Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 87



Setelah Lini pergi dan Yaya menutup pintu, Yaya berdiri sejenak di sana, cemberut ke arah pintu. Merasa cemberu karena ada wanita lain selain dirinya yang diijinkan masuk ke tempat tinggal Gavin. Cukup lama ia berdiri di sana. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke ruang duduk.


"Aku mau berbaring sebentar," gumam Gavin lelah. "Kamu boleh buat apa saja. Kita bicara nanti soal mantan suamimu itu setelah keadaanku membaik."


Yaya menghela napas, menatap Gavin yang mencoba berdiri dengan agak terhuyung. Akhirnya ia mengambil keputusan. Ia menghampiri Gavin yang berjalan terseok-seok ke kamar sambil berpegangan pada dinding.


"Ayo aku bantu," katanya sambil memegang lengan Gavin. Gavin berhenti melangkah dan menunduk menatap Yaya, lalu matanya


beralih ke tangan Yaya yang memegang lengannya. Tentu saja ia merasa senang sang pacar amat memperhatikannya.


"Lihat ke depan, nanti kamu jatoh," kata Yaya tegas. Padahal dia berkata begitu karena tidak kuat dengan tatapan Gavin.


Gavin mengerjap, lalu mengangguk lemah.


"Ya... ya, jangan galak-galak pada orang sakit." kekehnya.


Yaya membantunya masuk ke dalam kamar dan menyelimutinya. Karena Gavin tidak berselera makan, Yaya harus memaksanya makan biskuit sedikit sebelum minum obat.


"Kamu terlihat kacau," kata Yaya ketika Gavin sudah berbaring kembali di tempat tidur setelah minum obat.


"Aku memang merasa kacau, karena sakit di kepalaku ini. Dan karena kamu." gumam Gavin. Namun kalimat terakhir ia hanya mengatakannya dalam hati. Lalu pria itu melanjutkan, "Aku hanya butuh tidur sebentar. Aku akan merasa lebih baik setelah bangun nanti."


"Baiklah," kata Yaya sambil mengumpulkan botol obat dan gelas-gelas kosong di meja di samping tempat tidur.


"Tidur saja."


"Soal pacar kakakku, aku sudah berusaha mengusirnya tapi dia memaksa masuk. Kau tidak akan berpikir macam-macam bukan?" ucap Gavin sebelum benar-benar tidur. Dia takut Yaya akan salah paham. Seperti dirinya salah paham pada gadis itu. Jadi dia harus menjelaskan yang sebenarnya.


"Mm, aku tahu. Tapi kamu pasti sadar dia memiliki perasaan terlarang padamu kan?" Gavin menatap Yaya. Ternyata gadis itu bisa melihatnya juga.


"Aku pernah bilang ke Putra, tapi dia tidak percaya. Katanya Lini tulus memperlakukanku sebagai adik. Kakakku itu sudah termakan cinta palsu pacarnya."


"Menurutku kamu harus menjaga jarak dengan perempuan itu."


"Sudah kulakukan. Hanya saja tadi memang aku yang lalai, sampai dia ada kesempatan. Maaf,"


"Lupakan, waktunya kamu tidur," ucap Yaya tidak mau membahas wanita yang berstatus sebagai pacar kak Putra lagi, tidak penting.


\*\*\*


Hari sudah menjelang sore ketika Gavin terjaga. Kepalanya masih terasa berat, namun tidak berputar-putar lagi. Ia turun dari tempat tidur dan menyadari bahwa kakinya juga terasa lebih mampu menopang tubuhnya. Ia meraba keningnya. Sepertinya suhu tubuhnya juga sudah turun. Bagus. Ia ingin cepat-cepat sembuh. Ia benci merasa tidak berdaya seperti ini.


Pandangannya menyapu sekeliling kamar. Kemana Yaya? Batinnya. Pria itu tidak mendapati keberadaan sang pacar. Apa sudah pulang? Tapi tidak mungkin. Yaya tidak akan berani pulang tanpa berpamitan kepadanya.


Ia kemudian bangun dan berjalan ke pintu, menatap keluar dan seulas senyum tipis muncul di wajahnya ketika melihat gadis yang dia cari tertidur pulas di sofa ruang depan.


Gavin melangkah ke arah Yaya yang ketiduran di sofa tersebut.


"Ternyata ada di sini. Aku pikir sudah pulang." gumamnya mengelus lembut pipi Yaya. Gadis itu terlihat sangat damai dalam tidurnya. Lalu dengan gerakan pelan dan amat lembut, Gavin menggendong gadis itu, memindahkannya ke kamarnya. Ia tidak tega melihat pacarnya tidur di sofa yang keras.


Pria itu terus membelai wajah Yaya penuh sayang dan mengecup keningnya.


"Kamu sangat cantik," gumamnya terus mengamati Yaya. Ia sangat ingin memiliki gadis itu secepatnya. Ia ingin mereka secepatnya menikah, tapi Gavin tahu masih ada beberapa kendala. Apalagi saat ini papa Yaya sakit parah. Pasti Yaya akan mengutamakan papanya dulu. Semoga papa gadis itu cepat pulih, agar mereka bisa menikah secepatnya.


Gavin terus menatap Yaya sampai bunyi dering telpon mengalihkan perhatiannya. Putra yang menelponnya ternyata.


"Kenapa?" sahutnya setelah menempelkan hp ditelinga.


"Aku dengar Yaya sudah ditemukan?"


Gavin menghembuskan napas. Dia pikir ada masalah apa hingga Putra sampai menelponnya.


"Ya, kau dengar dari siapa?"


"Barusan aku bertemu Tama, dia yang cerita. Katanya kau yang menemukan Yaya duluan," oh jadi begitu. Gavin pikir Putra tahu dari pacarnya Lini.


"Oh ya, bagaimana kondisimu?"


"Sudah membaik. Berkat Yaya yang terus mengurusku." sahutnya. Meski terkesan melebih-lebihkan, bagi Gavin ia merasa cepat sembuh karena keberadaan Yaya menemani disampingnya.


"Baguslah kalau begitu, kapan-kapan ajak Yaya bertemu denganku. Kita bisa makan bersama nanti,"


"Mm," hanya satu kata tersebut yang menjadi balasan Gavin sebelum mengakhiri pembicaraan mereka ditelpon.