
Ketika tahu Yaya di larikan ke rumah sakit, Savaro tak kuasa menahan dirinya. Ia tidak sengaja mendengar dari pembicaraan beberapa suster yang mengurus mamanya.
Pria itu ingin sekali pergi menemui Yaya, tapi tidak bisa sekarang. Mamanya masih ada pemeriksaan sebentar lagi, dan dirinya harus menemani. Savaro mengusap wajahnya kasar.
Yaya please...
Ia terus memanjatkan doa supaya tidak terjadi apa-apa pada gadis itu. Dadanya terasa berat sekali.
"Sava."
suara pelan mamanya membuatnya bergeming. Ia menatap wanita tua itu seperti orang linglung. Pikirannya mengambang.
"Kamu ada masalah?"
tanya mamanya. Tubuhnya masih lemah tapi kesehatannya mulai membaik.
Wanita tua itu sadar ada yang berbeda dengan anaknya. Tubuhnya memang bersamanya tapi jiwanya seolah berada di tempat lain. Pria itu pikir dia akan tahan, ternyata dirinya tidak tahan lagi. Ia tidak tahan untuk pergi melihat Yaya.
"Aku harus ke sana."
gumam Savaro tanpa memandang mamanya. Pikirannya terus melayang-layang sejak tadi. Savaro yang biasanya kelihatan begitu kuat, kali ini tampak begitu lemah. Sang mama menatapnya bingung.
"Kemana?"
"Aku harus melihat Yaya." katanya lagi. Bahkan tanpa penjelasan sedikitpun ke sang mama, pria itu sudah menghilang dari ruangan itu.
***
Savaro merasa seluruh tenaganya seakan terserap habis. Semuanya terasa seperti mimpi. Baru saja ia mengetahui penyakit Yaya dan hari itu juga gadis itu di larikan ke rumah sakit.
Ketika ia masuk ke kamar Yaya, hatinya begitu kacau melihat gadis itu berbaring dengan mata terpejam, terlihat tidak berdaya. Ada
Gavin di sana, di sisi tempat tidur Yaya.
Penampakan pria itu jauh lebih kacau darinya. Savaro tersenyum lemah. Sepertinya cinta Yaya tidak bertepuk sebelah tangan. Ia memandang ke pria lain yang duduk di sisi yang berlawanan dengan Gavin yang juga tampak kacau. Dia ingat cerita Yaya beberapa waktu lalu dan menyimpulkan bahwa pria itu adalah kakak kandung Yaya.
Savaro berdiri disamping Gavin. Pria itu menatapnya dengan ekspresi datar. Savaro tersenyum tipis dan kembali fokus ke Yaya. Ia menjulurkan tangannya dan menyentuh tangan gadis itu.
"Hei, kamu kenapa? Bukankah kamu bilang pengen hidup bahagia dengan laki-laki yang kamu cintai."
Nafas Gavin tercekat mendengar ucapan pria itu.
Tama mendesah berat. Ia tidak kenal pria itu, tapi ia bisa tahu dari perkataan dan ekspresinya pria itu dekat dengan Yaya.
Savaro terus menggenggam tangan Yaya lembut.
"Kamu harus bangun Yaya." ucapnya lirih. Ia berusaha menahan diri agar air matanya tidak terjatuh, tapi tetap saja tanpa sadar butiran air itu jatuh membasahi pipinya. Savaro paling tidak suka menangis, karena menangis hanya membuatnya tampak lemah. Namun melihat ketidakberdayaaan Yaya, ia sama sekali tidak bisa lagi menahan diri. Hatinya seakan hancur melihat gadis yang ia cintai sakit parah.
"Semua orang nungguin kamu." Tambahnya ketika sudah bisa menenangkan diri. Pandangannya berpindah menatap Gavin dan Tama sebentar, kemudian menatap Yaya lagi.
"Mereka peduli dan sayang sama kamu. Aku juga pengen dengar cerita kamu. Jangan lama-lama tidurnya ya." Savaro terus mengusap-usap kepala Yaya. Gadis pertama yang ingin ia jaga seumur hidupnya. Sayang sekali gadis itu mencintai lelaki lain.
***
Delapan hari Yaya di rawat di rumah sakit namun belum bangun juga. Selama itu pula Gavin dan Tama terus di rumah sakit. Putra sibuk menggantikan pekerjaan Tama sedang Bintang...
Dokter Laska setiap hari memeriksa keadaan gadis itu. Ia heran kenapa Yaya belum bangun-bangun juga padahal dari hasil pemeriksaan kondisi tubuhnya saat ini sudah stabil.
"Bagaimana kondisinya?"
tanya Tama menatap dokter Laska dengan wajah lelahnya. Beberapa hari ini ia merasa tidak bertenaga lagi. Bukan karena capek menunggu adiknya yang tidak bangun-bangun. Perasaan bersalah yang memenuhi pikirannya membuat otaknya penuh. Iya berharap Yaya cepat sadar agar dia bisa menebus semua kesalahannya yang dulu.
Ketika Laska ingin bicara, Gavin melihat ada pergerakan dari tangan gadis yang sedang digenggamnya itu.
"Dokter!" seru pria itu cepat-cepat berdiri dari kursi. Tangannya terus memegangi jemari Yaya.
Gavin menatap dokter Laska dan Tama bergantian kemudian kembali menatap gadis didepannya itu.
Kelopak mata Yaya bergerak perlahan sampai ia bisa membuka matanya.
Gavin mempererat genggamannya karena bahagia.
"Yaya." Gumamnya pelan lalu melepaskan genggamannya, membiarkan dokter Laska memeriksa keadaannya.
"Kau bisa mendengarku?" Tanya Laska sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Yaya.
Gadis itu mengangguk lemah. Ia merasa tidak ada kekuatan. Tapi ia merasa ada yang aneh. Entah itu mimpi atau kenyataan, dirinya melihat kakaknya dan pria yang di sukainya sedang berdiri didepannya. Wajah mereka terlihat kelelahan.
Awalnya gadis itu mengira semua itu hanya mimpi, tapi ketika Gavin mendekat dan menggenggam tangannya lagi, sepertinya hal itu terlalu nyata untuk menjadi mimpi.
Ini pertama kalinya Gavin memperlakukannya begitu lembut.
Ia ingin bicara, tapi...
Suaranya tidak bisa keluar. Yaya menatap dokter Laska seolah meminta jawaban.
"Kenapa? Kamu butuh sesuatu?"
itu suara Tama. Ia menatap Yaya dengan raut wajah khawatir. Untuk sesaat gadis itu bingung. Ada apa dengan semua orang? Kenapa semuanya tiba-tiba menjadi baik? Tapi kenapa dirinya tidak merasa senang dengan sikap baik mereka?
"Yaya, kau bisa bicara?" tanya dokter Laska lagi.
Yaya balik menatapnya.
Ia berusaha buka suara tapi tenggorokannya sakit.
"A..ha...a..." Gadis itu menyerah. Tenggorokannya terlalu sakit. Ia tak mampu.
"Kenapa dengannya dokter?"
Kali ini Gavin yang bertanya dengan nada khawatir.
"Tidak perlu khawatir. Itu hanya efek sesaat karena sudah berhari-hari dia tidak sadarkan diri." katanya menjelaskan. Gavin bernafas lega. Pandangannya kembali fokus pada Yaya yang masih menatap mereka dengan wajah bingung.
"Suster," salah satu suster yang baru datang cepat-cepat berjalan ke dekat sang dokter.
"Sampaikan ke tim operasi satu agar segera menghubungi dokter Mike. Beritahukan padanya besok pagi kita akan melakukan operasi." perintahnya dengan suara tegas. Sang suster mengangguk dan berbalik pergi. Dokter tampan itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sama seperti yang lain, Laska juga ingin Yaya sembuh. Bahkan pulih total dari penyakitnya. Dokter yang akan memimpin operasi tersebut adalah seorang dokter yang sangat berpengalaman dari luar negeri. Laska berhasil membujuknya datang ke Indonesia dengan berbagai cara yang bisa ia lakukan. Laska melakukan itu karena ingin Yaya melanjutkan hidupnya dengan bahagia.