
"Dia melarikan diri, wanita itu melarikan diri. Sekarang anak buahku sedang mencari keberadaannya, polisi juga." kata Raxel melirik Gavin dan Bintang bergantian. Hari sudah pagi. Dan dia baru balik dari kantor polisi. Penjahat yang menyakiti Putra dan Yaya semalam sudah diamankan.
Kini ketiga pria itu berbincang serius dalam kamar rawat Putra. Mereka sudah memindahkan Putra ke kamar lain, yang lebih bagus dan aman. Takutnya ada penjahat lain suruhan Lini yang berusaha menyakiti pria itu lagi.
"Untung semua dokumen penting perusahaan sudah aman. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi." tambah Raxel. Bintang bernapas lega. Ia masih tidak percaya Lini akan menjadi dalang dari semua kejahatan ini. Menyakiti pacarnya sendiri, bahkan mau merebut hartanya. Gavin disampingnya tampak diam. Merasa murka karena kakaknya ditipu habis-habisan oleh wanita itu.
"Bagaimana kalau dia melarikan diri ke tempat tinggal keluarganya?" tanya Bintang menatap Raxel. Pria itu menggeleng.
"Kami sudah memeriksa latarbelakangnya, dan ternyata dia tidak punya keluarga. Semua yang dia ceritakan tentang keluarganya hanyalah karangan belaka." Gavin mengernyit bingung, terus menatap Raxel.
"Wanita itu adalah perempuan yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan. Waktu SMA dia keluar dari panti asuhan dan bergabung dengan sebuah organisasi terlarang. Dan polisi mendapatkan sebuah fakta lain tentangnya tadi," jelas Raxel lagi dengan serius. Tentu Bintang dan Gavin makin penasaran.
"Wanita itu adalah salah satu bandar narkoba yang bekerja pada mafia yang sedang mereka incar selama ini." Bintang tercengang. Tidak menyangka. Ya ampun, perempuan seperti apa itu? Harusnya dia bersyukur dicintai dengan tulus oleh seorang laki-laki baik seperti Putra. Dia bahkan bisa melepaskan masa lalu kelamnya dan memulai hidup baru bersama Putra, tapi wanita itu malah memanfaatkan kebaikan Putra.
"Gavin...," suara Putra menghentikan percakapan tiga pria itu. Gavin menoleh lalu melangkah cepat ke dekat ranjang, membantu Putra duduk. Kakaknya masih lemas. Tapi Gavin tahu, perasaan hatinya jauh lebih buruk saat ini.
"Bang," gumamnya.
Putra menatapnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Yaya bagaimana?" tanya Putra. Ia ingat bagaimana Yaya dipukuli dengan brutal semalam karena mau menyelamatkan nyawanya.
"Sekarang masih di rawat, tapi sudah membaik. Garrel bersamanya." jawab Gavin. Dia ingin sekali memang melihat Yaya sekarang, tapi ia menahan diri. Masalah Putra jauh lebih penting. Kakaknya itu butuh penghiburan. Pasti sakit sekali mengetahui kekasihnya mengkhianatinya.
Dalam hal menemukan wanita yang baik, Gavin memang paling beruntung. Yaya adalah sosok perempuan sempurna dimatanya. Sekalipun dimata orang lain gadis itu memiliki banyak sekali kekurangan, tapi di mata Gavin, kekasihnya sosok yang sempurna. Tidak sia-sia dia menunggu bertahun-tahun.
"Maaf, Yaya berusaha menolongku hingga terluka. Aku hampir membuatmu kehilangan dia lagi." ujar Putra menyesal.
Gavin menggeleng.
"Bukan salah bang Putra. Semuanya salah Lini, dia bahkan kabur sekarang." raut wajah Putra makin sedih mendengar perkataan Gavin. Harusnya dia percaya ketika adiknya bilang kekasihnya mungkin memiliki niat lain pacaran dengannya. Harusnya dia percaya saat Gavin bilang Lini memiliki perasaan terhadap sang adik. Dan harusnya dia sadar dengan segala kebohongan yang keluar dari mulut Lini. Ia benar-benar sudah dibutakan oleh wanita itu.
Putra merasa marah. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berguna. Merasa bodoh, merasa tidak berdaya. Harusnya dia sadar dari lama. Harusnya dia sadar kalau semua yang Lini katakan adalah kebohongan belaka.
"Harusnya dulu aku percaya padamu," gumam Putra menyesal.
"Aku tidak menyangka akan menyukai wanita jahat sepertinya. Sebelum kecelakaan, kami bertengkar hebat. Raxel memberiku fakta tentang semua rencana busuknya. Dia sudah memanipulasi saham perusahaan, perusahaan kita hampir jatuh ke tangannya kalau Raxel tidak segera menemukan rencana jahatnya. Aku benar-benar menyesal." kata pria itu lagi. Sekarang yang ada dalam benaknya hanyalah penyesalan karena telah mencintai wanita busuk itu. Ia berterimakasih pada Raxel yang sudah membantunya.
"Kau tenang saja. Polisi dan anak buahku sedang mencarinya. Dia tidak bisa lari kemana-mana sekarang." ucap Raxel.
Sedang Gavin diam saja. Raut wajahnya terlihat menakutkan. Ia tidak akan cerita kalau dirinya diam-diam menyuruh suruhannya mencari keberadaan Lini. Ia harus memberi pelajaran pada perempuan itu. Ia akan membuat Lini merasakan apa yang Yaya rasakan. Gavin bersumpah, siapapun yang berani menyentuh kekasihnya, akan merasakan betapa kejamnya seorang Gavin.
Putra yang duduk di kasur menghela napas. Terserah apa yang akan mereka lakukan terhadap Lini. Ia tidak peduli lagi. Sekalipun Lini berlutut minta ampun padanya, dia tidak akan tertipu lagi. Dari dulu yang paling Putra benci adalah pengkhianatan.
"Aku harus ke ruangan Yaya sekarang," ucap Gavin kemudian. Putra mengangguk.
"Pergilah," katanya.
"Kabari aku kalau anak buahmu menemukan wanita itu." ujar Gavin menatap Raxel.
Raxel mengangguk. Setelah itu dia juga pamit ke kantor.