Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 89



Pulang dari bandara, Garrel dan Yaya langsung ke apartemen Yaya. Sudah ada Tama dan Gavin di sana. Mereka sibuk memindahkan barang-barang Yaya. Ya, karena hari ini Yaya akhirnya akan kembali lagi ke rumahnya. Rumah yang penuh dengan banyak sekali kenangan. Yaya  tidak akan pernah lupa kenangan apa saja yang telah ia lewati di sana, yang pasti segala kenangan buruk akan dia buang jauh-jauh.


"Kak Tama udah lama datangnya?" tanya Yaya menghampiri Tama. Pria itu sedang sibuk mengikat beberapa lukisan milik agar bisa diangkat bersamaan.


"Samaan sama Gavin," sahut Tama menunjuk dengan dagu ke Gavin yang tengah berdiri di tengah ruang tamu menatap ke arah mereka.


"Suami kamu ..,"


Tama berhenti sejenak saat sadar ucapannya membuat Gavin memicingkan matanya tajam ke arahnya.


"Maksudku mantan suami kamu dan putranya, mereka sudah berangkat?" ralatnya langsung.


Garrel tertawa. Ekspresi Gavin lucu sekali. Yaya memang telah menjelaskan semuanya pada Tama, makanya pria itu tahu tentang Liam dan Zukka.


"Ya," sahut Yaya lalu ikut membantu sang kakak.


"Bagaimana kalau kita liburan? Untuk merayakan pertemuan kalian dengan Yaya lagi. Dua sampai tiga hari menurutku cukup. Kalian setuju? Tinggalkan pekerjaan kalian beberapa hari saja." Garrel memandangi ketiga orang dewasa dalam ruangan itu berganti-gantian. Yaya memberi respon pria itu dengan decakan kecil sambil menggeleng-geleng malas. Ia tahu jelas karakter sahabatnya yang satu itu. Hobi sekali bermain dan jalan-jalan. Gadis itu sudah hafal sekali.


Namun sepertinya hanya Yaya sendiri yang tidak tertarik dengan ajakan Garrel. Buktinya Gavin dan Tama kelihatan sekali kalau mereka tertarik.


"Mau kemana? Kau ada tempat rekomendasi yang bagus?" tanya Tama. Meski Gavin tidak bersuara apa-apa, sudah jelas dia menunggu jawaban Garrel.


Pria itu yang paling antusias sebenarnya. Lagipula dirinya sudah terlalu lama hidup terpuruk beberapa tahun ini. Orang-orang yang sangat mengenalnya tahu kalau dia hanya menghabiskan kebanyakan waktunya untuk bekerja dan minum-minum. Tapi sekarang berbeda. Gavin sudah menemukan Yaya. Dan agar hubungan keduanya makin dekat, dia perlu melakukan strategi yang baik. Jelas rencana Garrel membuatnya tertarik.


"Masalah tempat, serahkan saja padaku. Kalian mau dalam atau luar negeri?" sahut Garrel lalu balas bertanya.


"Terserah kau saja."


"Berarti kalian sudah setuju?"


"Mm, terserah kau saja. Menurutku  Putra dan Bintang juga harus kita ajak, biar ramai." ujar Tama. Garrel mengangguk.


"Menurutku juga. Ya sudah, aku akan mengatur semuanya kalian tinggal mempersiapkan diri saja." pria itu lalu mengedipkan sebelah matanya ke Yaya yang hanya tertawa geli. Garrel sudah mendapatkan apa yang dia mau, tentu saja pria itu sangat senang.


"Sudah semuanya?" Gavin berhenti melangkah didepan Yaya dan Tama. Melihat pekerjaan mereka. Kakak beradik tersebut mengangguk kompak. Mereka kemudian keluar meninggaljan apartemen yang baru sebulan ditinggali itu.


                                    ***


Kalau dulu cat dinding kamar itu sengaja dia buat berwarna hitam agar terlihat muram, kini warna kamarnya berubah Drastis. Biru langit namun tidak mencolok. Rasanya menyegarkan masuk ke situ. Yaya terharu. Mereka benar-benar berubah seperti orang yang kukenal. Batinnya merasa terharu.


"Bagaimana, kamu suka?" Tama sudah berdiri disebelah Yaya. Gadis itu tersenyum, mengusap matanya yang sembab dan memeluk lengan Tama.


"Terimakasih kakak," gumamnya. Tama ikut tersenyum lembut sambil membelai rambut sang adik.


"Terimakasih juga, karena bersedia pulang," balasnya. "Mau lihat ruang lukis kamu?" pandangan Tama lurus ke sebuah ruangan lain yang ada dalam kamar itu.


Yaya melangkah perlahan ke sana. Penasaran juga dia dengan ruangan melukisnya. Masih sama atau ...


Ya. Masih sama. Tidak, tidak. Lebih rapi. Tapi semua lukisan yang pernah dia buat dulu masih lengkap di sana. Semua rahasianya ada di situ. Namun kebanyakan rahasia yang dia tuangkan adalah tentang Gavin.


"Yaya,"


suara panggilan Gavin refleks membuat Yaya gelagapan dan buru-buru ke pintu untuk menutupnya. Dia malu kalau sampai Gavin mengetahui semua rahasianya. Jangan sampai Gavin tahu, jangan sampai.


"Jangan masuk!" seru Yaya gelagapan. Tangannya menahan gagang pintu. Gavin mengernyit heran begitupun Garrel yang berdiri dibelakang pria itu. Hanya Tama yang tahu apa yang menyebabkan sang adik begitu.


"Kenapa?"


"Ini ruangan rahasia aku sama kak Tama!"


Gavin berpikir sejenak lalu otak cerdasnya langsung mengingat. Ia menatap Yaya lagi.


"Rahasia apa, itu bukan rahasia lagu. Aku sudah pernah lihat semua lukisan kamu di dalam sana.  Kebanyakan ada wajahku kan." gumamnya.


Yaya melotot.


"Kok tahu?"


"Aku bahkan tahu pertemuan pertama kita bukan di sekolah, tapi rumah sakit. Waktu kamu mau terjun dari rooftop." mata Yaya makin melotot sempurna. Astaga! Memalukan, sangat memalukan. Dengan kepala tertunduk dan wajah cemberut akhirnya ia melepaskan tangannya dari gagang pintu hingga Gavin dan Garrel bisa leluasa masuk.


"Kamu malu karena rahasia kamu ketahuan Gavin?" Yaya melemparkan tatapan jengkelnya ke Garrel. Sudah tahu nanya. Nyebelin. Lihat sekarang, mereka semua malah kompak menertawainya. Termasuk sang kakak. Sebal, sebal, sebal!