Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 63



Setelah berulang kali menimbang-nimbang, akhirnya Yaya memutuskan memasukan lamaran kerjanya pada perusahaan yang di tawari oleh Garrel. Ia memang harus mulai melangkah, mencoba bersosialisasi dengan keadaan luar. Hubungannya dengan Savaro pun makin dekat. Pria itu selalu menemuinya di waktu kosong, saat dirinya tidak bekerja. Bohong kalau Yaya tidak tahu kenapa pria seperti Savaro bersikap sangat baik, lembut dan begitu perhatian padanya. Bagi Yaya Savaro memang sosok lelaki yang baik, hanya saja dirinya menganggap pria itu hanya sebatas teman dan kakak, tidak lebih.


Lupakan soal Savaro, Yaya sangat beruntung karena dirinya langsung diterima di perusahaan yang dia sukai. Tidak sia-sia Garrel menawari pekerjaan itu padanya.


"Jadi, kapan kau akan pindah dari sini?" Garrel terus menatapi Yaya yang sibuk merapikan barang-barangnya di atas meja. Sekarang ini mereka berada di kamar Yaya, dan Garrel asyik tidur-tiduran di atas kasur wanita itu.


Yaya menatapnya sekilas, lalu merapikan barang-barangnya lagi.


"Sepertinya minggu depan. Aku perlu mencari tempat tinggal." sahutnya di sela-sela kesibukannya. Mendengar itu, Garrel lalu merubah posisi menjadi duduk.


"Tempat tinggal? Kenapa tidak tinggal di rumahku saja?" tanyanya merasa keberatan. Lagian rumahnya sudah kosong. Laska sudah menikah dan tinggal di rumah baru bersama istrinya, sedang orangtua mereka tinggal di kota lain. Disamping itu, kalau tinggal di rumahnya Yaya tidak perlu membayar biaya sewa.


"Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu dan dokter Laska. Sekarang aku ingin mencoba hidup mandiri tanpa bantuan kalian." balas Yaya. Ia memang terlalu banyak merepotkan kedua kakak beradik tersebut.


Kali ini Garrel berdiri, lelaki itu berjalan mendekati Yaya.


"Kami tidak merasa merepotkan Yaya. Aku yakin bang Laska akan khawatir kalau tahu kau tinggal sendiri. Aku juga." katanya. Yaya memiringkan kepala menatap pria itu sekilas lalu tersenyum.


"Aku tahu Rel, tapi aku benar-benar ingin mencoba tinggal sendiri. Kau bisa mengerti kan? Lagipula aku membuat keputusan ini bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi. Kau bisa datang kapan saja menemuiku, begitupun sebaliknya."


Mendengar kalimat panjang Yaya membuat Garrel mendes ah berat. Dengan terpaksa dia mengangguk setuju.


"Tapi ijinkan aku yang mencarikanmu tempat tinggal. Aku tidak mau kamu tinggal di tempat yang tidak layak." mau tak mau Yaya setuju. Daripada dia tidak diijinkan tinggal sendiri oleh kakak beradik tersebut.


"Baiklah aku janji."


                                    ***


Hari pertama masuk kerja, Yaya diperhadapkan dengan seorang laki-laki jangkung berwajah datar dengan sorot mata tajam. Pria itu tampan, hingga beberapa wanita lain yang masuk bersamanya saling bertatapan senang. Yaya sendiri merasakan bahwa pria itu memang tampan. Bahkan ketampanan dan tatapan tajamnya yang mengintimidasi mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang pernah dia sukai dulu, dan yang tidak bisa dia lupakan.


"Pak Raxel, ini adalah karyawan  baru yang direkrut oleh departemen SDM." kata sekretaris pria yang tengah duduk di kursi kerjanya tersebut. Nama pria itu Raxel Wiguna. Pendiri perusahaan Rax yang sedang terkenal saat ini.


Raxel menaikkan wajahnya dan menatap tiga wanita yang sedang berdiri bersebelah-sebelahan didepannya. Wajahnya tetap datar, terkesan dingin. Lalu pandangannya berhenti ke Yaya. Wanita itu seperti tidak asing di matanya. Di mana dia pernah melihatnya?


Raxel sungguh merasa pernah melihat Yaya, tapi dia tidak ingat di mana.


"Kau sudah menempatkan di mana pekerjaan mereka?" kali ini pandangan Raxel berpindah ke sang sekretaris. Wanita yang memiliki posisi sebagai sekretaris Raxel tersebut mengangguk.


"Iya pak." jawabnya. Raxel memandangi ketiga wanita didepannya lagi.


"Mulai hari ini kalian adalah karyawan di perusahaanku. Perlu kuingatkan, aku tidak akan segan-segan memecat kalian ketika mengetahui kalian tidak becus bekerja. Mengerti?"


"Ria,"


"Iya pak?"


"Kau bisa membawa mereka pergi sekarang."


"Baik." lalu sekretaris Raxel yang bernama Ria itu memberi kode ke Yaya dan yang lain untuk segera keluar dari situ.


Yaya pikir perkenalan pertama saat masuk kerja akan sangat panjang. Ia pikir Raxel adalah sosok yang banyak bicara, ternyata dia salah. Pria itu sama dengan para pria berkarakter dingin lainnya yang minim ngomong dan tidak suka basa-basi.


Yaya sedikit merasa aneh pada dua wanita yang dipekerjakan bersamanya. Pasalnya sejak keluar dari ruangan sang bos, mereka terus-terusan bergosip dengan antusiasnya tentang ketampanan pria di dalam tadi. Yaya heran, sebenarnya mereka mau kerja atau bergosip sih? Apalagi ini baru hari pertama kerja.


"Yaya," Yaya menoleh ke suara itu. Ternyata sekretaris yang bernama Ria.


"Kau dipanggil ke ruangan pak Raxel."  Ria berbisik. Mungkin takut mau ada yang mendengar. Yaya mengernyit, kalau ingin bicara dengannya, kenapa tidak sejak tadi saja? Waktu dirinya masih ada dalam ruangannya. Aneh sekali. Meski merasa bosnya sedikit aneh, Yaya mau tidak mau harus menemuinya. Dia hanya karyawan yang baru di terima kerja. Kalau saja perusahaan ini bukan termasuk salah satu perusahaan yang diincarnya sejak awal, jangan harap dia akan mau.


"Sekarang?" Yaya balas bertanya. Sang sekretaris mengangguk. Lalu Yaya pergi bersamanya. Dua wanita yang datang bersamanya tadi saling berpandangan bingung sebentar kemudian bergosip lagi.


                                   ***


Yaya kembali berhadapan dengan pria itu. Laki-laki yang akan menjadi bosnya entah dalam kurun waktu yang berapa lama. Ria, sang sekretaris sudah keluar setelah mengantarnya.


Yaya bergerak gelisah. Dia tidak tahu berapa lama dirinya sudah berdiri didepan laki-laki itu. Sejak tadi dirinya menunggu laki-laki itu bicara, namun pandangannya terus fokus ke map ditangannya. Ya ampun, buang-buang waktu sekali. Yaya tidak tahan untuk bicara, mulutnya sangat gatal namun dia tahan. Sekarang adalah hari pertamanya bekerja, dan pria didepannya itu adalah sosok yang ingin dia ajak kerjasama nanti. Dia tidak boleh bertindak gegabah.


"Yaya,"


"Hm?" sahut Yaya langsung. Pria itu akhirnya buka suara, membuatnya bernafas lega.


"Kau lulusan Jewl University?" tanya pria itu. Jewl University adalah salah satu kampus ternama yang berada di Perancis. Raxel baru saja membaca data diri wanita itu. Ternyata wanita itu pernah kuliah di negara yang sama dengannya. Meski berbeda kampus. Tapi hal utama yang ingin dia tanyakan bukan itu. Sesuatu yang menurutnya lebih penting.


"Iya, benar." jawab Yaya singkat. Ia melihat Raxel mengetuk-ngetuk telunjuk di meja, seperti menimbang-nimbang. Lalu pria itu menatap Yaya lagi dan mengamati gadis itu lama.


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu yang lebih pribadi?" Yaya mengerutkan kening. Pria aneh. Kenapa tiba-tiba ingin menanyakan hal pribadi padanya? Mereka bahkan tidak saling kenal.


"Apa kau mengenal seseorang yang bernama..."


sebelum Raxel meneruskan perkataannya, ruangannya tiba-tiba terbuka. Menampilkan sosok laki-laki tinggi yang berekspresi tak kalah datar darinya.


Yaya dan Raxel sama-sama menoleh ke arah pintu. Ketika pandangan Yaya bertemu dengan sosok didepan sana, gadis itu terpaku sesaat...