Dear, Gavin

Dear, Gavin
39



Pandangan Bintang berpindah ke Gavin. Pria itu terlihat tenang meski sesekali menatap Yaya yang sekarang kerjaannya tidur-tiduran terus di kelas, tiap hari.


"Lo apain tuh cewek? Kok nggak heboh lagi ngejar-ngejar lo?"


tanyanya saking penasarannya. Namun Gavin tidak menanggapi sama sekali. Bintang berdecak kesal menatap sahabatnya itu. Ia ingin bicara lagi tapi pak Dino sih guru bahasa Inggris tiba-tiba masuk. Kelas berubah hening.


Sejak masuk tadi, tatapan pak Dino tak pernah lepas dari Yaya yang  ketiduran. Lelaki tua itu menarik nafas panjang. Sudah kesekian kalinya ia melihat gadis itu tidak pernah serius ketika dirinya mengajar. Kemudian diambilnya penghapus papan tulis dan dilemparkan ke arah gadis itu. Lemparan tersebut sukses kena kepala Yaya.


Yaya terbangun saat merasakan sesuatu yang berat mengenai kepalanya. Rasanya tidak seberapa dibanding waktu dia dilempari dengan benda yang sama ketika kepalanya sedang terluka. Gadis itu ahlinya menahan sakit. Sudah terbiasa.


Yaya lalu menegakkan tubuhnya menghadap depan. Sikapnya santai dan tak ada rasa takut sedikitpun. Sebagian besar teman-teman sekelasnya mulai berbisik-bisik karena merasa gadis itu tidak seperti biasanya. Ada yang mengatai gadis itu jadi stres karena cintanya pada Gavin bertepuk sebelah tangan, ada juga yang menatapnya iba.


"Berdiri kamu!" tukas pak Dino menggelegar di seluruh ruangan kelas. Yaya menurut.


"Saya lihat kamu tidak pernah serius di pelajaran saya. Kamu mau nggak naik kelas hah?"


perkataan itu membuat Yaya tertawa remeh. Tindakannya tidak luput dari Gavin dan Bintang yang terus memperhatikannya dari belakang. Yaya memang benar-benar tidak seperti biasanya. Batin Gavin.  Saat ini yang ia lihat didepannya bukan lagi seorang gadis lebay dan cerewet yang terus menempel padanya seperti permen karet. Gadis itu berubah menjadi sosok dingin dan tak terbaca.


"Dia beneran Yaya?" bisik Bintang di telinga Gavin. Horor juga melihat perubahan sikap Yaya. Gavin menatapnya sekilas dan kembali mengamati gadis yang sekarang ini tengah berdiri didepannya.


Yaya berdiri dengan sikap diam. Hampir sejam pak Dino mengajar. Artinya hampir sejam juga Yaya berdiri di atas bangkunya tanpa suara. Gadis itu terlihat tenang. Capek? Dibandingkan dengan berdiri sejam, pikirannya jauh lebih lelah. Gadis itu terhanyut dalam perasaannya sendiri. Wajahnya datar seperti orang yang tak punya semangat hidup.


Ia merasa ada yang menyentuhnya.  Yaya menatap ke bawah dan mendapati Bintang telah duduk di sebelahnya. Pak Dino sudah tak ada di kelas karena pelajarannya memang sudah selesai. Anak-anak lain juga sudah tak ada. Sepertinya gadis itu tidak sadar saat bel istirahat berbunyi tadi.


"Lo ngapain masih berdiri? Pak Dinonya udah keluar dari tadi. Turun gih." kata Bintang keheranan. Ia merasa memang ada yang aneh dengan Yaya.


Sejak gadis itu berdiri tadi, ia tidak bergerak sedikitpun bahkan mengeluh capek pun tidak. Biasanya ia sengaja beralasan ini itu demi dapat perhatian Gavin. Tapi sekarang, Gadis itu bahkan tidak menoleh sedikitpun ke Gavin, ia malah pergi tanpa suara. Mengacuhkan Bintang yang bicara padanya.


"Kenapa sama tuh cewek?"


ujar Bintang cengo. Ia melirik Gavin lagi. Gavin hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Meski dalam hatinya ia mulai merasa tidak tenang. Apa gadis itu jadi aneh begitu karena perkataannya? Tanpa pikir panjang Gavin berdiri dari bangkunya bermaksud menyusul Yaya.


                                    ***


Yaya memilih menyendiri di kebun sekolah yang selalu sepi itu. Akhir-akhir ini tiap jam istirahat ia pasti ke situ. Berbaring di dinginnya rerumputan sambil menatap langit. Bahkan sudah beberapa hari ini ia jarang masuk kelas lagi setelah jam istirahat berakhir. Ia sudah tak bergairah belajar. semua pelajaran tak bisa masuk di otaknya lagi sekarang. Daripada belajar, dirinya lebih memilih tidur untuk mempersingkat hari.


Gadis itu merasa terusik saat merasakan seseorang mengusap wajahnya. Meski usapan itu lembut, ia tetap tidak suka. Pastinya karena merasa orang itu mengganggunya.


Matanya perlahan terbuka ingin memarahi orang yang mengusiknya tapi tidak jadi. Keinginannya untuk marah berubah ketika melihat siapa orang itu.


"Kak Sava?"


Sudah hampir tiga minggu ini Savaro tidak bertemu gadis itu karena mamanya tiba-tiba drop dan dia harus izin belajar di rumah untuk menjaga mamanya. Hari ini dirinya bisa masuk sekolah lagi karena mamanya mulai membaik. Ia senang bisa melihat gadis itu lagi. Gadis yang diam-diam disukainya. Yah, meski ia tahu gadis itu menyukai orang lain.


Dahi pria itu berkerut samar mengamati Yaya baik-baik. Gadis ini tampak kurus.


"Kamu kurusan." gumamnya menatap gadis itu, mengamatinya lagi dengan saksama.


Yaya tersenyum tipis. Ia bangun menyamakan posisi duduknya dengan sang kakak kelas.


"Kak Sava kemana aja?" tanya Yaya mengalihkan pembicaraan. Ia berusaha terlihat ceria dihadapan Savaro.


Pria itu lagi-lagi tersenyum.


"Mama aku sakit, nggak ada yang


jagain." jawabnya.


Yaya mengangguk-angguk mengerti.


"Jadi kak Sava ijin buat jagain mamanya kakak?" Savaro menjawab dengan anggukan.


Setelah itu hening.


Savaro sadar gadis itu sedang menutupi sesuatu. Walau terlihat ceria didepannya, ia bukanlah seseorang yang gampang dibodohi. Mata gadis itu tak bisa berbohong. Ada kesedihan di sana.


Apa karena Gavin?  Pria yang disukainya...


Atau keluarganya?


Savaro mencoba menerka-nerka. Ia ingin sekali bertanya tapi ia takut pertanyaannya akan membuat Yaya makin sedih. Hatinya berkata sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya.


Mereka tidak sadar dari jauh, ada yang diam-diam melihat mereka berbincang. Siapa lagi kalau bukan Gavin. Ia melihat Yaya yang tampak ceria dan kadang tertawa saat bersama Savaro.


Pria itu mendengus kesal dan marah dalam waktu bersamaan. Tak mau berlama-lama, Gavin lalu berbalik meninggalkan tempat itu.