Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 48



Mendengar nama Yaya keluar dari mulut dokter tersebut, detak jantung Gavin serasa berdetak dua kali lebih cepat. Ia masih bingung dan mencoba mencerna semua perkataan yang baru saja ia dengar tadi. Pria itu berusaha mengatur pikirannya supaya tetap tenang. Ia menatap Tama.


"Yaya adik bang Tama?" tanyanya dengan raut wajah kaget.


"A..adik kandung? Dan a... apa?" kali ini tatapannya beralih ke pria yang ia ketahui sebagai dokter itu.


"Kesehatannya menurun? Apa maksudmu?" demi Tuhan, Gavin tidak mau mendengar sesuatu yang buruk menimpa Yaya.


Laska tidak menjawab. Ia tidak tahu apa hubungan pria itu dengan Yaya dan kondisi Yaya tidak bisa begitu saja diberitahukan pada sembarang orang.


Gavin beralih menatap Putra dengan raut wajah meminta penjelasan. Abangnya menganggukan kepala seolah sudah tahu apa yang ada dalam benak adiknya itu.


Gavin mengepal kedua tangannya kuat-kuat merasa bodoh dan jahat. Sangat jahat. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana ia membentak dan merendahkan Yaya beberapa waktu lalu. Dia benar-benar pecundang yang tidak berguna, selalu berpikiran buruk dan percaya pada apa yang dia lihat tanpa berpikir panjang.


Bintang di sebelahnya hanya menatap bingung. Dialah satu-satunya cowok yang tidak tahu apa-apa di antara mereka semua. Tapi...


Tama dan Yaya bersaudara? Surprise apa lagi ini? Dunia ini sungguh kecil.


Didepan mereka, Tama menatap dokter Laska cukup lama. Ia ingin bertanya apakah Yaya mencoba bunuh diri lagi tapi entah kenapa lidahnya menjadi kelu. Ia teringat sikap Yaya yang berpamitan padanya kemarin. Setelah diingat-ingat, cara bicara gadis itu memang aneh, tidak menuntut seperti biasanya. Mendadak hatinya yang beku perlahan mencair. Entah kenapa firasat buruk datang menghinggapinya.


"Kau tahu dimana biasanya Yaya pergi?"


pertanyaan itu menyadarkan Tama. Ia langsung teringat tempat rahasianya dengan Yaya. Pria itu mengangguk, meski tidak pasti kalau Yaya saat ini ada di tempat itu.


Ke lima pria itu keluar dari apartemen dengan mobil masing-masing. Gavin dan Bintang pakai mobil sendiri begitupun dokter Laska. Putra dan Tama pakai mobil Tama, Putra yang menyetir karena Tama masih terlihat linglung. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu khawatir pada adiknya. Putra   mendes ah pelan. Benarkan, dia benar merasa kalau ada yang aneh dengan Yaya kemarin.


Tiga mobil itu berhenti di sebuah rumah besar milik keluarga Tama.


Tama menatap lurus rumahnya dengan wajah datar. Sudah hampir empat tahun ini ia tidak pernah menginjakan kakinya di rumah ini lagi. Ada perasaan rindu dihatinya tapi cepat-cepat dibuangnya. Semuanya sudah berbeda sekarang. Mamanya sudah tidak ada, papanya menikah lagi, dan adiknya...


Pria itu tidak mau berpikir panjang dan cepat melangkah masuk ke rumah besar itu. Gavin dan yang lain mengekor dari belakang.


Para pelayan yang sibuk bekerja kebingungan karena kedatangan banyak orang yang tidak mereka kenal. Kebanyakan pelayan-pelayan itu masih baru jadi tidak mungkin mengenal Tama yang merupakan anak dari majikan mereka.


"Yaya, buka pintunya!" serunya dari luar sambil mengetuk-ngetuk kuat pintu kamar adiknya. Iya merasa yakin gadis itu ada di dalam. Mereka berdua punya tempat rahasia yang mereka buat waktu kecil dulu dan tempat itu ada di dalam kamar Yaya. Gadis itu selalu bersembunyi di tempat itu kalau tidak mau ketemu orang lain.


"Yaya!


"Maaf den,"


Lima pria itu sama-sama menoleh ke sumber suara. Didekat situ berdiri seorang pembantu perempuan. Namanya Chika. Umurnya mungkin seperti Tama. Gadis itu menatap mereka malu-malu.


"K... Kalian nyari non Yaya?"


Tama mengangguk.


"Udah lama non Yaya pergi dari rumah dan belum pulang-pulang den."


Alis Tama terangkat. Adiknya pergi dari rumah? Kenapa? Ia teringat saat Yaya datang ke apartemennya dan mati-matian ingin tinggal dengannya. Pria itu menggeram kesal, bagaimana bisa papanya membiarkan gadis yang tidak bisa hidup mandiri itu pergi dari rumah. Sialan. Ia merasa tidak berdaya karena dirinya juga bersalah.  Ia bahkan tidak bertanya apa yang terjadi, hanya mengucapkan kata kasar untuk melampiaskan amarahnya.


Gavin dan Bintang ikut kaget mendengar penjelasan sih pembantu. Dokter Laska kembali merogoh hp dari sakunya dan mencoba menghubungi Yaya lagi tapi masih saja tidak aktif.


"Kalau boleh tahu kalian ini siapanya non Yaya den?"


Pertanyaan tidak penting menurut Tama. Pria itu lebih ingin melihat adiknya sekarang dan memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.


"Dia kakak kandung Yaya." kata Putra menatap pelayan didepannya.


Chika yang kaget langsung tertunduk diam sementara Tama terlihat tidak peduli. Sekarang ini pikirannya benar-benar terfokus pada adiknya. Kemana perginya gadis itu? Ia mengusap wajahnya kasar dan melirik Laska.


"Kau tahu di mana Yaya tinggal selama ini?" tanyanya. Dokter itu balas menatapnya. Ada rasa marah ketika mendengar pertanyaan itu tapi diredamnya, demi Yaya.


"Kalau aku tahu, aku tidak mungkin mencarimu." balasnya. Tama tersenyum bodoh. Benar juga. Pria itu memandang kebelakang, ada kamar lain didepan kamar Yaya. Itu kamarnya dulu. Sudah lama sekali ia tidak menginjakan kaki di rumah itu, pasti kamarnya sudah tidak terurus lagi. Entah bagaimana penampakan kamar itu sekarang. Ia melangkah pelan mendekati kamar itu tapi sebelum sempat membukanya, terdengar bunyi keras dari dalam kamar Yaya.


Mereka semua saling menatap. Kemungkinan besar gadis yang mereka cari ada di dalam. Tama menghembuskan nafas dalam-dalam, mundur beberapa langkah dari depan kamar adiknya, mengambil aba-aba dan mendobrak kamar itu. Dengan sekali sentak kamar itu terbuka.