
"Aku suruh kamu fotokopi selebaran yang ini. Kenapa malah fotokopi pekerjaannya tim SDM? Memangnya kau tidak punya mata? tidak bisa lihat mana yang selebaran, mana yang data diri? Kamu buta huh? Kerja begitu saja tidak becus! Makanya kalau kerja itu yang benar, jangan sering absen seenaknya. Kamu pikir kantor ini punya kamu begitu, huh?" tukas Shinta kasar.
Wanita itu baru saja diangkat jadi ketua tim satu dibagian pemasaran. Anggotanya Yaya, Mia, satu laki-laki bernama Jeno dan satu lagi anak magang yang masuk kerja bersama Yaya di hari pertama Yaya kerja waktu itu. Seingat Yaya namanya Ina. Semenjak Shinta jadi ketua tim, wanita itu sering sekali menyuruh dan memarahinya. Intinya, Shinta selalu mencari kesalahan Yaya. Entah kenapa perempuan itu membencinya tanpa alasan. Padahal kalau masalah dia sering absen, tidak ada yang terlalu mempermasalahkannya. Toh itu cuma di awal-awal juga. Bos mereka saja sih pemilik kantor tidak pernah ambil pusing.
"Kenapa melihatku begitu, tidak suka di tegur, hah?" sentak Shinta lagi. Habis sudah kesabaran Yaya. Dia tidak boleh diam saja. Shinta memang sengaja cari-cari kesalahannya, dipikir dia tidak tahu apa.
"Apa masalahmu? Seingatku kamu sendiri yang menaruh bahan yang salah di atas mejaku. Aku hanya melakukan apa yang kau suruh. Apa itu salah? Kalau kau bilang aku tidak becus bekerja, kau sendiri bagaimana? Apa menaruh bahan yang salah di mejaku itu salahku? Kau sendiri tidak becus bekerja." balas Yaya tak kalah ketus. Siapa suruh perempuan itu yang mulai. Sudah hampir seminggu ini ia mencoba bertahan dengan sikap semena-mena Shinta padanya. Tapi kali ini ia tidak tahan lagi. Dia bukan gadis lemah yang gampang menahan diri jika merasa diperlakukan tidak adil begini.
"Kau berani melawanku? Kamu tidak sadar aku sekarang adalah atasanmu? Aku bisa melaporkan kinerja burukmu pada pak Raxel."
Yaya mendengus keras. Membalas tatapan tajam Shinta. Dia tidak takut, selama dia merasa tidak salah.
"Yaya, sudahlah. Dia atasan kita sekarang. Lakukan saja seperti yang dia bilang. Bagaimana kalau dia benar-benar lapor ke pak Raxel?" gumam Mia pekan ditelinga Yaya.
"Aku menghargai atasan yang memperlakukan bawahannya dengan baik, mengajari bawahannya dengan sikap seorang pemimpin, bukan seperti preman yang semena-mena, menganggap kita semua seperti barang. Dia ini baru saja diangkat jadi atasan tapi kinerjanya buruk. Memangnya kalian tidak merasa dia selalu menganggap pekerjaan yang kita lakukan salah, padahal arahannya sendiri yang tidak benar," Jeno dan Mia yang ada di situ terdiam. Kalau dipikir-pikir perkataan Yaya memang benar. Tapi Jeno dan Mia tidak seberani gadis itu.
Yaya memang tidak ada takut-takutnya. Apa jangan-jangan dia memang punya hubungan spesial dengan pak Raxel, itu sebabnya dia tidak takut sama sekali melawan Shinta?
Lalu terdengar bunyi gebrakan meja yang digebrak kuat oleh Shinta. Perempuan itu menatap Yaya dengan amarah yang membuncah. Beraninya gadis itu melawannya. Dia bukan Shinta yang beberapa minggu lalu tidak punya kekuatan sama sekali. Sekarang dia punya otoritas penuh sebagai atasan langsung gadis itu. Dan dia punya seseorang yang berkuasa selain Raxel, yang bisa membantunya menyingkirkan lalat kecil seperti Yaya ini. Baru dua bulan kerja saja sudah belagu.
"Minta maaf padaku sekarang, sebelum aku melaporkan tindakan burukmu itu pada atasan," kata Shinta sinis. Yaya tergelak
"Kau!" lalu sebuah file melayang di kepala Yaya. Membuat keningnya tergores ujung file. Yaya meringis pelan. Ia mencoba menahan diri untuk tidak menyerang Shinta.
"Apa-apaan ini?!"
bersamaan dengan itu, suara berat Raxel yang datang bersama Ria sang sekretaris membuat suasana ruangan tersebut makin tegang. Shinta terdiam. Sial. Kenapa bisa kebetulan sekali sih. Bisa jadi dia yang terlihat jahat di mata pria itu.
Raxel menatap Yaya dan Shinta bergantian.
"Kalian berdua ke ruanganku sekarang juga!" katanya dengan suara tegas. Lalu pandangan pria itu beralih ke Ria.
"Batalkan meeting siang ini." perintahnya sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Yaya dan Shinta mengekori sih bos dari belakang. Tatapan Shinta penuh kebencian pada Yaya. Yaya sendiri tidak peduli. Dia mengutuk Shinta dalam hati. Bisa-bisanya wanita itu membuat keningnya lecet begini. Untung dia bukan tipe perempuan yang suka membalas kejahatan dengan kejahatan. Kalau tidak ia sudah menyusun rencana jahat untuk membalas perbuatan wanita itu padanya.
"Apa-apaan tadi? Kenapa Shinta dan Yaya bertengkar seperti tadi?" tanya Ria pada Mia dan Jeno yang tersisa dalam ruangan itu.
"Yaya salah fotocopy selebaran kak, Shinta marah besar dan mengatai pekerjaan Yaya tidak betul. Yaya yang tidak terima karena merasa tidak adil, membalas perkataan Shinta dan akhirnya terjadi seperti yang kalian lihat tadi." jelas Jeno panjang lebar. Ria mengangguk mengerti. Astaga, benar-benar bikin malu.