
"Mommy Zuka kangen," ujar sih bocah itu ternyata bernama Zuka. Anak itu berbicara menggunakan bahasa Inggris. Tampaknya hanya Zuka yang tidak tahu kalau ada ketegangan yang amat sangat di antara ketiga orang dewasa tersebut. Pandangan bocah laki-laki itu beralih ke Gavin, lalu menatap Yaya lagi.
"Om ini siapa mommy?" tanyanya polos. Tidak tahu saja Gavin sudah mengepal kedua tangannya kuat-kuat menahan emosi yang bisa saja meledak saat itu juga. Ia menatap Yaya tajam. Ia butuh penjelasan. Siapa sebenarnya anak itu dan laki-laki yang masih berdiri dibelakang Yaya. Kenapa anak itu memanggil kekasihnya dengan sebutan mommy? Apa jangan-jangan anak ini benar-benar anak Yaya dan lelaki dibelakang mereka ini suaminya?
Tapi kenapa Yaya tidak cerita apa-apa bahkan menerimanya sebagai pacarnya? Ya Tuhan, Gavin merasa ingin memukul apa saja untuk melampiaskan seluruh emosinya. Kalau memang benar seperti dugaannya, ini benar-benar tidak lucu. Dia sudah menunggu Yaya selama sembilan tahun, tapi apa sekarang? Hidupnya tiba-tiba menjadi sebuah lelucon?
"Gav ... Aku bisa jelasin," gumam Yaya lirih. Dengan tatapan Gavin ia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu sekarang. Laki-laki itu menuntut jawaban, dan ..., Marah besar?
"Siapa pria ini, suamimu?" suara itu amat rendah, amat dingin dan amat menakutkan. Gavin dalam mode yang seperti ini sungguh membuatnya merasa ngeri. Yaya terdiam sebentar, setelah berhasil mengumpulkan seluruh kekuatannya ia baru bicara.
"Iya, tapi bukan seperti yang kau pikirkan. Aku akan menjelaskan se ..." Gavin tak tahan lagi, pria itu langsung berdiri dan kursi dan meninggalkan tempat itu.
Yaya membohonginya. Gadis itu tega sekali. Pria itu butuh waktu sekarang. Untuk mengontrol emosinya. Untuk menenangkan diri dari semuanya. Kalau tidak, ia yakin dirinya sudah menghabisi laki-laki yang datang menemui Yaya bersama putranya itu. Emosinya sangat tinggi, pria itu belum bisa mendengar penjelasan Yaya sekarang.
Demi Tuhan, Gavin mengerang frustasi. Ia menendang mobilnya berkali-kali sampai merasa lelah sendiri. Orang-orang di parkiran menatap heran ke arahnya tapi dia tidak peduli. Biar saja mereka memandang dia seperti orang aneh. Toh sekarang dirinya hampir dibuat gila oleh Yaya.
Di dalam restoran, Yaya berusaha menahan rasa sedihnya. Apa Gavin tidak akan memaafkannya lagi? Apakah mereka akan putus?
"Yaya, apa kedatanganku dan Zuka mengganggu hubunganmu dan laki-laki tadi?" pria tinggi itu kini duduk dihadapan Yaya. Di tempat Gavin tadi. Ia menunjukan ekspresi bersalahnya pada gadis didepannya.
Nama laki-laki itu Liam Adhitama. Mamanya orang China dan papanya asli Indonesia. Tapi mereka sudah lama pindah ke luar negeri. Liam hanya datang ke Indonesia sesekali saja, kalau ada keperluan. Keduanya bertemu ketika Yaya kuliah di Perancis. Dan ada alasannya kenapa dulu mereka sampai menikah.
Bukan karena pria itu tidak sengaja berhubungan dengan Yaya sehingga gadis itu melahirkan anaknya diluar nikah dan pria itu dengan terpaksa menikahinya, bukan. Tapi waktu itu ada kejadian di mana Liam butuh sekali menikahi Yaya demi mendapatkan hak asuh atas putranya.
Waktu itu Yaya sendiri terpaksa setuju karena laki-laki itu bermohon padanya. Akhirnya gadis itu setuju menikah dengan catatan, setelah setahun mereka harus bercerai.
Status Yaya dan Liam sekarang memang sudah bercerai. Alasan Liam datang ke kota ini karena ada beberapa berkas yang harus di urus, masalah kewarganegaraan putranya. Tentu saja itu juga membutuhkan kehadiran Yaya. Itu sebabnya pria tersebut menghubungi Yaya.
Liam memang tidak sengaja masuk ke restoran yang sama dengan Yaya dan laki-laki yang kemungkinan besar pacarnya itu. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi.
"Tinggal tanda tanganmu. Kau ada waktu ikut ke pengadilan besok?" tanya Liam.
"Mm, katakan saja pertemuannya jam berapa."
"Mommy, Zuka mau makan itu," tunjuk bocah enam tahun itu ke kentang goreng yang ada di piring Yaya. Pandangan Yaya beralih ke bocah itu dan tersenyum sambil mencubit gemas bocah itu.
"Baik sayang, anak mommy kok lucu banget sih ..." lalu Yaya menyuapi Zuka dengan sepotong kentang goreng. Liam ikut tersenyum melihat anaknya yang begitu menikmati suapan dari mantan istrinya. Pria itu merasa bersyukur. Untung dulu Yaya mau membantunya, kalau tidak mungkin putranya sudah terpisah dengannya dan dirawat oleh ibu kandung yang tidak bertanggung jawab itu.
"Kau tidak memesan makanan?" tanya Yaya menatap Liam. Pria itu menggeleng.
"Aku sudah kenyang melihat putraku menikmati makanannya." gumamnya.
"Oh ya, Garrel bagaimana? Kalian pasti sering bertemu kan?"
Ah ya benar! Sebuah ide langsung terpikir di benak Yaya ketika Liam menyebut nama itu. Lalu di ambilnya hp dari dalam tas tangannya dan menghubungi Garrel.
"Yo, aku pikir kau sudah lupa pada sahabat tampanmu ini!" Seru Garrel dari seberang.
"Ada masalah, Gavin tahu aku sudah menikah. Bisakah kau membantuku menjelaskan?" hening sejenak.
"Hanya menikah di atas kertas, apa yang perlu dipermasalahkan?"
"Tapi dia belum tahu tentang masalah itu. Gavin tampak marah besar dan pergi begitu saja tadi. Sekarang ini aku sedang bersama Liam dan Zuka. Bisakah kau membantuku menemui Gavin dulu? Pulang kerja aku akan langsung menemuinya dan menjelaskan semuanya." sehabis mengatakan kalimat panjang tersebut, Yaya mendengar Garrel menarik napas di seberang sana.
"Baiklah sahabatku," sahut pria itu kemudian. Yaya akhirnya bernapas lega. Bukan karena masalahnya dan Gavin sudah selesai, tapi karena Garrel selalu siap sedia membantunya ketika dirinya terlibat masalah. Mudah-mudahan Gavin bisa menerima penjelasannya nanti dan memaafkan segala kebohongannya.