Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 76



Yaya membawa Gavin ke kamarnya. Kamar yang ia tempati sudah lebih dari dua tahun ini. Setelah pindah ke kota, kamar ini tetap menjadi miliknya. Kata Garrel, mereka tidak akan memindahkan barang-barangnya dan menyewakan kamar tersebut, agar kapan saja gadis itu ingin datang, ia bisa tinggal di kamar ini.


Gavin memandangi seluruh ruangan kamar tersebut. Ada beberapa lukisan yang terpampang di dinding, dan beberapa foto Yaya, bahkan foto gadis itu dengan Garrel dan dokter Laska.


Yaya buru-buru menidurkan bingkai tersebut agar Gavin tidak melihatnya lagi. Karena Yaya bisa merasakan aura cemburu Gavin ketika pandangan pria itu jatuh ke bingkai berisi foto dirinya bersama dua laki-laki yang merawatnya itu.


Gavin menatap Yaya tajam.


"Kenapa? Takut ketahuan bahagia sama cowok lain? Sampe dua lagi." cetus Gavin ngambek. Yaya berbalik menatap Gavin lalu menggeleng-geleng kepalanya sambil menyengir lebar.


"Kamu ingin aku cerita pengalamanku tinggal di desa ini?" tanyanya mengganti topik. Gavin menatapnya dan tertawa sumbang.


"Sengaja mau ganti topik rupanya." balas pria itu lalu berdiri dari kasur dan tanpa aba-aba menarik Yaya hingga terduduk dipangkuannya.


Yaya kaget bukan main ditarik begitu saja. Semenjak mereka bertemu lagi, pria itu memang tidak berhenti-berhentinya membuat dia heran dengan segala perubahannya.


"G... GavinLepasin, posisi kita nggak bener." Yaya belum pernah duduk dengan gaya seperti ini dengan seorang pria. Terang saja dia gugup. Apalagi Gavin kini menatapnya dalam-dalam.


Yaya takut ada yang tiba-tiba masuk, melihat posisi mereka sekarang dan salah paham. Bagaimana tidak salah paham coba kalau posisinya sekarang mengangkang dengan kedua kakinya melingkar dipinggang Gavin. Dia ingin turun, tapi Gavin menekan pinggulnya kuat-kuat hingga membuatnya merasa tak berdaya. Ya ampun, dia sudah salah membawa laki-laki ini ke kamar. Tidak aman buat jantungnya. Gavin pria yang amat sangat meresahkan.


"Jawab jujur, kamu ada apa sama Savaro? Apa dia terus berhubungan denganmu selama sembilan tahun ini?" pria itu tak mempedulikan ucapan Yaya. Ia lebih peduli dengan siapa saja gadis itu berhubungan selama ini.


Ketika melihat Savaro tadi, hatinya jadi panas. Karena dia tahu sewaktu sekolah dulu, Yaya dan pria itu dekat. Bahkan dia pernah salah paham dengan hubungan mereka. Jelas sekali dimatanya kalau Savaro menyukai gadisnya ini. Gavin bisa lihat dari gerak-geriknya dan caranya memperlakukan Yaya.


"Nggak. Aku sama kak Sava baru ketemu beberapa minggu yang lalu. Sebelum aku pindah ke kota. Kak Sava nggak sengaja liat aku dan Garrel di jalan, dan diam-diam ikutin kami sampai ke sini. Begitulah cara kami bertemu lagi." sahut Yaya menjelaskan.


Ada perasaan lega di hati Gavin mendengar penjelasan Yaya. Ternyata pria itu sama dengannya, tapi dirinya lebih beruntung. Karena Yaya adalah miliknya sekarang. Gavin lalu memeluk Yaya sembari mengusap-usap punggungnya penuh sayang.


Banyak sekali cerita yang ingin dia bagi dengan gadis itu, tapi ia tahu sekarang bukanlah waktu yang tepat.


"Yaya, sampai kapan kalian akan bica... Sial!"


Garrel yang masuk tiba-tiba tanpa mengetuk cepat-cepat berbalik badan saat melihat posisi pasangan tersebut. Sedang Yaya buru-buru turun dari pangkuan Gavin, ekspresinya seperti orang yang baru saja tertangkap basah melakukan yang tidak-tidak. Berbanding terbalik dengan Gavin yang santai. Pria itu malah menatap Garrel dongkol karena masuk tanpa permisi. Mengganggu waktu berduanya dengan kekasihnya saja. Belum juga sampai ciuman. Padahal dia sudah berniat menagih janji Yaya tadi, namun terhenti karena kedatangan laki-laki itu.


"K... Kenapa Rel?" tanya Yaya sedikit terbata efek gugup.


"Mm."


Garrel lalu berbalik.


"Apakah kalian sudah selesai ngobrol? Kami butuh bantuan di luar. Kau masih ingatkan alasan utama datang ke sini?" ujar Garrel mengingatkan. Yaya terkekeh lalu mengangguk.


"Iya, tenang aja Rel."


"Apa dia selalu masuk tiba-tiba begitu saat datang ke kamar kamu?" Gavin angkat suara. Giliran Garrel yang tertawa. Senyuman nakal terpampang di wajahnya. Kayaknya bagus nih kalo bikin laki-laki yang tengah di mabuk cinta itu cemburu.


"Kami bahkan pernah tidur bersama. Kau mau tahu apa yang sudah kami berdua lakukan selama sembilan tahun ini?" ucap Garrel sengaja memanas-manasi. Gavin melotot.


Tidur bersama? Apa maksudnya? Ia langsung menatap Yaya dengan wajah horor. Meminta alasan gadis itu. Sedang Yaya langsung melemparkan tatapan membunuhnya ke Garrel. Tidak tahu apa dia susah payah membujuk Gavin agar emosi pria itu terkontrol.


"Jangan hiraukan dia." kata Yaya menatap Gavin. Pria itu masih menatapnya horor.


"Kalau kau mau dengar, aku bisa cerita kisah tentang kami berdua. Bagaimana Yaya sangat bergantung kepadaku." kata Garrel lagi masih mau memanas-manasi.


"Garrel diamlah," seru Yaya melempari lelaki itu dengan bantal. Garrel sendiri hanya tersenyum puas. Puas melihat wajah cemburu Gavin.


"Gav, jangan dengerin dia ya. Dia memang sengaja bilang gitu." wajahnya berpindah ke Gavin.


"Kalian pernah tidur bersama? Jawab dengan jujur." tanya Gavin dengan nada menuntut. Dan anggukan Yaya membuatnya ingin mengamuk detik itu juga.


"Tapi bukan tidur seperti yang kamu pikir. Dia tidurnya di sofa. Waktu itu aku sakit, jadi Garrel temenin aku." jelas Yaya. Gavin memicingkan mata.


"Bener?"


"Sumpah."


Gavin lalu memiringkan kepala menatap Garrel dengan tatapan membunuhnya. Saat pria itu berdiri dari kasur, Garrel cepat-cepat berlari keluar. Ia pikir Gavin mau meninjunya lagi seperti semalam. Jadi mending kabur saja.


"Yaya, jangan lama-lama di dalam. Nanti sih Gavin bisa kelepasan!" serunya masih sempat-sempatnya meledek. Sementara Yaya hanya menggeleng-geleng. Dasar manusia laknat. Sudah babak belur begitu, belum tobat-tobat juga.