Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 86



Tidak terlalu lama kemudian, Yaya sudah berdiri di depan pintu apartemen Gavin. Ia mendapatkan alamat pria itu dari Bintang. Sebenarnya bisa saja dia bertanya pada Gavin langsung, namun ia tidak mau pria itu terganggu. Ia ingin Gavin beristirahat sampai dia datang.


Yaya membunyikan bel dan menunggu dengan tidak sabar. Tetapi matanya melebar kaget ketika pintu terbuka dan ia melihat siapa yang berdiri di sana. Seorang wanita lain yang tidak dia kenal. Siapa wanita ini? Kenapa ada di apartemen Gavin?


Wanita yang membuka pintu dari dalam juga tampak terkejut melihatnya.


"Oh, Yaya?" katanya dengan raut wajah sedikit ragu-ragu.


sesaat Yaya tidak bisa berkata-kata. Kepanikan dan kecemasannya selama perjalanan ke sini memudar sedikit dan digantikan sesuatu yang tidak bisa diartikan. Ia merasa cemburu namun heran juga bagaimana wanita itu tahu namanya. Kenapa wanita ini ada di dalam apartemen Gavin? Sedang apa dia di sana? Ada apa ini? Semua pertanyaan itu simpang siur dalam benak Yaya.


Namun satu hal yang disadarinya. Ia tidak suka melihat wanita itu di sana, di apartemen Gavin. Lalu mata Yaya beralih ke arah sosok Gavin muncul di belakang wanita itu.


"Kau sudah datang," kata Gavin. Suaranya terdengar lega. Penampilan Gavin benar-benar kacau. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, rambutnya acak-acakan. Kaus hitam lengan panjang dan celana panjang putihnya terlihat kusut. Ia terlihat lemah dan sakit.


Banyak hal yang berkelebat dalam benak Yaya, namun begitu melihat Gavin, hanya satu hal yang terpikirkan olehnya.


"Kenapa kamu nggak berbaring dan


beristirahat?" tanyanya dengan alis berkerut. Gavin mengayunkan tangan dengan lemah.


"Masuklah dulu dan setelah itu kamu boleh mengomeliku." Yaya melangkah masuk dan menoleh ke arah wanita tadi.


"Maaf, kau siapa? Kenapa ada di sini?" tanyanya sambil berusaha menjaga suaranya terdengar ringan.


Wanita itu tersenyum. "Tadi aku menelepon Gavin untuk mengajaknya ke lokasi baru proyek perusahaan kami, dan dia bilang dia sedang sakit. Jadi aku langsung datang untuk


menawarkan bantuan. Namaku Lini, pacar Putra. Aku banyak mendengarmu dari Putra dan Tama, kami kuliah di kampus yang sama dulu." jelas wanita yang memperkenalkan dirinya tersebut dengan senyuman ramah.


"Oh, begitu," gumam Yaya, sedikit merasa lega ketika tahu siapa wanita itu. Namun hatinya merasa wanita bernama Lini ini terlalu perhatian pada adik kekasihnya. Entahlah, mungkin hanya perasaannya saja.


Yaya menoleh ke arah Gavin dan bergumam, "Maafkan aku karena baru datang." ucapnya. Ia harus ke pengadilan dulu tadi menyelesaikan urusannya bersama Liam. Tapi ia tidak mau cerita ke Gavin, takut pria itu ngambek karena tidak didahulukan.


"Sebaiknya kamu duduk, Gavin." kata Yaya kepada Gavin.


Gavin menurut tanpa membantah. Ia berjalan masuk ke ruang duduk, diikuti Yaya dan Lini, lalu mengempaskan diri ke salah satu sofa. Jelas sekali ia lega karena tidak perlu berdiri lebih lama lagi.


"Lini," gumamnya sambil menatap ke arah Lini,


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku."


Yaya ikut menoleh ke arah Lini dan wanita itu tersenyum lebar.


"Aku tidak keberatan membantu. Dan kalau aku tidak masuk kantor sehari, tidak akan terjadi bencana, kakakmu bisa mengurus semuanya." sahut Lini lalu menatap Gavin.


"Lagi pula, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini. Bagaimana kalau kau membutuhkan sesuatu?"


Mendengar ucapan Lini, Gavin tampak tidak enak pada Yaya. Ia tidak pernah membawa perempuan mana pun masuk ke apartemennya. Namun Lini datang secara tiba-tiba tadi dan dia terlanjur membuka pintu. Apalagi perempuan itu adalah pacar kakaknya. Tidak mungkin dia bersikap kasar pada wanita itu. Pria itu masih menghormati Putra sebagai kakaknya. Gavin sudah bersiap mau menelpon Yaya agar cepat datang tadi, namun ketika dia mau menelpon Yaya sudah datang, membuatnya bernapas lega. Yah, Gavin tidak bodoh. Ia bisa merasakan kalau kekasih Putra ini memiliki perasaan khusus padanya. Sejak beberapa bulan yang lalu.


"Sekali lagi terimakasih. Karena sekarang kekasihku sudah ada di sini, aku yakin dia bisa menemaniku dan memastikan aku tidak jatuh pingsan atau semacamnya. Lagi pula hari ini dia tidak punya jadwal kerja, jadi dia pasti tidak keberatan." Gavin mendongak menatap Yaya yang berdiri di sampingnya.


"Kau tidak keberatan kan, sayang?"


Yaya mengalihkan tatapannya dari Lini dan menunduk menatap Gavin.


"Tentu saja tidak." Lini menatap mereka berdua bergantian, lalu mengangkat bahu.


"Baiklah kalau begitu," katanya ringan. Lalu ia menoleh ke arah Yaya dan menambahkan,


"Aku senang kau bisa datang dan menjaga Gavin. Terima kasih.” Yaya mengerjap. Apakah hanya perasaannya saja atau sih Lini ini benar-benar berbicara dengan nada seolah-olah Gavin adalah tanggung jawabnya dan Yaya tidak suka. Ia harus memperingatkan Gavin nanti agar menjaga jarak dari wanita itu. Jelas sekali ia memiliki niat lain.