
Beberapa saat kemudian Yaya kembali ke ruang duduk dengan membawa teh panas untuk tiga pria di sana. Matanya menangkap ada yang berbeda dengan ketiga mantan teman sekelasnya itu. Pandangan Yaya berpindah-pindah ke mereka. Ia melihat Gavin yang terus menatap Garrel dengan tatapan tajam nan menusuk. Sedang Bintang tampak tercengang seolah-olah baru mendapatkan sebuah berita yang membuatnya betul-betul tak bisa berkata-kata.
Yaya menghela nafas lelah, kemudian meletakkan teh panas itu di atas meja.
"Ada apa?" gadis itu kembali duduk di samping Gavin dan bertanya. Karena dapur letaknya cukup jauh dari ruang duduk, akibatnya dia tidak bisa mendengar pembicaraan mereka tadi. Pandangannya berhenti ke Garrel.
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada mereka. Tentang bang Laska yang membantumu kabur dari rumah sakit sembilan tahun lalu. Yang secara kebetulan mempertemukan kita berdua." kata Garrel menjelaskan.
Ohh, Yaya mengangguk-angguk mengerti. Pantas saja tatapan Gavin dan Bintang begitu. Ia tidak keberatan Garrel cerita tentang hal itu. Apalagi mereka semua sudah ketemu lagi. Ia juga sudah bertemu dengan Savaro.
Terkecuali keluarganya. Sejak pindah ke kota lagi, Yaya belum mendengar sama sekali tentang keluarganya. Kira-kira bagaimana keadaan mereka sekarang? Khususnya papa dan kak Tama. Ia tidak peduli pada mama dan saudari tirinya, tapi ia tidak memungkiri kalau dirinya penasaran pada kedua orang yang berbagi darah yang sama dengannya. Apa mereka masih membencinya seperti dulu? Gavin juga belum menanyakan apa dirinya merindukan keluarganya atau tidak.
"Dokter sialan! Jangan sampai dia bertemu denganku." umpat Gavin marah, membuat Yaya tersadar dari lamunannya.
Gavin ingin memaki sepuasnya saking merasa dibodohi oleh kakak beradik tersebut, namun ketika matanya bertemu dengan tatapan Yaya yang sarat akan ancaman, tatapan penuh amarah pria itu langsung berubah seketika. Ia tak berkutik.
Gavin tersenyum lebar ke Dambi, sampai-sampai Bintang dan Garrel saling berpandangan heran. Sepertinya Gavin memang hanya bisa ditenangkan oleh Yaya.
"Apa katamu? Kau akan berbuat apa kalau bertemu dokter Laska hah? Bilang sekali." cetus Yaya. Suaranya terdengar galak.
Gavin membalas secepat mungkin dengan gelengan kuat. Gayanya seperti anak kecil yang baru saja kedapatan berbuat nakal. Benar-benar tidak berkutik didepan Yaya.
Bintang ingin tertawa tapi ditahannya mati-matian. Yaya yang berubah galak, dan Gavin yang menjadi sangat patuh membuatnya merasa lucu. Garrel sendiri ingin tertawa tapi dia harus menahan diri. Karena bengkak-bengkak dan beberapa luka kecil diwajahnya akan terasa sangat perih kalau dia tertawa.
"Aku janji padamu tidak akan menyentuh dokter itu. Sumpah." ucap Gavin sambil mengangkat dua jari berbentuk huruf V didepan Yaya dengan mata bersinar.
Yaya ikut merasa lucu melihat perubahan pria itu, tapi ia berusaha menahan diri agar tidak tertawa. Ia masih tidak menyangka Gavin akan sepatuh ini padanya sekarang. Yaya akhirnya merasa hatinya sepertinya sudah kembali tergerak pada pria itu. Ia tidak kuat kalau cuek terus pada Gavin yang kini sifatnya berubah drastis terhadapnya.
"Kamu janji nggak akan lukain Garrel lagi kan?" suara Yaya melembut.
"Mm, aku tidak akan ingkar janji." sahut Gavin tanpa pikir panjang.
"Ya sudah, jangan bicarakan itu lagi. Tehnya hampir dingin, cepat di minum." kata Yaya lalu mengambilkan secangkir teh yang ia letakkan di meja tadi dan menyodorkannya ke Gavin. Bintang mengambil sendiri cangkir yang lain berisi teh. Garrel sendiri tidak selera minum teh, apalagi wajahnya masih ada lebam-lebam. Tertawa saja dia susah, apalagi minum teh panas.
Gavin mengambilnya dengan senang hati cangkir teh yang disodorkan Yaya. Perlakuan Yaya padanya mulai berubah. Memang dari cara bicaranya masih sedikit ketus. Tapi Gavin bisa merasakan kalau gadis itu mulai menerima kembali keberadaannya. Tentu saja dia senang.
"Jadi, kau sudah memaafkanku? Tidak akan meninjuku tiba-tiba seperti tadi lagi kan?" pertanyaan Garrel membuat Gavin kembali melemparkan tatapan menusuknya pada pria itu.
"Habisin minumnya." kata Yaya memecah keheningan. Tatapan Gavin berpindah ke gadis itu dan menuruti apa katanya.
Baiklah, tidak rugi juga dia melupakan perbuatan Garrel kalau gantinya adalah hubungannya dengan Yaya jadi lebih dekat. Tidak tegang lagi seperti pertama kali mereka bertemu kembali.
"Yaya," Gavin menatap Yaya lekat. Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam hatinya. Yaya balas menatap pria itu.
"Bagaimana kalau aku melamarmu sekarang? Kita menikah saja."
perkataan tiba-tiba itu sontak membuat Yaya langsung berdiri dari sofa. Matanya melotot lebar. Bintang dan Garrel saja sampai menganga saking tercengangnya mendengar ucapan Gavin.
"Karena kamu." Gavin membalas dengan senyuman lebar. Kalau ada orang yang bilang tidak pernah melihat seorang Gavin tersenyum, mereka salah besar. Bahkan sekarang ini senyum pria itu ke Yaya terlihat persis orang gila.
"Bintang,"
"Iya?"
Bintang ikut berdiri mendengar Yaya menyebut namanya.
"Bawa pria ini pulang sekarang juga. Lama-lama aku bisa ketularan gila karena dia." kata Yaya. Bintang tergelak. Memang Gavin sudah gila. Penyebabnya karena gadis itu sendiri. Dia gila karena di mabuk cinta.
***
Garrel membaringkan tubuhnya yang sakit ke ranjang di kamarnya
dan menyentuh pipi kirinya yang mulai bengkak. Bagaimana mungkin ia bisa masuk kerja besok dengan wajah amburadul seperti ini? Orang-orang pasti akan bertanya. Apa yang harus dikatakannya pada mereka?
Lagi pula Gavin betul-betul sudah dirasuki tadi. Garrel belum pernah melihat Gavin mengamuk seperti itu sebelumnya. Memang hanya Yaya bisa membuat seorang Gavin tidak bisa mengontrol emosi, dan hanya gadis juga yang bisa menghentikannya.
Garrel tertawa mengingat kejadian di apartemen Yaya tadi. Gavin mati-matian tidak mau pulang kalau dirinya belum pulang. Yaya sampai stres sendiri dengan kelakuan Gavin. Tapi bagi Garrel sendiri, lebih baik melihat Garrel yang kekanakan seperti tadi daripada melihat pria itu yang terus mabuk-mabukkan dan jiwanya seperti berada di tempat lain.
Yaya juga kelihatannya sudah menerima laki-laki itu. Meski kelakuan mereka masih seperti kucing dan tikus, tapi terlihat sangat manis.
Garrel baru hendak berbaring, tapi terhenti karena pintu kamarnya berbunyi dan ia mengerang keras.
"Oh, sialan. Apa lagi
sekarang? Tidak tahu apa sekarang dia harus istirahat."
dengan langkah berat ia berjalan ke pintu dan membukanya.
"Bang Laska?" ucapnya menatap Laska yang kini berdiri didepan kamarnya. Pria itu tampak terkejut melihat wajah lebam Garrel.
"Kenapa dengan wajahmu?"
"Panjang ceritanya. Terlalu lama kalau aku menjelaskan. Abang ada perlu?" katanya. Ia sudah tidak tahan mau tidur.
"Besok kami ada kegiatan amal untuk orang-orang yang membutuhkan. Kau dan Yaya bisa membantu membagikan beberapa sembako pada masyarakat desa?" Garrel langsung mengerti maksud Laska di desa mana.
"Besok weekend bukan? Harusnya bisa. Tapi aku akan tetap bertanya padanya." sahut Garrel.
"Baiklah. Kalau begitu kau istirahatlah. Aku pergi dulu. Jangan lupa kabari aku kepastiannya."
Garrel mengangguk sebelum menutup pintu. Ia sudah sangat mengantuk.