
"Oleskan ini pada lukamu," ujar Raxel menyodorkan salep yang dia ambil dari laci meja kerjanya. Yaya mengernyitkan kening.
"Luka?" memang dia merasa keningnya cukup perih bekas kena lemparan file tadi. Tapi menurutnya hanya tergores, sebelum kata luka keluar dari mulut bosnya.
"Oleskan saja cepat, jangan banyak tanya. Jangan sampai Gavin yang menyerangku kalau dia sampai melihat keningmu." kata Raxel. Memang dia paling malas berhadapan dengan Gavin, apalagi kalau masalahnya sudah berhubungan dengan Yaya. Pasti ribet jadinya. Apalagi semenjak Gavin tahu banyak yang bergosip tentang kekasihnya dikantor itu, ia selalu menelpon Raxel hanya untuk sekedar bilang agar dia menjaga kekasihnya baik-baik.
Raxel tak bisa menolak permintaan pria itu. Apalagi Gavin adalah salah satu investor terbesar di perusahaannya.
"Tidak sampai terluka. Anda tidak usah khawatir bos." kata Yaya merasa pria itu terlalu membesar-besarkan.
Raxel tergelak.
"Aku sama sekali tidak merasa menjadi bos di depanmu. Nasibmu perusahaanku ada di tanganmu. Selama kau baik-baik saja, Gavin tidak akan berbuat apa-apa padaku dan perusahaan ini. Kau mengerti maksudku bukan? Kekasihmu itu bisa gila kalau terjadi sesuatu padamu. Dan kalau itu terjadi dikantorku, nasib buruknya aku yang terima. Jadi aku mohon pengertianmu nona besar."
Giliran Yaya yang terkekeh. Ternyata bosnya ini takut pada Gavin. Semenakutkan itukah? Padahal menurutnya biasa saja.
"Oh ya, aku harap kau tidak dendam pada atasanmu tadi. Biar bagaimanapun dia sudah bekerja lama di perusahaan ini. Aku sendiri yang akan memecatnya kalau dia sampai melewati batas." kata Raxel lagi.
"Tenanglah, aku tidak sepicik itu."
"Aku tahu, ambil ini dan keluarlah sekarang." balas Raxel. Ia mulai merasa bicara pada Yaya seperti bicara pada seorang teman. Pria itu merasa cocok. Sepertinya mereka akan cocok menjadi teman. Yaya lalu mengambil salep yang diletakkan Raxel di atas meja lalu keluar.
***
Seperti dugaannya, Gavin memang bertanya tentang goresan di keningnya. Tapi Yaya beralasan kepalanya tak sengaja terbentur dinding waktu ke toilet. Dan Gavin tidak curiga. Ia hanya menegur Yaya supaya gadis itu memperhatikan langkahnya kalau berjalan, jangan sampai menyakiti diri sendiri. Mereka sekarang tengah berduaan di apartemen Gavin.
"Jadi kita akan kemana besok?" Yaya menenggelamkan tubuhnya dalam
rangkulan Gavin. Besok weekend, ia ingin mereka makan diluar.
Gavin mengecup pucuk kepala Yaya, tersenyum lembut, "Aku akan
mengajak kamu ke restoran tempat pertama kita berkencan saat jadian, kamu masih ingat?"
Tentu saja Yaya ingat. Restoran itu bernama 'Mask Tea' terletak
di pinggiran kota yang sejuk, sudah beberapa kali Gavin membawa Yaya makan malam di sana di kencan pertama mereka, awal-awal mereka jadian. Dan di tempat yang sama itulah, Gavin akan melamar Yaya. Tinggal tunggu waktunya.
"Aku ingat." Yaya tersenyum bahagia. Dia sudah kangen pergi ke restoran itu restoran itu lagi, ingin menghabiskan semua waktunya dengan pria yang dia cintai.
ya, kenakan gaunmu yang paling bagus, dan berdandanlah secantik
mungkin." Gavin menunduk, menatap mata Yaya yang bercahaya dan
penuh cinta, dia tidak bisa menahan dirinya untuk mengecup bibir
ranum kekasihnya itu, memujanya dengan penuh sayang.
"Kenapa pakai gaun? Ada acara?"
Gavin tersenyum misterius.
"Ikuti saja keinginanku. Aku mau kamu terlihat cantik besok." gumamnya lalu mencubit pipi Yaya dan mengecupnya berkali-kali.
Di tempat lain, Shinta memasuki sebuah rumah minimalis di kawasan elit. Sudah ada seorang wanita yang duduk sambil menyesap gelas berisi wine. Wanita itu terlihat cukup menakutkan saat menatapnya.
Brakkk!!
Shinta tidak sempat menghindar ketika gelas tersebut melayang ke kepalanya. Membuat bagian itu meneteskan darah segar. Shinta berusaha menahan sakit yang dia rasakan tersebut dan menunduk takut di depan sih wanita yang amat mendominasi tersebut.
"Wanita tidak berguna. Aku bilang jaga emosimu didepan perempuan sialan itu."
"M.. Maaf,"
"Kalau kau mengecewakanku lagi, aku tidak akan segan-segan menyingkirkanmu. Kau tahu seseorang sepertiku bisa melakukan apa saja bukan?" Shinta mengangguk dalam rasa takutnya.
"Apa yang harus aku lakukan besok?" tanya Shinta kemudian.
"Jangan lakukan apa-apa dulu. Kalau kau terus bertindak gegabah, Raxel bisa memecatmu. Tunggu perintahku. Biarkan saja gadis itu bebas. Sampai aku bisa menguasai harta kekasihku, akan lebih gampang menjalankan rencana kita. Kau pikirkan cara agar orang-orang menggosipkan gadis sial itu berpacaran dengan Raxel. Buat perusahaan itu terguncang. Itu akan sangat membantu kita. Waktunya tidak lama lagi, karena sebentar lagi harta kekasihku akan berpindah ke tanganku." wanita itu tersenyum jahat.
"Menurutku tidak akan berguna kita membuat gosip pacaran antara pak Raxel dan Yaya." ucap Shinta. Wanita itu langsung menatapnya tajam.
"Jangan mengaturku. Ikuti saja kataku!"
"B .... Baik kak Lini," ujar Shinta menunduk takut-takut. Ternyata wanita jahat itu adalah Lini. Lini tertawa jahat. Dia sudah mengatur segalanya. Menguasai harta Putra, menggelapkan dana perusahaan tanpa pengetahuan mereka semua, perlahan-lahan membangun usahanya dan mengambil alih perusahaan milik Raxel. Yang sudah ia rencanakan dengan matang. Itu menurutnya. Dan yang paling terakhir, membuat hubungan Gavin dan Yaya berakhir sehingga dia bisa menjadi kekasih masa depan pria itu. Ia sudah merencanakan semuanya. Dan kali ini, wanita jahat itu menggunakan Shinta sebagai kaki tangannya.
Lini tertawa keras. Ia percaya diri kalau semua rencananya pasti berhasil. Tinggal tunggu tanggal mainnya.