
"Aku sama sekali tidak menyangka gadis itu akan datang dengan sendirinya." ucap Raxel yang akhirnya bisa kembali ke ruangannya. Gavin duduk menghadapnya, terlihat berpikir keras. Sesaat kemudian pria itu mengangkat wajah dan menatap Raxel.
"Berikan CV-nya padaku. Aku ingin lihat." kata Gavin. Ia ingin tahu tempat tinggal Yaya saat ini. Pasti ada di surat lamaran kerja gadis itu.
Raxel berpikir sebentar menimbang-nimbang. Sebenarnya perusahaannya sangat menghormati karyawan dan melarang keras pegawai lain dengan bebas menyebarkan data pribadi karyawan mereka pada orang lain. Tapi saat ini Raxel tidak bisa menolak. Dia sendirilah sudah berjanji pada almarhum ayahnya untuk membantu Gavin menemukan perempuan yang pria itu cari. Dan Raxel tidak ingin ingkar janji. Ia juga tahu bagaimana perjuangan seorang Gavin dari dulu.
Sekarang perempuan itu sudah didepan mata, telah mereka temukan tanpa sengaja. Wanita itu datang dengan sendirinya. Artinya, Gavin dan gadis itu pasti berjodoh. Tidak ada salahnya sama sekali Raxel membantu menyatukan mereka.
Raxel minta maaf pada gadis bernama Yaya itu kali ini saja. Dia harus membantu Gavin. Lagipula Gavin adalah pria di masa lalu gadis itu, bukan orang asing. Sebagai balasan, Raxel tidak akan memperhitungkan sikap gadis itu yang pulang seenaknya di hari pertamanya masuk kerja. Kalau besok dia masih balik sih. Bisa saja kan dia tidak kembali lagi karena ingin kabur dari Gavin.
Lalu Raxel menyodorkan sebuah kertas berisi surat lamaran kerja sekaligus data diri Yaya pada Gavin.
Gavin membaca kertas tersebut dengan saksama. Pantas saja bertahun-tahun ini dia tidak pernah menemukan Yaya. Ternyata karena gadis tersebut berada di negara lain. Sesaat Gavin merasa lega ketika mengetahui Yaya tidak menyia-nyiakan hidupnya saat memutuskan pergi dulu. Gadis itu melanjutkan pendidikannya, bahkan Yaya melanjutkan pendidikan di sekolah dan kampus bergengsi diluar negeri dengan lulusan terbaik pula.
Tapi ada yang mengganjal di hati Gavin. Dulu Yaya pergi tanpa uang sepeserpun ditangannya. Gavin tahu dengan jelas pergi dan belajar ke luar negeri membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan terbilang sangat besar. Siapa kira-kira yang membantu Yaya? Tidak mungkin gadis itu banting tulang seorang diri. Bukannya tidak percaya pada Yaya. Tapi memang sulit dengan keadaan Yaya waktu itu untuk sampai ke luar negeri sendirian.
Gavin jadi penasaran. Pasti ada orang lain dibalik Yaya yang membantu gadis itu. Dan... Nama belakang gadis itu pun diganti. Bukan Rumyaya Sugion lagi. Tapi Yaya Adhitama. Pasti gadis itu sengaja mengganti identitasnya agar keberadaannya tidak diketahui. Buktinya orang-orang yang terus mencarinya tidak pernah berhasil menemukannya sampai sekarang. Atau jangan-jangan ada keluarga yang mengadopsi Yaya? Semuanya tampak masuk akal dengan identitas baru gadis itu sekarang.
"Mana alamatnya?" Gavin menaikkan wajahnya menatap Raxel. Dia sudah membaca kertas ditangannya berulang kali tapi tetap tidak menemukan yang dia cari.
"Tidak ada. Gadismu tidak menaruhnya di sana." sahut Raxel santai.
"Kenapa?"
"Mana aku tahu. Terserah gadis itu mau menaruhnya atau tidak. Aku tidak sempat bertanya tadi karena pikiranku langsung tertuju padamu saat melihatnya."
Gavin mengerang kesal. Tahu-tahu begitu dia sudah mengikuti Yaya diam-diam tadi. Agar tahu di mana gadis itu tinggal. Agar dia bisa diam-diam melihatnya tiap hari. Meski dari kejauhan. Tidak masalah dia akan di kira seorang penguntit nanti. Karena hanya dengan melihat wajah Yaya, dirinya baru bisa merasa lega.
"Langsung hubungi aku kalau Yaya muncul lagi besok." katanya dengan nada memerintah, sebelum akhirnya pergi meninggalkan kantor itu.
***
Besoknya...
"Dia kembali. Gadismu datang lagi. Sepertinya dia akan tetap kerja dikantorku."
sebuah pesan dari Raxel ke Gavin membuat lelaki itu buru-buru keluar dari kantornya menuju kantor Raxel. Ia sudah tidak sabar menunggu datangnya hari ini demi bisa melihat Yaya lagi. Dia pikir Yaya akan ingkar janji dan menghilang lagi, dan dirinya sudah merasa tidak tenang dari kemarin. Ternyata tidak. Gavin tersenyum tipis. Mulai sekarang dia akan melakukan apa saja demi mendapatkan hati Yaya lagi.
Sementara itu di Rax Corporation, Yaya sempat menghadap Raxel sebentar, dapat teguran ringan dari pria itu dan akhirnya diberikan kesempatan untuk tetap kerja di kantor tersebut. Dengan catatan tiga bulan percobaan. Kalau kerjanya baik, mungkin saja dia bisa di angkat menjadi pegawai tetap.
Beberapa karyawan kantor memang memperlakukan Yaya dengan ramah. Tapi tidak semua. Yang lain tidak begitu ramah. Termasuk salah satu wanita yang duduk di meja yang bersebelahan dengannya. Wanita berambut pirang yang di cepol. Wanita itu tidak menggubris Yaya ketika gadis itu menanyakan sesuatu.
"Yaya," gumam salah satu wanita berkacamata yang duduk di meja depan. Tak begitu jauh dari meja Yaya. Namanya Mia. Yaya menoleh.
"Mesin fotokopinya di lantai dua belok kiri. Jangan pedulikan Shinta, orangnya memang begitu." ujar Mia ramah. Yaya balas tersenyum ramah. Berbeda dengan Shinta yang langsung mendelik tajam ke Mia. Sedang Mia langsung pura-pura mengetik.
Yaya lalu bangkit dengan beberapa lembar kertas ditangannya yang akan dia fotocopy perbanyak. Ia tahu wanita bernama Shinta itu sedang menatapnya tidak suka, tapi dirinya tidak peduli. Ada banyak orang seperti itu yang sudah dia temui, dan menurutnya tidak penting. Tidak perlu di gubris.
Selesai mengcopy semua kertas tadi, Yaya memutuskan kembali ke lantai empat lewat tangga. Namun belum baru sampai di anak tangga ke ketiga, tanpa sengaja dia menginjak sesuatu dan hampir terpeleset. Untung seseorang datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkannya. Kalau tidak, mungkin saja kakinya sudah patah atau giginya copot. Memang sih kertas ditangannya tadi sudah jatuh berserakan ke bawah. Tapi yang penting adalah keselamatannya yang utama.
Orang yang menolongnya tadi masih berdiri sambil memeganginya dari belakang. Takut kalau dirinya jatuh lagi jadi tangan orang tersebut menekan pinggangnya kuat, dan menariknya ke paling atas. Orang itu lalu melepaskan genggamannya dari Yaya ketika di rasa telah berada di tempat aman.
"Te... Terima ka..," Yaya berbalik hendak memberikan terimakasih ke seseorang yang telah menyelamatkannya tadi namun perkataannya terhenti saat menyadari orang tersebut adalah Gavin.
Pria itu berdiri sangat dekat dengannya sambil tersenyum lebar, membuat jantung Yaya kembali tidak bisa di ajak kompromi.
Ya ampun, tenang Yaya. Tenang.