Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 81



Akhirnya Yaya berhadapan dengan kakaknya.


Tama saat ini duduk di hadapannya setelah drama tangis dan pelukan yang mereka lakukan beberapa waktu yang lalu didepan pintu masuk restoran. Yaya masih sedikit malu mengingat pertemuan keduanya tadi. Berbeda dengan kakaknya yang sepertinya tidak merasakan apapun tentang masalah malu atau tidak. Pria itu terus menatap ke Yaya tanpa mengalihkan pandangannya sedetikpun.


Yaya yakin dengan tatapan sang kakak yang seperti itu, wanita yang duduk di sebelah lelaki itu pasti cemburu berat. Padahal mereka kakak adik kandung. Ini diluar espektasi Yaya. Awalnya dia pikir kak Tama masih membenci bahkan sudah lupa padanya. Kenyataannya tidak seperti yang dia bayangkan. Kak Tama sudah berubah, sebaik dulu. Waktu mereka kecil, sebelum mama mereka meninggal. Dan Yaya tentu saja bahagia mengetahui hal itu.


"Tam, jadi gadis ini ...,"


akhirnya wanita yang menatapnya dengan tatapan tidak suka tadi angkat suara. Mungkin tidak tahan ingin mengetahui siapa dia. Dan apa hubungannya dengan Tama.


"Ini Yaya, adik kandungku." gumam Tama tanpa memandang wanita itu sama sekali. Ia lebih sibuk mengamati sang adik. Perasaan senang bercampur haru dan rasa syukur pada Tuhan bercampur menjadi satu. Tama pikir dia tidak akan pernah melihat adiknya lagi, namun Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bertemu Yaya.


Lindsey sendiri tampak kaget. Jadi perempuan yang menurutnya aneh ini adalah adik kandungnya Tama, lelaki yang diam-diam dia sukai? Ekspresi Lindsey langsung berubah canggung. Astaga, dia sudah salah orang. Dia pikir wanita ini sengaja mau mendekati Tama, ternyata dirinya salah. Ia merutuki sikapnya saat menatap gadis itu penuh permusuhan.


"Lindsey, maafkan aku. Tapi aku harus pergi sekarang. Ada yang ingin kubicarakan berdua dengan adikku," kata Tama lagi kali ini melirik Lindsey sebentar.


"Tidak apa-apa kok," balas Lindsey langsung. Tama lalu berdiri dari kursi dan menarik lembut lengan Yaya keluar dari restoran itu. Meninggalkan Lindsey yang masih menyesali sikap tidak bersahabatnya ke Yaya tadi.


                                  ***


Setelah keluar dari restoran, Tama dan Yaya duduk di bangku tepi danau, tempat itu adalah tempat yang nyaman dan sejuk. Tidak banyak orang yang datang ke situ. Itu sebabnya Tama selalu duduk seorang diri di tempat itu, untuk sekedar melepaskan penat dari pekerjaan dan stres. Dia juga bisa melihat pemandangan danau yang cukup indah dari tempat itu.


"Bagaimana keadaan kamu beberapa tahun ini?" tanya Tama memiringkan kepalanya menatap Yaya. Berharap gadis itu menceritakan semua yang dia alami beberapa tahun ini.


"Aku sangat baik, dokter Laska dan adiknya sangat banyak membantuku. Mereka juga menyekolahkan ku di sekolah yang baik."


Tama menoleh lagi.


"Dokter Laska?" jangan bilang memang benar dokter itu yang menyembunyikan Yaya. Jadi dugaannya memang benar?


"Mm, aku mohon kak Tama jangan marah sama dokter Laska ya. Waktu itu dia juga terpaksa membantuku karena aku yang terus memaksanya," Yaya rasa dia memang harus memberitahu kakaknya tentang dokter Laska. Biar tidak terjadi seperti kasus seperti Gavin yang membuat Garrel babak belur.


Tama tersenyum tipis.


"Sepertinya hubungan kalian sangat dekat sekarang," ia sedikit iri pada Laska, karena pria itu seperti menggantikan posisinya di hati sang adik.


"Mm?"


"Kakak masih membenciku?" Yaya menggigit bibirnya lirih. Sesaat kemudian ia merasakan tangan kekar kakaknya menyentuh pipinya. Pria itu menggeleng.


"Maafin kakak karena terlalu banyak membuat kamu kecewa. Kakak salah. Dulu kakak sangat egois. Setelah kamu pergi, kakak baru sadar betapa pentingnya kehadiran kamu dalam hidup kakak dan papa," Tama lalu memeluk gadis itu lagi.


"Kakak sudah terlalu banyak bikin kamu menderita, kamu mau maafin kakak kan?" Tama memeluk sang adik erat-erat. Dan Yaya merasa matanya kembali panas. Ia menangis. Menangis dipelukan kakaknya. Bukan karena sedih, itu adalah tangis kebahagiaan. Kakaknya tidak membencinya lagi. Tahu-tahu begini sudah dari dulu dia memberanikan diri menemui kakaknya.


"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Tama setelah pelukan mereka terlepas. Sebelah tangannya terangkat menghapus sisa-sisa airmata sang adik.


"Aku sewa apartemen di pinggiran kota," jawabnya.


"Mau balik ke rumah nggak?" tawar Tama sambil mengelus-elus punggung tangan Yaya.


"Maksud kakak rumahnya kak Tama?" Tama menggeleng.


"Rumah orangtua kita,"


mendengar itu Yaya langsung menundukkan kepala.


"Kenapa?" Tama menatapnya bingung.


"Tapi di sana ada papa sama keluarganya, bagaimana kalau papa nggak mau liat muka aku lagi?"


mendengar Yaya menyebut papa mereka, Tama jadi teringat ia belum cerita tentang keadaan lelaki tua itu. Rasanya berat memberitahukan penyakit papa mereka pada Yaya, tapi adiknya harus tahu.


Tama meraih tangan adiknya lagi dan mengenggamnya kuat sehingga Yaya tertegun.


"Yaya,"


Yaya mendongak menatap kakaknya.


"Ada hal serius yang harus kamu tahu tentang papa,"