
"Aku pikir kau akan mengajak kita semua keluar negeri," sindir Yaya pada Garrel. Pria itu terkekeh.
"Salahkan kakak dan kekasihmu yang terlalu sibuk hingga mereka hanya punya waktu dua hari satu malam. Waktu segitu mana cukup liburan ke luar negeri." balasnya.
Alhasil, disinilah mereka sekarang. Di vila pribadi milik dokter Laska yang ada di Kalimantan. Letaknya berada di sebuah hutan namun tempat itu sangat besar dan sudah dibuat dengan sangat indah, enak dipandang bahkan ada beberapa jenis wacana bagi siapa saja yang mau bermain.
Di halaman belakang terdapat pohon jeruk yang tertata rapi, ada juga halaman lain yang khusus dibuat menjadi kolam renang besar dan kalau keluar dari pintu samping kiri kolam renang langsung bisa lihat danau yang sangat bersih dan enak dipandang.
Villa ini sangat bagus. Tapi karena itu adalah Villa milik pribadi, tentu saja hanya bisa dinikmati oleh keluarga dan kerabat-kerabat dengan Laska. Dokter Laska sendiri jarang ke sini karena kesibukannya. Hanya sesekali saja. Dan hari ini Garrel membawa Yaya, Gavin dan yang lain terbang langsung ke tempat ini. Dulu ia sempat ingin mengajak Yaya ke sini, tapi belum dapat waktu yang tepat.
"Tempatnya bagus juga," ujar Bintang yang datang bersamaan dengan Gavin. Mereka memang datang bersama tadi, tapi dia dan Gavin masuk terlambat karena masih harus mengambil koper mereka di bagasi mobil.
"Putra dan Lini ke mana?" tanya Tama. Sejak tadi laki-laki itu berdiri di sebelah Garrel. Yaya sendiri yang mendengar nama tersebut berusaha terlihat biasa saja. Tapi Gavin jelas tahu kekasihnya tersebut tidak terlalu suka pacar kakaknya ikut.
Bukan Gavin yang mengajak Putra. Bukan berarti tidak mau kakaknya ikut dengan mereka. Tapi karena di sisi Putra ada Lini, jadi Gavin enggan mengajaknya. Namun ternyata tanpa Gavin tahu, Tama sudah mengajak mereka. Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa Gavin lakukan sekarang adalah tidak berinteraksi dengan wanita itu.
"Kamu di sini." Lini keluar dari pantry dengan wajah ceria. Putra mengikutinya dari belakang. Tatapan Lini berhenti pada Gavin.
"Gavin, kau sudah lapar? Makanannya sebentar lagi siap, tapi kalau kau sudah lapar, kau bisa makan roti yang aku beli dulu. Kau baru baik sakit, jangan sampai sakit lagi." kata wanita itu. Perkataan itu mungkin tampak biasa saja bagi yang lain, tapi tidak untuk Gavin dan Yaya. Juga Bintang yang sepertinya menangkap sesuatu yang lain. Bintang merasa sikap Lini ke Gavin memang sudah berbeda semenjak wanita itu terus mendesak ingin tahu semua jadwal pekerjaan Gavin, termasuk jadwal pribadinya. Ia pernah menanyakan itu ke Bintang. Alasannya Putra yang minta, tapi Bintang tahu wanita itu berbohong.
Sementara Putra yang berdiri dibelakang Lini, mengernyit bingung.
"Darimana kau tahu Gavin sakit?" tanyanya. Ia ingat sekali tidak pernah cerita masalah kesehatan adiknya kemaren.
"A ... Aku mendengarnya dari Bintang, iyakan Bintang?" ujarnya memberi alasan sambil menatap Bintang. Untung otaknya berpikir cepat.
"Hah?" Bintang cengo. Kapan dia bilang? Gavin sakit saja dia tidak pernah tahu. Baru dengar hari ini dari mulut wanita itu. Putra menatap Lini lurus. Entah kenapa dia merasa kekasihnya ini sedang berbohong.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Yang penting Gavin sudah sehat sekarang. Aku hanya khawatir pada adik kita. Aku akan memeriksa makan siang kita." kata Lini lagi mengalihkan pembicaraan.
Yaya menertawai kebohongan wanita itu. Astaga, kebohongan macam apa itu. Jelas sekali. Dasar bodoh.
"Sepertinya aku mencium bau-bau tidak sedap di sini," Garrel berbisik pelan ditelinga Yaya. Hanya Yaya yang dengar karena bisikan Garrel sangat pelan. Benarkan, Garrel saja bisa tahu hanya dengan sekali lihat. Kalau sampai kak Putra tidak sadar-sadar juga kekasihnya punya rasa yang terlarang pada Gavin, pria itu benar-benar bodoh.
"Yaya,"
"Mm?" gadis itu melirik Gavin.
"Kau tidur di kamar yang mana? Aku akan memasukan kopermu," gumam Gavin pelan. Tama dan Bintang sudah pergi entah kemana. Hanya tersisa Garrel, Yaya dan Gavin bertiga. Yaya lalu menunjuk kamar bagian tengah dengan telunjuknya. Membuat mata Garrel sukses melotot.
"Hey, itu kamarku!" cetus pria itu. Yaya tersenyum licik.
"Kau tidur di kamar lain saja. Bukannya masih ada banyak kamar? Jadi aku saja yang di situ. Pemandangannya pas untuk aku." katanya. Garrel terlihat dongkol. Dasar Yaya. Terpaksa dia harus mengalah.
"Ya sudah, seperti maumu saja," ucapnya membuat Gavin dan Yaya menertawai ekspresi dongkolnya. Gavin lalu menarik Yaya masuk ke kamar tersebut.