan, dulu dokter yang mengurus adiknya itu beberapa kali kedapatan melakukan sesuatu yang mencurigakan. Bahkan ia sempat memeriksa pria itu sempat membeli peralatan lukis beberapa kali. Dan kalau di pikir-pikir sekarang, Yaya yang waktu itu baru saja habis operasi tidak mungkin bisa pergi sendiri dengan keadaannya yang masih lemah. Ada orang lain yang membantunya. Dan menurut Tama, yang paling mungkin membantu adiknya pergi adalah dokternya sendiri.


Selain bisa bersembunyi dengan tenang waktu itu, dokter tersebut juga tidak akan di curigai. Secara logika, itu masuk akal bagi Tama. Sayang sekali sepertinya kecurigaannya mulai pupus. Selain tidak memiliki bukti yang kuat, bertahun-tahun ini suruhannya mengikuti Laska, tapi sampai sekarang tidak menemukan apapun. Mereka sempat masuk diam-diam di rumah sang dokter, tapi rumah itu bersih. Tidak ada tanda-tanda ada wanita yang tinggal di sana selain sang dokter.


"Dengar, mulai sekarang kalian tidak perlu mengikutinya lagi. Mungkin aku yang terlalu berlebihan menaruh curiga padanya." katanya memberi perintah.


"Kalau begitu pekerjaan kami mencari nona...?" salah satu dari laki-laki berbadan kekar itu balik bertanya.


"Cari lagi di setiap sudut kota ini. Adikku tidak mungkin keluar negeri. Dia pasti bersembunyi di suatu tempat." Tama yakin sekali akan hal itu.


Tama mendesah berat. Ia memang ragu mereka akan menemukan adiknya, karena polisi saja sampai sekarang tidak bisa menemukannya. Tapi Tama tidak ingin berhenti. Setidaknya kalau ia tanpa sengaja bertemu secara kebetulan dengan Yaya, adiknya itu tahu kalau bertahun-tahun ini mereka terus mencarinya. Ia ingin Yaya tahu bahwa dirinya dulu amat menyesali semua perbuatannya. Dia memang kakak yang bodoh dan egois. Bahkan saat gadis itu sakit, ia sama sekali tidak tahu apa-apa dan memperlakukannya dengan kejam. Menghilangnya Yaya memang adalah hukuman berat baginya, tapi dia sungguh merindukan adiknya. Ia sangat tersiksa. Juga papa mereka...


Tama mendesah berat. Mungkin Tuhan sedang menghukum dia dan sang papa yang terlalu kejam pada Yaya.


"Kamu di mana dek?" gumamnya sambil menatapi foto Yaya dalam bingkai di atas meja kerjanya. Ia selalu menatap wajah manis yang sedang tersenyum itu tiap hari. Karena hanya dengan menatap gambar Yaya, luka dihatinya sedikit terobati.


                                    ***


"Apa ini?" Gavin bertanya dengan pandangan berpindah-pindah pada Garrel dan sebuah undangan di tangannya. Mereka ada di bar biasa. Tapi kali ini Gavin belum minum banyak. Dia masih sadar sepenuhnya.


"Lo masih ingat dokter Laska kan?" balas Garrel. Gavin memutar otaknya.


Ah ya. Dia ingat sekarang. Pria bernama Laska adalah dokter pribadi Yaya dulu. Tapi apa hubungan dokter itu dengan Garrel?


"Kebetulan dia abang gue. Minggu depan dia bakal nikah dan nitip undangan ini ke lo." kata Garrel lagi menjelaskan.


Gavin menatap undangan ditangannya lagi. Ia merasa aneh. Ia tidak dekat dengan dokter itu, bahkan sudah bertahun-tahun ini mereka tidak bertemu. Mereka juga bukan kerabat, kenapa tiba-tiba mengundangnya? Mau abangnya Garrel atau bukan, tidak ada hubungan dengannya. Gavin tidak tertarik sama sekali.


"Gue nggak janji dateng bilang ke dia." ucap pria itu langsung. Garrel tersenyum menganggukkan kepala.


"Coba aja datang. Mungkin aja lo bisa ketemu jodoh lo di sana." balasnya membuat Gavin menatapnya tajam. Dia bukan laki-laki yang gampang terpesona dengan perempuan cantik. Sampai sekarang dia tetap setia pada satu perempuan. Selama perempuan itu bukan Yaya, mustahil dirinya akan tertarik.


"Oke-oke. Gue nggak bahas cewek lagi." Garrel mengangkat kedua tangannya lalu melirik ke jam tangan.


"Gue harus balik sekarang. Lo jangan terlalu minum banyak karena gak ada yang liatin lo nanti." pria itu lalu keluar dari situ meninggalkan Gavin sendirian dengan tampang cueknya.


Sebelum benar-benar pergi, Garrel menoleh sebentar ke Gavin.


"Hanya ini yang gue bisa buat bantu lo Gav," gumamnya. Ia berharap Gavin akan datang di pesta pernikahan kakaknya dan bertemu dengan Yaya.